19 of September, 2005

pilkada milik siapa

Pukul setengah sebelas siang, 19 september 2005, saya menuju rumah ketua RT untuk mengambil kartu pemilih. Bukan karena saya warga yang tak baik, tapi RT kami mendekati RT teladan.  Jangankan soal pilih-memilih begini, soal rumput di depan rumahpun akan jadi urusan kalau nampak tak rapi. Jadi, kartu pemilih tidak ia serahkan lantaran saya tidak pernah ada di rumah pada siang hari.

Pukul setengah duabelas siang, baru kemudian saya pergi ke TPS.  Sempat bingung dengan undangan yang ada di tangan. Masalahnya, disebutkan disitu untuk TPS 38, sedangkan Nomor Urut ada pada Daftar Pemilih Tetap untuk TPS 41. Setelah tanya tetangga, tak masalahlah, yang jelas nama saya ada di TPS 38. Tanpa menunggu, serahkan kartu pemilih, ambil kertas suara, pergi ke bilik.  Tanpa melihat wajah calon lainnya, saya langsung mencoblos gambar calon Walikota pilihan saya.  Walaupun sempat bingung sedikit, mau coblos di wajahnya atau di angka? Lalu saya putuskan coblos di ruang kosong, tetapi masih dalam kotak antara angka dan wajah calon.  Masukkan kertas suara ke kotak suara, setelah sedikit bingung lagi dan sempat bertanya, petugas --tanpa bicara-- menunjuk tinta yang tersedia di meja.  Seperti bisa membaca bahasa isyarat, saya langsung mengerti bahwa saya harus mencelupkan salah satu jari saya untuk menandakan sudah memilih.  Selesai sudah hak saya gunakan.  Tinggal menunggu hasil perhitungan suara.  Saya berlalu dari TPS, toh hasil bisa saya ketahui lewat telepon atau sms, atau kapan-kapanlah.

Sekembali dari TPS, saya menyibukkan diri bersama kawan-kawan.  Seorang kawan sambil senyum-senyum mengatakan bahwa ia punya tiga kartu pemilih, karena namanya terdaftar di tiga RT dalam wilayah kota Samarinda, toh ia tidak memilih.  Saya hanya meringis, walaupun itu sebuah kesalahan, bukankah itu biasa terjadi?  Satu teman saya malah asyik nonton tv, dan cuma mengangkat bahu waktu saya tanya apakah dia nyoblos atau tidak. Satu teman lagi dengan lantang bicara bahwa tidak satupun calon yang ia sukai, ia pun tak memilih. Jangan tanya saya fenomena apa ini.  Saya sedang tidak punya teori untuk ini.

Sore, pukul empat, saya mendengar hasil sementara. Saya sedikit heran. Bukan karena hasilnya sudah bisa saya duga, dan bukan juga hasilnya tak terduga.  Saya justru heran dengan diri saya sendiri.  Mengapa saya tidak merasakan sesuatu yang istimewa saat saya menggunakan hak pilih dan setelah mendengar hasil sementara ini?  Mengapa tidak ada sesuatu yang muncul dalam hati saya, bahkan tidak secuilpun.  Sungguh saya merasa aneh.  Saya bertanya-tanya, apa makna pilkada ini untuk saya? Adakah hak pilih saya itu hanya sebuah rutinitas belaka? Ataukah saya sama saja dengan ketiga kawan saya itu? 

Lalu saya bercuriga, bahwa saya memilih untuk tidak berarti apa-apa.


Posted by Panthom at 17:11:00 | Permanent Link | Comments (1) |

14 of September, 2005

Surat Untuk Para Calon Walikota Samarinda

Para Calon Walikota Samarinda, selamat malam.

Saya ucapkan selamat kepada anda semua, setidaknya selamat untuk menjadi calon Walikota Samarinda.  Apapun motivasi dan cara yang anda lakukan, menjadi calon Walikota pasti bukanlah pilihan mudah. Entah apakah sejumlah uang atau seember keringat atau satu truk petuah yang telah anda keluarkan, yang jelas menjadi calon Walikota pasti butuh pengorbanan, apapun itu.  Setidaknya, harus diakui bahwa CV anda bertambah karenanya. Selamat.

Begini, sedikit hal yang ingin saya sampaikan kepada anda semua, berkenaan dengan posisi anda sebagai calon Walikota Samarinda.  Saya tidak tahu apakah ini semua bermanfaat untuk anda, tetapi sebagai warga Kota Samarinda, saya merasa harus menyampaikan ini, karena saya merasakannya.

Pertama, soal bagaimana massa anda berkampanye.  Saya tidak tahu apakah anda memperhatikan bagaimana massa anda berkampanye (untuk anda).  Pengalaman nyata saya, ketika terjebak dalam rombongan kecil massa kampanye dari salah satu dari anda menunjukkan bahwa betapa mereka, para orang-orang yang konon mendukung anda itu, telah melakukan hal yang menakutkan bagi kami warga Samarinda, yang sesungguhnya adalah lumbung suara bagi Anda.  Di simpang empat Vorfo, serombongan masa itu menerobos ramainya lalu lintas sambil membunyikan klakson semua kendaraan mereka dan berteriak-teriak memerintahkan semua kendaraan untuk menyingkir, termasuk kendaraan yang saya kendarai.  Di depan saya, sebuah mobil tua berjalan pelan, tak peduli, bahkan cenderung memperlambat lajunya, tak juga menepi, justru bertahan di tengah jalan.  Pada awalnya saya heran, mengapa pengendara mobil ini seolah tidak memperdulikan teriakan dan klakson dari massa kampanye calon Walikota, yang lebih terdengar sebagai teror, itu?   Perkiraan saya, setidaknya ada dua kemungkinan.  Pertama, si pengemudi tidak mendengar, karena mobilnya dilengkapi peredam suara yang cukup baik, atau kedua, si pengemudi kemungkinan bekerja sebagai tentara atau tokoh preman kota ini (bukankah biasanya hanya tentara dan tokoh preman yang tak peduli dengan hal begini? Setidaknya tidak takut lah..).  Ternyata perkiraan saya salah.  Sesaat setelah saya berhasil mendahului mobil tua itu, nampak lebih dekat oleh saya fisik mobil tua itu.  Jelas, tidak mungkin mobil penuh lubang dan karat itu mempunyai peredam.  Lalu, terlihat oleh saya sang pengemudi nekat itu.  Ia seorang perempuan tua, mungkin diatas 50 tahun, yang justru terlihat bingung dan panik.  Sekali lagi, perkiraan saya salah!

Tetapi, wahai para calon Walikota sekalian, bukan hanya itu yang membuat saya terpukau.  Sesaat setelah saya berada di depan mobil si ibu tua itu, saya menyempatkan melirik spion (tindakan rutin setiap pengendara setelah mendahului, bukan?).  Saya hanya dapat menahan nafas saat menemukan pemandangan yang tidak nyaman dari spion saya.  Sebagian dari massa itu, yang berkendaraan sepeda motor, kemudian mendahului si Ibu tua pengemudi mobil tua itu sambil berteriak kearahnya, meraung-raungkan mesin sepeda motor, dan membunyikan klakson tak henti.  Saya tidak mendengar jelas apa yang mereka teriakkan.  Tapi dari gerakan tangan dan sepeda motornya, gampanglah ditebak bahwa massa itu memerintahkan si ibu tua mempercepat mobilnya, atau segera menepi.  Maksudnya tentu agar rombongan mereka tidak terhalang.

Sampai disitu saja pemandangan itu, karena saya segera berkonsentrasi dengan lalu lintas di depan saya.  Saya tidak mau terlihat konyol karena menabrak pengendara di depan saya yang juga terburu-buru menghindari raungan kendaraan dan klakson massa itu.  Bukan main, kami semua, puluhan pengendara jalan raya, yang bukan bagian dari massa itu, seketika menjadi orang-orang yang mahir mengendara dengan kecepatan tinggi.  Bukan, bukan karena kami tiba-tiba berubah menjadi Power Ranger, film anak-anak itu.  Bukan pula karena kami tiba-tiba  kebelet pipis, lalu ingin cepat pulang.  Kami serempak melaju karena kami tak ingin massa itu mendekati kami dan lalu memekaki kami dengan klakson dan teriakan mereka.  Lebih jauh, kami tak ingin babak belur konyol kalau kemudian kami salah kecepatan dan kemudian bersenggolan dengan mereka, dan kemudian ..... ya anda betul, mungkin puluhan bogem mentah dengan senang hati menghiasi wajah kami.

Calon Walikota Samarinda, pasti anda ingin bilang, bahwa itu semua bukan bagian dari kampanye anda.  Atau mungkin anda akan bilang itu semua diluar kendali anda.  Atau bahkan anda mau bilang itu bukan massa anda.  Boleh-boleh saja.  Dan jangan harap saya mau menyebutkan dari calon mana massa itu berasal.  Jangan harap.  Saya hanya mau bilang, betapa bahwa perilaku massa itu justru menimbulkan antipati dari kami, pengguna jalan, masyarakat biasa, lumbung suara anda. 

Calon Walikota, kami tidak butuh sesuatu yang sulit untuk anda penuhi.  Hanyalah kenyamanan beraktivitas, kenyamanan berusaha dan keamanan dari orang-orang dekat kami.  Kalau dalam masa kampanye ini saja anda tidak dapat memenuhinya, lalu bagaimana kami yakin harus memilih anda?  Lupakan suara dari kami!  Maka kemudian, adalah sebuah keheranan yang amat sangat bagaimana anda bisa memenangkan tampuk pimpinan Walikota Samarinda?  Dari mana simpati itu berasal wahai Calon Walikota?   

Sekali lagi, lupakan suara kami.  Dan jangan bermimpi kami serahkan suara kami untuk anda.

Ini hanya satu sisi dari penilaian saya terhadap anda.  Jika saya berkesempatan, saya akan tuliskan sedikit tentang materi-materi kampanye anda, yang sebagian adalah kemustahilan dan ketidak rasional-an itu.  Jika saya ada waktu dan mood tentunya.

Satu hal, saya hanya akan memilih calon yang santun.  Track record tentunya yang jadi indikator.

Selamat malam..

Posted by Panthom at 00:05:58 | Permanent Link | Comments (3) |

31 of Agustus, 2005

Pelayanan Publik

Memualkan, itu kata pertama jika saya ditanya tentang pelayanan publik di negeri Samarinda dan sekitarnya.

Senyum dan keramahan adalah sebuah kelangkaan di negeri ini.  Anda adalah raja, karena anda adalah konsumen.  Kalimat itu bohong belaka.  Di negeri samarinda ini, wajah mencibir dan bentakan yang akan lebih sering kita dapatkan saat kita akan, sedang dan setelah menggunakan (dengan membayar tentunya) jasa.

Mari mengulang kejadian saja.  Saya mengalami sendiri, dari supir angkot, petugas SPBU, penjual barang, pramuniaga, kasir, satpam, petugas parkir sampai pada dokter!  Saya heran, dengan kualitas pelayanan semacam itu, masih juga mereka menangguk keuntungan! 

Ya, tentunya ini juga berkaitan dengan perilaku konsumen juga, ataukah ini persoalan tak ada pilihan? Bayangkan saja, banyak diantara kita akan memilih membeli barang murah di tempat berpelayanan buruk daripada beli barang dengan sedikit mahal (100 rupiah) di tempat berpelayanan sedikit lebih baik.. mengapa begitu?

Saya tidak ingin berbelok pada penyebab perilaku konsumen, walaupun secara kasar dapat kita pastikan bahwa kemampuan finansial adalah faktor penyebab terkuat perlaku ini.

Saya ingin lebih fokus pada perilaku para penjual jasa di negeri ini. Wakil Direktur Bagian Pelayanan RSU AWS Samarinda misalnya, dengan enteng menyatakan bahwa "wajar kalau perawat di RSU AWS judes dan tidak ramah, karena yang dilayani banyak orang".  Ini sebuah gambaran betapa bahwa seorang Wakil Direktur (bagian Pelayanan, pula!) tak memiliki jiwa pelayanan publik.  Bagaimana mungkin kuantitas konsumen dijadikan alasan untuk membenarkan buruknya mutu pelayanan? Pertanyaannya tentunya, bagaimana ia bisa mengemban jabatan itu? Sudah seharusnya ia diganti!  Karena, selain sense of services-nya buruk, juga tidak mencerminkan kenyataan yang ada, karena dalam pengalaman saya, pelayanan yang diberikan oleh para perawat RSU AWS sudah amat jauh lebih baik dari beberapa tahun yang lalu.  Inilah potret pemimpin yang tak berakar!

Lalu, bagaimana mensikapi ini semua? Sebagai konsumen individual, tentunya power yang kita miliki hanyalah yang bersumber dari diri kita sendiri.  Bagi mereka yang ingin menggunakan jasa YLKI, silahkan.  Tetapi ini yang saya lakukan:  Saya tak akan lagi membeli BBM di SPBU Tenggarong Seberang (dekat jembatan), dan tidak akan lagi berbelanja di sebuah toko sembako di Sempaja, juga tidak akan berbelanja di sebuah toko sembako di jalan Dr. Soetomo samarinda, juga karena pelayanan mereka amat sangat buruk.  Apakah ini berarti untuk mereka? Saya tidak terlalu peduli, yang penting buat saya adalah keyakinan kontribusi atas respon mutu pelayanan mereka. Itu saja.

Posted by Panthom at 18:33:32 | Permanent Link | Comments (10) |

24 of May, 2005

helm standart dan hukum pasar


rekans,
 
mending fokus di penegakan aturan yang menyedihkan, bukan pada satu hal, harga helm.
 
aneh juga, soalnya bukannya aturan berkendara yang mewajibkan penggunaan helm standart sudah ada sejak diberlakukannya PP 44/93 (setelah ada penundaan UU 14/92)? jadi, harusnya sudah ada penegakan sejak itu.  nyatanya kompromi-nya beda-beda tiap wilayah.
 
flashback saja;  seingat saya (mohon betulkan saya kalo salah): ada penolakan (besar-besaran) saat mulai diberlakukannya wajib helm di samarinda, lalu perlahan mulai bisa diterima karena penegakan cukup konsisten.  lalu muncul berbagai bentuk helm, termasuk "helm proyek", yaitu helm yang harusnya hanya dipergunakan pada kerja konstruksi atau untuk keperluan safety pekerja. dibiarkan cukup lama, lalu kemudian ditertibkan, dan yang berlaku adalah yang kebanyakan digunakan sampai saat ini, yaitu "helm kura-kura" (entah apa nama resminya).  pada tengah perjalanan, saya ingat juga ada sosialisasi penggunaan "helm standart" pada pengemudi sepeda motor yang berada di depan, sedangkan yang dibelakang cukup helm kura-kura.  ini kemudian direspon beragam, ada yang setuju, lebih banyak yang menggerutu.  kenyataannya, ini tidak ditegakkan secara bener, sehingga para pengendara sepedamotor lebih banyak menggunakan helm kura-kura itu tadi.
 
lalu, sekarang mulai ditegakkan kembali, "helm standart".... dan karena itu, berdasar pengalaman samarinda, wajar kalau ada penolakan (dan juga gugatan) atas penegakan (saya bilang begitu, bukan pemberlakuan) ini.  karena memang pada sejarahnya penegakan aturan di negara samarinda ini parah amit!
nah, jadi, bukan perkara bagaimana "standart" itu, dan bukan pula perkara berapa harga helm.  tapi memang kepuasan atas konsistensi penegakan-nya yang lebih berpengaruh.  sekali lagi, ini berdasarkan analisis awam saya soal perilaku pengendara sepedamotor di samarinda, bukan kajian mendalam.
 
kalo boleh sedikit usul, mending yang disorot soal lemahnya penegakan itu sendiri.  dimana sebenarnya titik buntu-nya?  contoh kecil (tapi sumpah mampus bikin saya dongkol minta ampun) adalah perilaku para polisi-polisi ber-motor trail yang suka kebut-kebutan (yang menurut saya gak ada alasan jelas-nya) di jalan raya.  lha? apakah karena punya kewenangan untuk memberantas kejahatan (kayak spiderman, ya?) lalu boleh mengabaikan keselamatan pengendara lainnya?  kalau karena kebut-kebutan itu, lalu terjadi tabrakan antara sang polisi nan gagah berani itu dengan masyarakat sipil, berani taruhan, si masyarakat sipil pasti ditaruh pada posisi salah bin dosa. :-(
 
contoh pengalaman yang tadi siang saya alami, di sebuah jalan kecil (ah, lupa namanya, jalan satu arah dari Hidayatullah menuju Mulawarman), yang terkenal super macet itu, saya melintas.  tiba-tiba, seperti penguasa jalanan, sebuah mobil patroli polisi (bukan patroli lalu lintas, mungkin karena itulah!) memotong didepan saya.  jika saja saya tidak mendadak berhenti, mungkin sudah saya "cium" itu mobil patroli!!  nah, kalau para penegak hukum saja memperlakukan hukum seperti itu, lalu siapa yang harus ditiru? saya kira kedongkolan-kedongkolan "kecil" seperti ini, kalau dijumpai setiap hari, jadi akumulasi juga.  kompensasinya apalagi kalau bukan hit the rule, tabrak aja aturan, toh yang menegakkan juga melanggar.
 
soal yang disebut penggalangan dana, saya kira wajar saja.  seperti yang disampaikan Mas Heri, ini hukum pasar, supply-demand. 
bahwa ada konstelasi dari pembagian keuntungan atas penjualan helm, mungkin saja ada benarnya.  tapi, harus diuji dan dibuktikan.  siapa yang diuntungkan? kapolres? walikota? atau pengusaha?
kalau yang diuntungkan kapolres atau walikota, bagaimana alurnya? sekian persen dari rupiah penjualan helm? siapa yang jualan helm? apakah pemasok helm di samarinda dimonopoli seorang pengusaha saja? apakah pengusaha itu ada perjanjian khusus dengan pengambil keputusan penegakan ini? bagaimana membuktikan ini? DPRD punya kekuasaan untuk membuktikan ini? apakah mereka mau pakai kekuasaan itu? kalau mau ya syukur, kapan? kalo gak mau, kenapa? ..... (awas hati-hati, anggota dewan itu kita juga yang milih, kan?  ujungnya, salahnya ke kita juga...he..he..
 
kalo saya sih, simpel aja.  karena saya ngak nemukan aturan yang secara gamblang bilang "kriteria helm standart adalah...." (sialnya referensi saya cuma UU 14/92 & PP 44/93), dan saya hanya menemukan kriteria itu dalam himbauan-himbauan (dan seingat saya pada spanduk dan semacam baliho), maka saya ambil keputusan pake helm yang aman menurut saya.  yang kalo saya "tejerungkup" tidak akan membuat otak saya jadi saus tomat-nya aspal. :))  gak perlu yang "mahal" (relatif, nih), yang penting aman.  kalo ternyata kemudian keserempet truk karena mereka seperti penguasa jalanan (kata Mas AdeTimpakul), ya itu gak ada hubungannya dengan standarisasi helm versi saya, kan? nasib deh..
motor ya saya lengkapi aja.  spion & surat-surat.  syukur-syukur semua fungsi fisik motor bisa bekerja baik; rem, lampu penanda arah, lampu rem, dll. 
toh kalau semua lengkap dan kita merasa aman, gak ada masalah untuk berkendara.  saya sih gak ada urusan dengan polisi-polisi itu, sepanjang mereka gak ganggu, kan?
 
eh, saya jadi inget soal SponsBob & Dora, kartun di tivi yang lagi ngetrend jadi boneka-boneka goyang.  samarinda lagi boom soal ini, di tepian mahakam tiap sore bisa dilihat puluhan pedagang memajang boneka mereka.  harganya kira-kira yang kecil 13.500 rupiah, yang besar 18.500 rupiah.  siapa yang diuntungkan dalam hal ini? apakah ini sebuah konstelasi? ataukah ini permainan fundraising pilkada? ah, apakah saya mikir terlau jauh?  kata teman yang jualan pancing, ini soal rupiah, bung! ada permintaan, ada barang.  bedanya dengan penegakan helm standart cuma bahwa  gak ada undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur SponsBob dan Dora wajib dimiliki oleh semua anak-anak di samarinda. :))   
 
salam,
panthom
  
Posted by Panthom at 02:06:51 | Permanent Link | Comments (5) |

20 of May, 2005

korupsi

korupsi, satu kata yang selalu mengganggu..
12 mei 2005, seorang teman posting berita, bahwa ada iklan unik di Bisnis Indonesia.
http://priyadi.net/wp-content/ampun.jpg
penasaran, aku akses, dan sungguh aku menemukan sebuah iklan sarkasme yang harusnya di-malu-kan oleh mereka, si empunya perusahaan, dan orang-orang yang menyebutnya penegak hukum itu.
korupsi, yang beberapa waktu lalu juga berlompatan didepan mataku, didepan hidungku.  mungkin mereka tak menganggap bahwa mengalokasikan sejumlah dana yang seharusnya diperuntukkan bagi konservasi menjadi  bingkisan parsel adalah sebuah tindakan korupsi.  soalnya sungguh sangat ngotot dan menyatakan diri sebagai kebenaran, saat mempertahankan itu.  "disini sudah biasa", "ini demi kelangsungan program juga, karena pasti mereka tidak terlalu suka dana besar lewat instansi mereka, tapi mereka tidak megecap sedikitpun", begitu beberapa alasan yang mereka pakai.
yang aku herankan, ada pula NGO yang direkturnya justru memperlancar urusan  (yang menurutku) tilep-menilep itu.  entahlah, sebagai individukah dia, atau sebagai direktur-kah dia.  seingatku, sebagai NGO, fungsi kontrol haruslah utama.  bukan kemudian menjadi pelicin, bahkan katalis.
korupsi, sebuah kata yang anehnya dimaknai sebagai sebuah kesalahan, tetapi dimanipulasi untuk kemudian dilaksanakan berwujud kebenaran.
kalau anda percaya laknat, semoga ada porsi untuk kelakuan semacam ini.

Posted by Panthom at 19:34:24 | Permanent Link | Comments (0) |