04 of Januari, 2007

solidaritas & kesetiakawanan sejati

Tanggal 3 januari 2007 pagi, handphone saya berbunyi saat saya masih di atas sepeda motor, mendekati kantor. Pikiran saya memerintahkan untuk segera memeriksanya. Benar saja, telepon dari Nunuk Kasyanto, teman saya, yang Bapaknya sedang sakit itu. Tumben, pagi ini dia telepon saya. “Berita duka, Bapak sudah gak ada”, begitu ia bilang pelan.

Dalam hitungan detik, Handphone saya kembali berbunyi, untuk kali kedua, saya menghentikan sepeda motor untuk memeriksa. Begitu juga pada menit ke 5 setelah itu. Sehari ini saya menerima setidaknya 6 telepon dengan isi yang sama, berita duka, Bapaknya Nunuk berpulang.

Sambil berniat memberitahukan berita duka ini, saya coba telepon kawan-kawan yang saya kenal cukup dekat dengan Nunuk. Dari 7 panggilan yang saya lakukan, 5 diantaranya sudah mengetahui berita ini. Saya kagum dengan kecepatan berita ini, tentu semangat solidaritas ada di dalamnya.

Seorang teman, memutuskan untuk kembali ke Samarinda, padahal ia sedang menempuh perjalanan lebih dari 120km menjauh dari Samarinda. Ia memutar balik sepeda motornya, untuk menemani Nunuk melewati hari duka ini.

Seorang teman lain, memutuskan menunda perjalanan tugasnya, padahal ia tau pekerjaannya dinanti banyak orang. Ia memilih menemani Nunuk melewati hari dukanya. Ia lakukan ini untuk turut berbelasungkawa atas duka itu.

Seorang teman lain, rela meneruskan semua SMS perkembangan pengurusan jenazah kepada semua kawan-kawan yang tak bisa datang langsung melayat. Ia lakukan itu untuk menambah dukungan meringankan beban duka Nunuk.

Seorang teman lain, dengan sigap membantu mengorganisir rencana perjalanan membawa jenazah ke kota Solo. Menghubungi travel agent, rumah sakit, maskapai penerbangan, sampai terakhir malam ini saya dengar sebuah biro jasa akan digunakan untuk urusan ini. Ia mintakan ijin mobil kantor untuk membantu mengantar Nunuk besok menuju Balikpapan, untuk bertolak bersama jenazah ke Solo. Ia lakukan ini untuk meringankan pikiran Nunuk yang sedang berduka.

Saya terima berita, banyak kawan-kawan yang menyempatkan diri datang melayat ke rumah duka. Malam ini, saya telepon seorang teman, mereka semua sedang berkumpul di rumah Nunuk. Mereka lakukan itu untuk menghibur Nunuk dari dukanya.

Kecepatan beredarnya berita dan ketulusan kawan-kawan Nunuk, didasari oleh rasa solidaritas, apapun latar belakangnya. Tidak ada manfaat apapun dari Nunuk yang akan mereka terima atas jerih payah itu. Nunuk bukan orang yang bisa membalas semua bantuan itu secara langsung.

Satu jam lalu, saya telepon Nunuk. Bukan kehadiran fisik yang dibutuhkan, bukan? saya mengawali percakapan via telepon sekaligus men-justifikasi ketidakhadiran saya saat ia dalam duka. Maaf, kualitas perkawanan saya tidak setebal kawan-kawan itu. Nunuk hanya tertawa. Sudah encer tawanya. Kawan-kawan itu sudah berhasil menjalankan fungsi mereka. Itu gunanya berkawan.

Selamat Jalan, Bapak. Pasti bahagia bisa bertemu Ibu disana.

Selamat datang solidaritas dan kesetiakawanan sejati. 

Posted by Panthom at 01:08:31 | Permanent Link | Comments (3) |

23 of Desember, 2006

menjadi lebih baik

Saya menemukan beberapa perubahan pada beberapa kawan. Dengan positif pikir, saya menganggap ini adalah awal dari perubahan menuju sebuah kebaikan.

Beberapa kawan lain, seperti biasa, menganalisis bahwa perubahan menjadi lebih baik ini, hanya perubahan sesaat, yang akan kembali pada posisi semula, dalam waktu dekat. Saya bukan tidak sependapat. Saya lebih memilih untuk melihatnya sebagai sebuah reaksi positif, tanpa menambahkan ukuran waktu di dalamnya. Bahwa kemudian tidak akan bertahan lama, saya tidak ingin menjadikannya sebagai bahan pembicaraan. Tidak terlalu bermanfaat buat saya.

Saya sendiri sedang terus mencoba untuk berubah menjadi lebih baik. Bukan perkara mudah memang, tapi harus dicoba.

Tantangan terberat saat mencoba berubah untuk menjadi lebih baik, atau mudahnya sebut saja memperbaiki, adalah memulihkan kepercayaan dari mereka yang pernah menerima dampak atas perilaku saya terdahulu. Sekali lancung ke ujian, selamanya tak dipercaya, mungkin pepatah ini yang harus saya hadapi.

Sekali lagi, tidak mudah untuk berubah menjadi lebih baik, tetapi jauh lebih sulit untuk berpura-pura menutupi kekurangan. Setidaknya itu buat saya.

Salut untuk anda yang telah memutuskan untuk berubah, menjadi lebih baik.

Posted by Panthom at 02:07:51 | Permanent Link | Comments (2) |

reward & punishment

Adalah hal yang mudah untuk mengucapkan kata “penghargaan” (reward) dan “sanksi” (punishment). Bagi anda yang saat ini menempati posisi sebagai pengambil keputusan, dua kata ini bagaikan menu siap saji yang setiap saat harus anda pilih untuk bawahan anda. Sedangkan bagi anda yang berposisi sebagai bawahan, dua kata ini bagai siang dan malam yang memang harus anda lalui. Persoalannya, bagi kita semua, bagaimana mengaplikasikan dan memaknai dua kata ini dalam pekerjaan?

Buat saya, dalam konteks tulisan ini, tak soal bagaimana bentuk penghargaan dan sanksi akan diterima. Isu utama saya adalah bagaimana kedua hal ini bisa diterima, apa dampaknya?

Motivasi, itu sesungguhnya yang menjadi kunci dalam reward dan punishment. Bagi mereka yang menerimanya, setidaknya ia diminta untuk memperbaiki, sehingga ia tak lagi menerima punishment atau ia diminta untuk mempertahankannya jika ia menerima reward. Bagi komunitas di sekelilingnya, peristiwa ini akan menjadi motivasi, untuk tidak melakukan hal yang sama jika itu tentang punishment, dan motivasi untuk setidaknya melakukan hal yang sama jika itu soal reward.

Melihat dampak yang ingin dicapai dari sebuah pemberian reward dan punishment, tentu bukanlah sebuah hal yang berlebihan bila kehati-hatian dibutuhkan untuk merencanakannya.

Menjatuhkan punishment dengan dasar dan perhitungan yang tak jeli, hanya akan menebarkan ketakutan dan membunuh kreatifitas. Begitu pula memberikan reward dengan perhitungan yang dangkal, akan merendahkan si penerima dan juga pemberi.

Karena itu, lakukanlah perhitungan yang cermat dalam menjatuhkan punishment dan memberikan reward. Gunakan parameter yang tepat dan sesuai dengan aturan yang selama ini dianut. Kreatif juga dibutuhkan untuk menemukan inovasi yang selama ini belum tercover dalam aturan yang dianut. Tetapi, melampaui strech zone dalam teori kreatifitas, hanya akan membuat --sekali lagi-- si pemberi dan si penerima nampak konyol.

Sejatinya, siapa korban dalam kasus menghukum orang yang tak bersalah atau memberikan reward pada prestasi yang salah? Seharusnyalah, kita bertanggungjawab atas dampak dari apa yang telah kita kerjakan.

Secermat apa kita memberikan reward dan punishment?

Posted by Panthom at 01:59:43 | Permanent Link | Comments (1) |

28 of Oktober, 2006

jadwal kematian


Ade Fadli bicara soal kematian pada satu tulisan blog-nya. Membuat saya teringat satu kejadian di hari ini.  

Hari ini, dalam perjalanan Samarinda-Balikpapan, dari jarak 20 meter, saya menyaksikan ajal seorang pengendara sepeda motor melayang dengan mudahnya. Dua detik sebelumnya, saya masih melihatnya bernyawa, di atas sepeda motornya.

Ia adalah seorang pengendara yang melaju -mungkin- dengan kecepatan lebih dari 80 km per jam, mendahului mobil di depannya, di tikungan, melewati garis pembatas jalan, lalu membentur pick-up yang muncul berlawanan, searah mobil saya, berkecepatan 60 km per jam -itu yang ditunjukkan oleh penunjuk kecepatan mobil saya, sedetik saya lirik sebelum saya kembali berkonsentrasi pada kepadatan lalu lintas jalan raya itu. Dari benturannya, saya menduga, si pengendara sepeda motor tak sempat menginjak pedal rem-nya. Saya merasa perlu menelepon sesaat setelah benturan itu. Untuk menguatkan hati, menguatkan pikiran saya. Saya beruntung mendapat tambahan kekuatan seusai menelepon.

Satu nyawa berpulang tadi siang. Saya hanya berfikir, ia mungkin memilih cara kematiannya, sesuai jadwal yang telah ditentukan. Semudah itu kematian datang, tergantung bagaimana kita memilihnya, sesuai jadwal tentunya.

Saya tak membawa kamera, T610 saya mengabadikan kemalangan itu. Dua detik sebelum benturan, saya masih melihatnya bernyawa.

 

Posted by Panthom at 04:56:59 | Permanent Link | Comments (5) |

11 of Oktober, 2006

parcel & kpk

Empat tahun lalu, saya bersitegang soal bingkisan lebaran ini. Sebuah Badan Pengelola, mitra kerja saya waktu itu, mengalokasikan setidaknya 30 bingkisan atau parcel untuk 30 nama. Pejabat, tokoh masyarakat, aktivis LSM, pimpinan lembaga internasional, bahkan peneliti asing, ada dalam daftar calon penerimanya. Tidak banyak memang, hanya 30 bingkisan saja. Jika uangkan, seingat saya, saat itu total bernilai enam juta rupiah.

Mengapa saya menolak rencana pengadaan parcel itu? Pertama, perjalanan uang untuk pengadaan yang diambil dari operasional yang bersumber dari APBD itu terlalu mahal. Mahal secara psikologis dan moral. Kedua, 30 nama itu samasekali bukan orang yang miskin, bahkan jauh dari sederhana. Ketiga, itu perilaku korupsi (ini eksplisit saya sampaikan). Badan Pengelola kala itu sedang susah secara finansial, aneh kalau masih sempat memikirkan pengadaan parcel untuk kaum yang tidak tepat menerimanya. ”Sudah menjadi tradisi disini”, begitu kata aktivis LSM yang ngotot memperjuangkan gagasan ini. Mual saya.

Akhirnya, saya tetap jadi pecundang saja. Parcel tetap dibeli, dan dibagikan kepada nama-nama itu. Dengan mata kepala sendiri akhirnya saya menyaksikan isi parcel dikonsumsi secara mewah, sedikit-sedikit, bahkan nyaris belum habis saat mendekati ramadhan setahun setelahnya. Si penerima sebenarnya tidak butuh parcel, itu jelas. Ini satu dari sekian alasan saya untuk memilih lokasi kerja lain.

Sekarang, KPK mengeluarkan surat edaran soal yang sama, parcel. Lalu ramai-ramai orang mematuhinya. Karena apa kepatuhan itu? Patuh pada surat KPK, takut disalahkan, atau patuh pada maksud yang terkandung dalam edaran itu?

Tidak ada yang murni, kok, begitu kata seorang kawan pemilik kedai pancing di depan stadion sempaja. Kira-kira setahun yang lalu ia ucapkan itu sambil garuk-garuk kepalanya yang mulai beruban itu ketika saya tanyai pendapatnya soal parcel ini. “Mumet ndasku” katanya lagi.

Ya, memang, KPK. Edaranmu basi!!

Posted by Panthom at 14:51:17 | Permanent Link | Comments (1) |

28 of September, 2006

menarik pelajaran

Bukan perkara mudah bagi sebagian orang untuk menarik pelajaran dari apa yang sudah berlaku pada dirinya, buruk ataupun baik.  Mungkin menarik pelajaran juga tidak penting bagi sebagian orang.

Akhir-akhir ini saya menemui banyak kejadian yang membuat saya berfikir bahwa menarik pelajaran harusnya menjadi satu mata ajaran tersendiri dalam lembaga pendidikan dasar.  Ya, mungkin ia menjadi sub mata ajaran “kesadaran diri”, jika ada.

Mengulangi perilaku yang berpotensi memunculkan resiko yang sama, belumlah termasuk dalam kategori pelanggaran “menarik pelajaran”.  Masih dibutuhkan satu faktor lagi untuk membuatnya menjadi sebuah pelanggaran, yaitu tidak ada perubahan antisipasi atas resiko itu.  “Hanya orang tolol yang terjatuh pada lubang sama”, begitu pepatah menterjemahkan akibat dari pelanggaran itu.  Pepatah ini tentunya secara implisit sudah menyebutkan adanya perubahan antisipasi atas resiko jatuh di lubang yang sama.  Artinya, jika anda cerdas, sudah memperhitungkan kemungkinan resiko yang ada, juga sudah melakukan perubahan antisipasi, maka mustahil anda terjatuh pada lubang yang sama.  (Kalaupun kemudian anda sial, terjatuh pada lubang yang sama, maka itu tidak termasuk dalam kategori pepatah ini.  Mungkin akan berlaku pepatah lain, semisal “kekalahan adalah kemenangan yang tertunda”, atau “trial and error”.  Ada-ada saja).

Tetapi, kejadian-kejadian di sekitar saya, hampir dipastikan masuk dalam kategori pepatah bersayap itu.  Mungkin saya salah, tetapi saya tidak melihat adanya perubahan antisipasi.  Bahkan kecenderungannya adalah mengulang perilaku yang sama, dengan modus operandi yang sama, dengan antisipasi yang sama.  Sekali lagi, mungkin saya salah.

Mungkin mereka memang sengaja ingin masuk lubang yang sama, dengan motif yang berbeda.  Mungkin ini sebuah strategi politik.  Mengorbankan satu sisi untuk sisi yang lain.  Yaitu mengabaikan sebutan sebagai ”orang tolol” oleh pepatah itu.

Posted by Panthom at 06:04:35 | Permanent Link | Comments (0) |

siapa - apa

Beberapa orang yang saya kenal, belakangan ini gemar menasehati. Entah langsung, via sms, ataupun via email. Saya cukup terganggu dengan nasehat-nasehat itu. Bukan, bukan karena isinya, tetapi lebih karena saya mengenal perilaku mereka yang gemar menasehati itu. Semakin sering saya menerima dan mendengar pesan-pesan itu, semakin saya menganggapnya sebagai kepalsuan yang berkedok kemuliaan.

Ini memang satu kekurangan saya yang terus saya coba perbaiki. Harusnya saya tidak melihat ”siapa yang menyampaikan”, harusnya saya melihat ”apa yang disampaikan”.

Posted by Panthom at 06:02:29 | Permanent Link | Comments (0) |

hormatilah orang yang tidak berpuasa

Dalam satu kolom selingan di sebuah suratkabar lokal, beberapa hari lalu, seorang wartawan menuliskan kejengkelannya dengan seruan untuk menutup Taman Hiburan Malam atau THM selama bulan puasa ini.  Ia juga rupanya jengkel dengan kewajiban menambah penutup ruangan bagi tempat-tempat makanan yang buka disiang hari.  Sesungguhnya seruan dan kewajiban itu justru meremehkan orang-orang yang berpuasa, begitu ujarnya.

Saya suka dengan maksud yang terkandung dalam tulisan itu.  Intinya, seruan penutupan, pengurangan selama bulan puasa, bukanlah untuk menghormati orang berpuasa, justru sebaliknya, menunjukkan pada mereka yang tidak berpuasa bahwa orang-orang yang berpuasa adalah orang-orang yang lemah, tak kuat godaan, sehingga harus dilindungi.  Kalau begini, malu juga rasanya jadi orang yang berpuasa.

Ia, si wartawan itu juga menuliskan bahwa larangan dan himbauan itu adalah bentuk dari pelecehan terhadap sebelas bulan yang lainnya.  Walaupun si Ramadhan disebut sebagai sebaik-baiknya bulan, bukan berarti sebelas bulan lainnya harus diremehkan.   Saya berfikir sama, sebenarnya untuk apa himbauan dan larangan itu? Menghormati orang yang berpuasa atau menghormati bulan puasa?  Saya kira Tuhan menciptakan bulan puasa bukan untuk dihormati, tetapi untuk kebaikan umatnya.  Sehingga, yang harusnya dilakukan adalah menghormati orang-orang yang berpuasa dengan cara menghormati orang-orang yang tidak berpuasa.

Bagi saya, tulisan si wartawan itu seperti keputusan yang adil dalam sebuah pengadilan yang korup.  Sebuah kesegaran baru.  Terima kasih, Bung!

Posted by Panthom at 05:59:06 | Permanent Link | Comments (1) |

20 of September, 2006

pak wali, kemana aja?

“Walikota ingin kita kembali menjadi preman lagi, ingin kita hidup dijalanan lagi, menjadi kriminal”.  Begitu kira-kira sepenggal kalimat yang saya ingat,  pembuka sebuah berita di surat kabar lokal hari ini.  Itu berita tentang pembongkaran sederetan kios buah di Jalan Gajahmada, tepi Sungai Mahakam, Samarinda.

Mungkin sang Walikota baru siang hari membacanya, atau mungkin sore hari selepas selesai urusan rapat ini itu, termasuk segumul kesibukan pencitraan diri yang entah mengapa belakangan ini marak dilakukan para kepala daerah.  Ah, kalaupun mengetahui, mungkin juga bukan karena Walikota membaca sendiri berita itu.  Manalah sempat.  Mungkin sang ajudan atau staf terdekatnya, atau juga Satpol PP yang datang padanya untuk melaporkan.  Tak penting bagaimana cara berita itu sampai padanya, bukan itu inti tulisan saya.

“Walikota ingin kita kembali menjadi preman lagi, ingin kita hidup dijalanan lagi, menjadi kriminal”.  Kalimat ini terus membayang di pelupuk mata saya.  Terlepas ini akan menjadi kebenaran atau cuma teriakan ketidakberdayaan para penjual buah yang tiap hari dipalak (baca dalam bahasa resmi: dipungut biaya retribusi), buat saya, sebagai warga Samarinda, kalimat ini seharusnya dibaca (oleh sang Walikota) sebagai potensi gangguan bagi warganya.  Saya, adalah salah satu warganya yang mudahan bukan cuma ada dalam daftar pemilih pilkada.

Tidak, terlalu naif kalau kemudian kalimat saya diartikan dengan cara mengawasi para penjual (yang hari ini mungkin sudah menjadi eks-penjual) buah-buahan itu.  Mereka hanya korban.  Korban atas pelanggaran yang mereka lakukan sendiri, yang dibiarkan oleh pemerintah Kota Samarinda.   Tapi, jangan tanya saya bagaimana harusnya Anda mengelola polemik ini.   Anda dibayar mahal oleh negara untuk memimpin Republik Samarinda ini.  Memimpin, melayani dan melindungi.

Saya kira, tidak butuh kecerdasan tinggi untuk memaknai tulisan saya, bahwa seorang warganya sedang khawatir akan keselamatan warga Republik Samarinda ini.  Halo Pak Walikota Samarinda? Kemana aja?

Posted by Panthom at 21:21:01 | Permanent Link | Comments (1) |

14 of September, 2006

unik

Dalam minggu ini, para pejabat Kabupaten di tempat saya bekerja, sedang mengadakan perjalanan. Uniknya, dalam minggu ini, 4 perjalanan dilaksanakan sekaligus dengan 4 rombongan yang berbeda! Satu rombongan ke Jepang, negeri sakura itu. Tiga rombongan lain ada di Kabupaten Jembrana, di Kota Bandung dan Kota Banjarmasin. Bisa dibayangkan bagaimana itu semua direncanakan?

"Saya dicoret dari daftar peserta perjalanan, jadilah saya penjaga gawang, payah!", begitu ucap seorang pejabat pada saya sehari lalu.   Komentar ini menambah kekaguman saya.  Rupanya ia masih berharap terlibat dalam pengosongan Kabupaten ini.  Inilah satu dari sekian banyak keunikan Kabupaten ini.

Posted by Panthom at 00:09:50 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2 3