solidaritas & kesetiakawanan sejati
Tanggal 3 januari 2007 pagi, handphone saya berbunyi saat saya masih di atas sepeda motor, mendekati kantor. Pikiran saya memerintahkan untuk segera memeriksanya. Benar saja, telepon dari Nunuk Kasyanto, teman saya, yang Bapaknya sedang sakit itu. Tumben, pagi ini dia telepon saya. “Berita duka, Bapak sudah gak ada”, begitu ia bilang pelan.
Dalam hitungan detik, Handphone saya kembali berbunyi, untuk kali kedua, saya menghentikan sepeda motor untuk memeriksa. Begitu juga pada menit ke 5 setelah itu. Sehari ini saya menerima setidaknya 6 telepon dengan isi yang sama, berita duka, Bapaknya Nunuk berpulang.
Sambil berniat memberitahukan berita duka ini, saya coba telepon kawan-kawan yang saya kenal cukup dekat dengan Nunuk. Dari 7 panggilan yang saya lakukan, 5 diantaranya sudah mengetahui berita ini. Saya kagum dengan kecepatan berita ini, tentu semangat solidaritas ada di dalamnya.
Seorang teman, memutuskan untuk kembali ke Samarinda, padahal ia sedang menempuh perjalanan lebih dari 120km menjauh dari Samarinda. Ia memutar balik sepeda motornya, untuk menemani Nunuk melewati hari duka ini.
Seorang teman lain, memutuskan menunda perjalanan tugasnya, padahal ia tau pekerjaannya dinanti banyak orang. Ia memilih menemani Nunuk melewati hari dukanya. Ia lakukan ini untuk turut berbelasungkawa atas duka itu.
Seorang teman lain, rela meneruskan semua SMS perkembangan pengurusan jenazah kepada semua kawan-kawan yang tak bisa datang langsung melayat. Ia lakukan itu untuk menambah dukungan meringankan beban duka Nunuk.
Seorang teman lain, dengan sigap membantu mengorganisir rencana perjalanan membawa jenazah ke kota Solo. Menghubungi travel agent, rumah sakit, maskapai penerbangan, sampai terakhir malam ini saya dengar sebuah biro jasa akan digunakan untuk urusan ini. Ia mintakan ijin mobil kantor untuk membantu mengantar Nunuk besok menuju Balikpapan, untuk bertolak bersama jenazah ke Solo. Ia lakukan ini untuk meringankan pikiran Nunuk yang sedang berduka.
Saya terima berita, banyak kawan-kawan yang menyempatkan diri datang melayat ke rumah duka. Malam ini, saya telepon seorang teman, mereka semua sedang berkumpul di rumah Nunuk. Mereka lakukan itu untuk menghibur Nunuk dari dukanya.
Kecepatan beredarnya berita dan ketulusan kawan-kawan Nunuk, didasari oleh rasa solidaritas, apapun latar belakangnya. Tidak ada manfaat apapun dari Nunuk yang akan mereka terima atas jerih payah itu. Nunuk bukan orang yang bisa membalas semua bantuan itu secara langsung.
Satu jam lalu, saya telepon Nunuk. Bukan kehadiran fisik yang dibutuhkan, bukan? saya mengawali percakapan via telepon sekaligus men-justifikasi ketidakhadiran saya saat ia dalam duka. Maaf, kualitas perkawanan saya tidak setebal kawan-kawan itu. Nunuk hanya tertawa. Sudah encer tawanya. Kawan-kawan itu sudah berhasil menjalankan fungsi mereka. Itu gunanya berkawan.
Selamat Jalan, Bapak. Pasti bahagia bisa bertemu Ibu disana.
Selamat datang solidaritas dan kesetiakawanan sejati.

