27 of Maret, 2006

tidak tau harus bagaimana

Dua hari lalu saya mendapat telepon.  Kawan saya, juragan pancing itu, mengalami musibah di Jakarta.  Ia sekeluarga hendak makan malam saat mobil yang ditumpanginya bertabrakan (ditabrak, lebih tepatnya) sebuah sepeda motor.  Mobil dan sepeda motor rusak parah, ujarnya.  Penumpang mobil tak tergores barang secuilpun.  Kecuali si sopir yang shock.  Si sopir ini adalah sopir sewa yang biasa ia 'pakai' jika ada acara besar semacam malam itu.  Yang naas adalah pengendara sepeda motor itu.  Ia tak sadarkan diri seketika.

 

Posted by Panthom at 11:31:44 | Permanent Link | Comments (1) |

21 of Maret, 2006

capek dia

dua bulan sudah saya tidak menuliskan sesuatu pada blog ini. bukan karena tak ada yang saya lakukan. justru karena banyak pekerjaan. fasilitasi di empat propinsi di timur indonesia, fasilitasi kelompok multipihak untuk isu sawit di kalteng dan pelatihan untuk fasilitator sekolah demokrasi di kupang, itu semua sebenarnya banyak memberikan saya pelajaran berharga. nantilah saya ceritakan semua. masih lelah kepala saya.

saya hanya ingin cerita sedikit soal sms yang saya terima tadi sore. berasal dari rudi aneh itu. ternyata dia mendapat beasiswa NEC-LEIDEN. Juli ini dia akan pergi ke belanda, studi. saya hanya membalas pendek "selamat, dan harus bangga". manusia aneh itu ternyata capek juga untuk menipu dirinya sendiri.

 

Posted by Panthom at 02:21:55 | Permanent Link | Comments (4) |

03 of Januari, 2006

rudi



orang aneh.  begitu komentar saya saat pertama kali ditanya oleh kawan soal dia.  Rudi namanya, saya gak tau nama lengkapnya.  aneh menurut saya karena memang perilaku dan beberapa pengakuannya cukup aneh.  sedikit terasa  ada yang ia tutupi.
Posted by Panthom at 23:00:11 | Permanent Link | Comments (1) |

06 of November, 2005

inspiring people

harus diakui, setidaknya dua blog rajin saya kunjungi, hanya untuk membuat saya lebih hidup.  ini bukan soal siapa bloggers itu, tapi apa yang mereka tuliskan, membuka inspirasi saya.  bukan untuk diikuti, tapi mereka meng-inspirasi saya.

dan orang-orang seperti merekalah yang sesungguhnya memberikan perubahan, setidaknya buat saya.  kunjungi dani dan ade, jika tidak suka tak apa, setidaknya saya ingin berbagi sumber inspirasi saya.

bahkan saya mengetik ini sambil tersenyum membaca blog mereka...

 
Posted by Panthom at 09:23:09 | Permanent Link | Comments (1) |

31 of Oktober, 2005

nuto dan kamto

dua hari lalu, saya bersama nuto & kamto, memancing di sungai mahakam.  lokasi yang kami pilih adalah sebuah dermaga kecil di anggana, 30 menit dari samarinda. 

kami bertiga tahu betul bahwa kondisi air tidak cukup bagus untuk memancing.  selain keruh karena sehari sebelumnya turun hujan lebat, juga jadwal pasang surut yang tak cocok.  tapi, seperti biasa, kami tak pernah membatalkan rencana memancing jika sudah disepakati, kecuali ada kondisi luar biasa.  tak banyak hasil yang kami dapat.  hanya 3 ekor udang dan 5 ekor ikan ukuran sedang.  beberapa ikan kecil kami lepas kembali, seperti biasa, tak layaklah.

kamto membawa pulang 3 ekor udang seukuran dua kali jempol orang dewasa, buat sahur katanya.  nuto memutuskan membawa pulang tiga ekor ikan seukuran lengan orang dewasa, juga buat sahur katanya.  sedangkan saya, tak membawa apa-apa.  karena selain saya memang tidak mendapatkan ikan, juga masih ada sayur daun singkong made in saya sendiri yang bisa dipakai sahur.

kemarin, kami kembali berkumpul.  nuto menyesalkan keputusannya membawa pulang ikan hasil memancing dua hari lalu.  semua bertelur, itu alasannya.  sedangkan kamto justru menyayangkan mengapa udang yang ia dapatkan bukan yang sedang bertelur.  telur udang sangat gurih, begitu lanjutnya.

nuto dan kamto, seperti dua kutub yang berbeda buat saya.  nuto pantang untuk melemparkan puntung rokok-nya ke sungai.  nuto selalu mengantungi kembali semua potongan bungkus makanan ringan sekecil apapun potongan itu.  nuto akan bersungut-sungut jika menemukan gumpalan plastik tersangkut mata kail-nya, lalu serentetan gumam akan meluncur deras. "plastik ini baru bisa hancur 100 tahun lagi, goblok!", lamat-lamat kalimat itu selalu saya dengar.  nuto tak akan pernah membawa pulang ikan atau udang yang ia tahu sedang bertelur.  karena itu, tidak heranlah saya jika kemarin wajah muram penyesalannya tak hilang sampai kami kembali ke rumah masing-masing.  adapun bagi kamto,  ia adalah gambaran umum para pemancing samarinda.  ia akan lebih senang menangkap ikan atau udang yang sedang bertelur dan tak pernah merasa keberatan untuk melemparkan potongan besar bungkus makanan ringan ke sungai atau kemanapun.  bagi kamto, memancing adalah hobi, tak ada hubungannya dengan soal bertelur dan kemana bungkus makanan ringan bermuara.

nuto memulai sebuah aturan dalam kelompok kami, sekelompok kecil pemancing.  ia menyatakannya dengan senyum, bahwa saat kami mancing bersama, setiap kali satu diatara kami kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya, maka akan ada 'pengurangan  point'.  tak pernah ada kesepakatan bulat tentang point ini, tetapi sepertinya kami semua sepakat bahwa pengurangan point berati penambahan rasa malu. itu saja.  aturan ini manjur.  kamto yang menjadi salah satu korban atas aturan ini, kini menjadi reminder untuk kelompok kami.  satu kali rasa malu rupanya cukup untuk merubahnya.  saya tersenyum senang melihatnya, tetapi nuto biasa saja.  kamto berubah karena kamto ingin berubah, bukan karena saya, begitu nuto bilang berkali-kali.  saya tersenyum, sebenarnya sambil membuang malu, karena menghitung jasa.

bagi nuto, kamto justru pahlawan sesungguhnya.  berani berubah, bahkan menjadi martir.  nuto sendiri tak pernah menganggap dirinya berarti dalam perubahan kamto.  karena menurutnya, masih banyak perilaku kawan pemancing kami yang jauh lebih dahsyat dari kamto yang dulu.

nuto masih terus berlaku seperti apa yang ia ingin lakukan.  saya tidak pernah merubah apa-apa, katanya.



Posted by Panthom at 01:16:46 | Permanent Link | Comments (1) |

10 of May, 2005

sutewe

Sutewe abdul manaf, begitu aku memberinya nama.  Temanku, yang harusnya menjadi kakakku ini memang sedikit unik.  Bukan Cuma gaya-nya, langkah kerjanya juga unik, tapi cenderung patut ditiru.

Soal nama, bukan sembarangan, aku sebut Sutewe Abdul Manaf, karena memang kupikir (namanya juga kupikir) mirip memang nama aslinya, lalu aku tambah dengan nama yang mirip dengan pejabat teknis kehutanan di propinsi, lucu saja, gak ada tendensi, sih.

Gayanya itu yang mengesankanku... kalem, menanggapi dengan hati-hati, tidak tendensius, datar, bahkan sering menyentuh sisi kemanusiaan,  ini yang sering bikin aku garuk-garuk kepala..

Tapi, gaya itu juga yang sering bikin orang lain menilai rendah (ini bahasa inggrisnya "under estimate", kan?).  padahal, kalo saja orang-orang itu tau betapa dia mampu mengatasi berbagai persoalan, walaupun "slow".. begitu kata yono.or.id..

Kenapa aku blog namanya disini? Gak apa, aku kangen aja. Gak boleh??

 

 

Posted by Panthom at 17:33:36 | Permanent Link | Comments (2) |