nuto dan kamto
dua hari lalu, saya bersama nuto & kamto, memancing di sungai mahakam. lokasi yang kami pilih adalah sebuah dermaga kecil di anggana, 30 menit dari samarinda.
kami bertiga tahu betul bahwa kondisi air tidak cukup bagus untuk memancing. selain keruh karena sehari sebelumnya turun hujan lebat, juga jadwal pasang surut yang tak cocok. tapi, seperti biasa, kami tak pernah membatalkan rencana memancing jika sudah disepakati, kecuali ada kondisi luar biasa. tak banyak hasil yang kami dapat. hanya 3 ekor udang dan 5 ekor ikan ukuran sedang. beberapa ikan kecil kami lepas kembali, seperti biasa, tak layaklah.
kamto membawa pulang 3 ekor udang seukuran dua kali jempol orang dewasa, buat sahur katanya. nuto memutuskan membawa pulang tiga ekor ikan seukuran lengan orang dewasa, juga buat sahur katanya. sedangkan saya, tak membawa apa-apa. karena selain saya memang tidak mendapatkan ikan, juga masih ada sayur daun singkong made in saya sendiri yang bisa dipakai sahur.
kemarin, kami kembali berkumpul. nuto menyesalkan keputusannya membawa pulang ikan hasil memancing dua hari lalu. semua bertelur, itu alasannya. sedangkan kamto justru menyayangkan mengapa udang yang ia dapatkan bukan yang sedang bertelur. telur udang sangat gurih, begitu lanjutnya.
nuto dan kamto, seperti dua kutub yang berbeda buat saya. nuto pantang untuk melemparkan puntung rokok-nya ke sungai. nuto selalu mengantungi kembali semua potongan bungkus makanan ringan sekecil apapun potongan itu. nuto akan bersungut-sungut jika menemukan gumpalan plastik tersangkut mata kail-nya, lalu serentetan gumam akan meluncur deras. "plastik ini baru bisa hancur 100 tahun lagi, goblok!", lamat-lamat kalimat itu selalu saya dengar. nuto tak akan pernah membawa pulang ikan atau udang yang ia tahu sedang bertelur. karena itu, tidak heranlah saya jika kemarin wajah muram penyesalannya tak hilang sampai kami kembali ke rumah masing-masing. adapun bagi kamto, ia adalah gambaran umum para pemancing samarinda. ia akan lebih senang menangkap ikan atau udang yang sedang bertelur dan tak pernah merasa keberatan untuk melemparkan potongan besar bungkus makanan ringan ke sungai atau kemanapun. bagi kamto, memancing adalah hobi, tak ada hubungannya dengan soal bertelur dan kemana bungkus makanan ringan bermuara.
nuto memulai sebuah aturan dalam kelompok kami, sekelompok kecil pemancing. ia menyatakannya dengan senyum, bahwa saat kami mancing bersama, setiap kali satu diatara kami kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya, maka akan ada 'pengurangan point'. tak pernah ada kesepakatan bulat tentang point ini, tetapi sepertinya kami semua sepakat bahwa pengurangan point berati penambahan rasa malu. itu saja. aturan ini manjur. kamto yang menjadi salah satu korban atas aturan ini, kini menjadi reminder untuk kelompok kami. satu kali rasa malu rupanya cukup untuk merubahnya. saya tersenyum senang melihatnya, tetapi nuto biasa saja. kamto berubah karena kamto ingin berubah, bukan karena saya, begitu nuto bilang berkali-kali. saya tersenyum, sebenarnya sambil membuang malu, karena menghitung jasa.
bagi nuto, kamto justru pahlawan sesungguhnya. berani berubah, bahkan menjadi martir. nuto sendiri tak pernah menganggap dirinya berarti dalam perubahan kamto. karena menurutnya, masih banyak perilaku kawan pemancing kami yang jauh lebih dahsyat dari kamto yang dulu.
nuto masih terus berlaku seperti apa yang ia ingin lakukan. saya tidak pernah merubah apa-apa, katanya.
Posted by
Panthom
at
01:16:46
|
Permanent Link
|
|