01 of April, 2006

Kursus The Art of Vibrant Facilitation

      
 
Kursus Singkat The Art of Vibrant Facilitation
Bali, 09-12 Mei 2006
_________________________________________________________

New Training!

Bila anda merasa bosan dengan pertemuan, lokakarya, training, rapat dan seminar yang pernah Anda ikuti dan bila Anda tertarik mengubah event-event itu menjadi interaksi sosial yang berkualitas dan penuh inspirasi, Anda adalah orang yang tepat berinvestasi mengikuti The Art of Vibrant Facilitation: Make Your Meeting Work pada 9-12 Mei 2006 di Bali. Anda akan mengalami perubahan diri yang luar biasa dengan meningkatkan kecerdasan emosional, ketrampilan komunikasi interpersonal, ketrampilan mengelola dinamika kelompok sulit dan ketrampilan merancang proses fasilitasi yang kreatif. Ketrampilan fasilitasi bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas Anda mengelola berbagai interaksi sosial yang baru seperti proses multipihak, resolusi konflik, pengembangan organisasi, perencanaan proyek, perencanaan strategis serta berfikir kreatif. The Art of Vibrant Facilitation akan mengubah hidup Anda menjadi penuh inspirasi bagi diri Anda maupun orang lain. Anda otomatis akan menjadi anggota The Facilitators Club yang myediakan berbagai produk dan kesempatan mendalami dunia fasilitasi yang lebih profesional Silakan Anda mendaftar kepada doni@inspiritinc.net atau dian@inspiritinc.net.

 

Posted by Panthom at 18:02:52 | Permanent Link | Comments (0) |

14 of Februari, 2006

teamwork

Saya dan kawan-kawan INSPIRIT menggunakan World Cafe, sebuah metode partisipasi, untuk serangkaian pertemuan di Sultra, Sulsel, NTB dan NTT.  Hanya limabelas menit saya menerima ”briefing” tentang metode ini dari Dani.  Selanjutnya, seperti biasa, saya harus menemukan turunan dari barang baru (buat saya) ini.  Untungnya, saya tidak sendirian menggarap pertemuan ini.  Di Sultra dan Sulsel saya bersama Doni, Joko, Deni dan Budhsi.  Di NTB, hanya tinggal Doni dan Budhsi.  Di NTT, selain bersama Doni, saya mendapat power luar biasa dari Ijul, kawan lama, yang baru kali ini saya mendapat kehormatan bersama-sama memfasilitasi.
Posted by Panthom at 00:39:19 | Permanent Link | Comments (1) |

keberanian kolosal

Bersama kawan-kawan INSPIRIT, saya baru saja menyelesaikan satu rangkaian fasilitasi pertemuan tahunan sebuah project bertema pengentasan kemiskinan dan pelibatan kelompok marjinal di Sultra, Sulsel, NTB dan NTT.    

Posted by Panthom at 00:35:06 | Permanent Link | Comments (1) |

08 of November, 2005

The Art of Vibrant Facilitation Workshop



INSPIRIT INNOVATION CIRCLES mempersembahkan The Art of Vibrant Facilitation Workshop pada 28 November - 1 Desember 2005 (basic) dan 5-8 Desember 2005 (advance) di Sanur Paradise, Bali.

Bila Anda menilai rapat-rapat pada organisasi dan perusahaan mulai membosankan dan tidak mampu menemukan inovasi baru, workshop istimewa ini cocok bagi Anda.

Bila Anda merasakan proyek Anda tidak mampu mencipta solusi-solusi baru yg kreatif, workshop ini memberikan nilai lebih pada masa depan proyek Anda.

Bila Anda mulai gelisah karena tak mampu memecahkan masalah sosial di lingkungan kerja Anda, training ini akan membimbing Anda menemukan inovasi sosial yg memukau.

Daftarkan diri Anda segera, peserta amat terbatas.

Posted by Panthom at 09:51:36 | Permanent Link | Comments (0) |

31 of Oktober, 2005

What is Coaching Psychology?

Many people are familiar with the notion of a "sports coach", someone who works with athletes and teams to improve their skills, develop strategy and to maximise their chances of winning. The contemporary notion of a coach takes this idea and extends it into other, non-sport related areas of life. 

Coaching is about bringing about positive change with a view to achieving desired goals.  Central to coaching is the notion that we can change, that we are not forever stuck with dysfunctional behaviours and that both individuals and organisations can improve. The main role of the coach is to facilitate this positive change process, enabling the individual or the organisation to succeed and ultimately, to become their own coach.

Coaching psychology is a relatively new approach to the enhancement of human performance, although it derives from the well established professions of clinical and organisational psychology.  In addition, coaching psychology incorporates aspects of education, training and consulting. 

Where clinical and counselling psychologists tend to work with clients who are distressed and/or dysfunctional, coaching psychologists work with well-functioning clients, using theoretically grounded and scientifically validated techniques, to help them reach goals in different parts of their lives. 

Because, as noted above, coaching psychology draws on established psychological theory and practice, the principals underlying coaching are not new or untested. What is new, and very exciting, is how coaching (business, executive and life coaching) adapts tried and tested techniques to the enhancement of performance and well-being in a wide range of non-clinical settings.

source: Making Changes at www.makingchanges.com.au

Posted by Panthom at 22:05:57 | Permanent Link | Comments (0) |

Training Seni Fasilitasi VI & VII

kemarin, saya menerima sms.  isinya tentang pemberitahuan rencana training seni fasilitasi angkatan ke VI dan VII.  training ini dilaksanakan oleh Inspirit Innovation Circles, komunitas kecil fasilitator, tempat saya mencari ilmu.  training akan dilaksanakan tanggal 27 nov - 5 des 2005 di bali. 

yang membedakan training angkatan ini adalah rencana kelas pararel, yaitu dua kelas yang berjalan bersamaan.  selain itu, kelas advance juga akan dibuka, khusus untuk mereka yang berminat, dan alumni angkatan I sampai V tentunya.

yang menarik, satu kelas training VI sudah booked.  jadi, hanya ada slot satu kelas saja.  padahal marketing-nya personal saja.

saya jadi coba menghubungkan tingginya antusias calon peserta dengan kenyataan bahwa proses fasilitasi yang belum dihargai sebagai proses.  ada banyak alumni training, tetapi tak ada penghargaan atas proses yang akan difasilitasi.

rupanya, benar juga, harus ada edukasi khusus untuk membuat proses fasilitasi dihargai.  mungkin bukan dalam paket training ini.  mungkin paket lain.  supaya 'martabat fasilitator gak segitu-segitu aja', kata dani.


Posted by Panthom at 09:04:00 | Permanent Link | Comments (2) |

27 of Oktober, 2005

menjadi positif

di salah satu milis kampus yang saya ikuti, sedang dibuka diskusi tentang calon rektor unmul - universitas mulawarman, tempat saya dulu belajar.  tiga nama calon rektor dipampangkan, dan dipancing dengan pertanyaan "tebak siapa yang akan menang".

saya kenal dengan ketiga calon. bukan kenal baik, setidaknya  pernah bertegur sapa, walaupun selintas.  mungkin lebih tepat "kenal presiden" istilahnya.  saya kenal, ingat dan ramah karena mereka cukup terkenal,  sedangkan mereka ramah jika bertemu karena sebagai public figure mereka memang perlu ramah, setidaknya memberikan senyuman jika dibutuhkan.  itulah yang disebut "kenal presiden".

satu diantaranya lebih saya ingat ketidakbaikan-nya.  sepak terjangnya semasa saya belajar di kampusnya dulu, hanya membekaskan hal-hal negatif belaka.  saya juga bingung mengapa begitu.  ada apa dengan saya?
dani, kawan saya, mengajarkan pada saya untuk melakukan reframing jika ingin menemukan hal positif pada kondisi seperti ini.  "jadikan potensi, bukan masalah", begitu yang selalu saya ingat.

saya sedang berusaha reframing.  tetapi jujur saja, untuk kasus ini, sulit melakukannya.

mungkin hari ini saya belum berhasil, mungkin besok akan berhasil.  karena jika tidak berhasil juga, akan bertentangan jalan fikir yang selalu saya coba pakai.


Posted by Panthom at 11:54:10 | Permanent Link | Comments (0) |

20 of Oktober, 2005

multistakholder

saya masih di kutai barat, kaltim, ketika menulis draft ini.  online dengan fasilitas gprs matrix. cukup lancar, walau kadang tersendat. tidak banyak pengguna, begitu kata petugas satelindo samarinda.

bukan soal koneksi matrix yang mau saya tulis, tetapi situasi sulit yang kerap saya hadapi saat fasilitasi, baru saja saya hadapi.

peserta workshop yang berasal dari berbagai tingkat kemudahan paham dan berbeda kecepatan tangkap, membuat saya harus mengeluarkan energi ekstra.  harus diakui, puasa juga mempengaruhi ketahanan fisik saya, selain sudah hampir dua minggu saya harus bertahan dari ingus yang keluar masuk hidung, karena sedang flu berat.

lima kampung yang berada di kawasan gunung beratus, di sebelah selatan ibukota kabupaten kutai barat, mengirimkan perwakilannya.

Perwakilan kelompok masyarakat yang hadir, seperti yang saya kira, terdiri dari dua level pemahaman juga.  Sebagian dari mereka memiliki tingkat pemahaman yang baik, sedangkan sebagian lagi hadir lebih sebagai tetua masyarakat, yang memiliki tingkat kecepatan pemahaman yang lebih rendah.

Saya lanjutkan tulisan ini di atas kapal angkutan penumpang jurusan melak-samarinda.  Sudah lama saya tidak menggunakan jasa transportasi ini.  Pada tulisan lain, saya ingin berbagi.


Walaupun saya sudah puluhan kali menghadapi situasi seperti ini, tetapi tetap saja saya merasa kelelahan yang amat sangat tiap kali menghadapi. 

Bukannya saya tidak memikirkan metode untuk problem ini, tetapi sungguh saya belum menemukan metode yang ampuh.  Sekedar berbagi, untuk workshop ini, saya menawarkan metode kepada penyelenggara, simpel saja, dimulai dari pemisahan kelompok.  Kelompok pertama adalah kelompok masyarakat dan kelompok kedua adalah kelompok non masyarakat.  Dengan tugas dan pertanyaan yang sama, tentunya.  Perbedaannya, tentunya ada pada bagaimana teknik fasilitasinya.  Probing, questioning, reframe-nya menggunakan bahasa sangat sederhana dan seringkali menggunakan istilah-istilah salah kaprah yang berlaku pada keseharian kelompok masyarakat ini.  Ini yang saya pesan dan harapkan kepada kawan yang menyatakan kesediaannya untuk menjadi fasilitator diskusi kelompok ini.   Hasilnya, tidak terlalu fokus memang, tetapi saya percaya telah memuaskan kelompok ini.  Saya hanya sedikit melirik prosesnya, karena harus memfasilitasi kelompok yang lain.

Kalau pada tahapan ini saya sudah mempersiapkan metodenya, pada tahapan lain, saya seringkali mengandalkan insting atau membaca cepat reaksi beberapa peserta.  Contoh dari hal ini adalah pada saat berulangkali terjadi kesalahan tanggap atas proses yang saya tawarkan.  Bukan saja kelompok masyarakat, tetapi bahkan seorang perwakilan kelompok pemerintah justru memicu kesalahan tanggap ini, dan sayangnya ditambah dengan kesan serba tau.  Kejadian ini kemudian memicu beberapa orang dari perwakilan masyarakat memunculkan pembahasan substansi yang sebenarnya sudah disepakati sebelumnya.  Saya mencoba merespon kesalahpandangan ini dengan mengeksplorasi dan mengulangi penjelasan tahapan yang telah dilalui.  Penjelasan saya membuat mereka menganggukkan kepala, ini membuat saya lega.  Tetapi, baru beberapa menit berlalu, kejadian yang sama terulang lagi.  Sadarlah saya bahwa teknik yang saya gunakan bukanlah teknik yang tepat untuk problem ini.  Kegagalan ini membuat saya berfikir keras dan hampir kehilangan kontrol atas proses.  Lalu, saya mencoba menawarkan satu tahapan baru, yang muncul begitu saja setelah saya melakukan flashback proses, ini saya lakukan dikepala saya, tentunya. 

” Untuk mempermudah menggambarkan tawaran tahapan itu, kejadian gamblangnya adalah munculnya keinginan dari kelompok masyarakat untuk menambahkan anggota kelompok adhoc yang berasal dari semua kampung yang hadir.  Dengan begitu, setidaknya akan ada 10 orang anggota adhoc yang berasal dari kelompok masyarakat, selain 10 orang dari kelompok masyarakat.  Saya menemukan keinginan ini ada karena ketidak jelasan saya dalam memunculkan usulan pembentukan adhoc yang rancu dengan pembentukan badan pengelola kawasan.  Padahal, adhoc hanyalah sekumpulan orang yang terlibat sejak awal dalam proses ini, dan tugasnya adalah melakukan sintesa dan membuat langkah persiapan saja.  Saya salah memilih teknik eksplorasi dua output (adhoc dan badan pengelola) ini”.

Lalu, tahapan baru yang saya tawarkan adalah mempersilahkan semua perwakilan yang diusulkan dicantumkan kedalam daftar, tetapi dengan catatan setelah berakhirnya sessi itu, kelompok masyarakat berkumpul untuk membicarakan kembali usulan mereka tersebut.  Tentunya dengan didampingi oleh pendamping yang selama ini berinteraksi dengan mereka.  Fokus berkumpulnya mereka ini, adalah memperjelas tahapan proses yang sudah mereka lewati dan perbedaan antara adhoc dan badan pengelola.  Ide saya, terus terang, memanfaatkan energi para pendamping yang kelihatan masih cukup tinggi itu.  Saya sendiri, seperti yang saya tuliskan sebelumnya, hampir kehabisan energi.

Walaupun saya tidak terlibat dalam prosesnya, tetapi hasil dari tahapan ini, ternyata cukup manjur juga.  Kelompok masyarakat kemudian mengurangi jumlah perwakilan mereka menjadi 4 orang saja. Dan terlihat sangat percaya pada perwakilan yang mereka tunjuk.  Saya sedikit sedih, bukankah ini juga berarti saya gagal dalam memfasilitasi mereka?  

Saya tidak suka Aa Gym.  Mungkin karena gaya tutur dan cara yang ia pakai monoton dan cenderung mudah ditebak.  Humornya pun kering.  Menurut saya hanya cocok untuk mereka yang malas fight untuk memperjuangkan nasib.  Tapi, kali ini saya setuju dengannya, terutama kalimat ”...rugi besar kalau dalam kejadian ini, Aa tidak mendapat ilmu dan pelajaran penting...”.  Ini wawancara eksklusifnya dengan MetroTV dalam kasus iklan-nya yang dibaca sebagai mendukung kenaikan BBM.  Walaupun saya tidak suka juga cara ia menyebut dirinya sebagai ”Aa”, tetapi, sekali lagi, saya setuju dan cenderung terinspirasi dengan kalimatnya itu.

Saya memang mendapatkan ilmu baru pada satu kegagalan proses dan tahapan dalam workshop itu.  Entah bagaimana menyebutnya secara tepat, tetapi mungkin bisa disebutkan sebagai mengkombinasikan sedikit kepanikan dengan sesuatu yang tiba-tiba muncul dari kepala, ternyata bisa juga membantu memperlancar proses.  

Hanya saja, saya tidak tau, bila tahapan baru itu juga tidak memperlancar proses, saya akan merasakan apa.  Tentunya selain mendapat ilmu dan pelajaran penting juga, seperti Aa Gym yang tidak saya sukai gaya tuturnya itu.

Posted by Panthom at 13:20:08 | Permanent Link | Comments (0) |

18 of Oktober, 2005

borongan

begitu mendengar istilah borongan, pikiran saya pasti tertuju pada pekerjaan yang dulu saya tekuni sewaktu masih kuliah.  jika musim proyek tiba (begitu kami sering bilang, jika ada beberapa tawaran kerja sambilan), maka diskusi soal menanam, inventarisasi, mencari bibit, survey, ground survey, tata batas, menjadi topik hangat di setiap pojok kampus.  bagi kami yang lebih mengutamakan nilai uang yang didapat pada akhir masa kerja, maka mendapat sebanyak-banyaknya pekerjaan-pekerjaan itu adalah media yang tepat.  maka, yang biasa kami lakukan adalah menawarkan kerja all-in, dari merintis, membuat jalur, mencari ajir (ajir = tongkat kecil untuk tanda posisi menanam bibit), mencari bibit, menanam, bahkan menyulam (dalam kehutanan, menyulam adalah mengganti bibit yang mati dengan bibit baru).  inilah yang kami sebut borongan. 
biasanya, kualitas borongan lebih rendah dari kualitas kerja fokus, semisal menanam saja.  betapa tidak, karena kerja borongan harus memikirkan keseluruhan langkah, bahkan termasuk hal-hal yang kadang tak berhubungan.

siang ini, saya harus berangkat ke Melak, ibukota kabupaten Kutai Barat, untuk membantu proses workshop sebuah organisasi primata yang tertarik untuk mendorong banyak pihak ikut memikirkan sebuah kawasan yang menurut mereka cocok menjadi kawasan konservasi. 
kemarin, saya terlibat pembicaraan dengan seorang kawan, bekas teman sekantor yang ikut juga membantu arrange kegiatan ini.  ia bukan orang baru untuk mengorganisir acara semacam ini, bahkan boleh dibilang piawai.  kawan saya inilah yang menjadi penghubung saya dengan organisasi ini, baik soal teknis maupun substansi.  uniknya, saat berbincang via ponsel, ia menawarkan situasi yang kemudian bisa saya sebut sebagai borongan itu.  kawan saya ini (yang saya yakin dengan keterpaksaannya) menawarkan agar saya bukan hanya berperan sebagai fasilitator proses, seperti yang kami sepakati sebelumnya, tetapi juga menjadi moderator pada sesi seminar.  sehingga, ada dua pekerjaan yang harus saya lakukan, yaitu moderator dan fasilitator.

tawaran ini mengingatkan saya pada bincang-bincang saya dengan beberapa kawan lain yang juga kadang menyebut diri mereka fasilitator.  perbincangan yang cukup panjang itu membahas peran fasilitator dalam satu proses workshop semacam yang akan saya lakukan di Kutai Barat besok.  lebih tepatnya, untuk ketercapaian hasil maksimal, kami membincangkan cara untuk meng-educate banyak orang bahwa dalam sebuah proses workshop, peran fasilitator haruslah terpisah dengan peran lainnya, termasuk moderator.
walaupun tidak langsung menyatakan persetujuan terhadap pemisahan peran ini, beberapa kawan fasilitator kemudian bereaksi positif. entah karena kemudian menemukan kenyamanan fokus pada proses, atau karena perbandingan finansial-nya lebih besar (bukankah lebih menyenangkan dibayar untuk satu pekerjaan, dibandingkan untuk dua pekerjaan, dengan harga yang sama tentunya).

seringkali, para penyelenggara workshop men-salah artikan permintaan para fasilitator untuk kerja terpisah ini.  anggapan bahwa fokus pemisahan ini melulu soal nilai pembayaran, membuat kami para fasilitator harus kerja ekstra menjelaskan bahwa fungsi fasilitator bukanlah satu pecahan kecil dari proses workshop itu, tetapi ia lebih sebagai pengatur keseluruhan proses.  bahkan dalam aliran fasilitasi yang saya percayai, fasilitator harus terlibat sejak tahap dua dari ide awal penyelenggaraan.  sehingga, pemisahan kerja ini akan pararel dengan peningkatan kualitas proses workshop.  itu yang kami, para fasilitator, jamin.

kawan saya, eks teman sekantor yang menjadi penghubung saya itu, saya yakin sangat faham soal ini. yang seringkali menjadi masalah, dan diluar jangkauan orang-orang sepertinya adalah alokasi yang diperbolehkan oleh si penyelenggara.  sehingga, sama seperti kacaunya banyak produk peraturan, yang harus di-educate lebih keras adalah si penentu kebijakannya.  harus dijelaskan secara gamblang bahwa yang mereka pertaruhkan dengan kerja borongan atau tidak adalah kualitas proses workshop.

kecuali, saat fasilitator, moderator, notulen, resumer, sudah dipisahkan, ternyata kualitas proses workshop juga tak membaik.  maka, wajar kalau kemudian kualitas fasilitator dipertanyakan.

(catatan: proses sangat berbeda dengan hasil.  proses sangat tergantung kepada kualitas fasilitator, sedangkan hasil sangat tergantung dengan standart penyelenggara).


Posted by Panthom at 03:55:51 | Permanent Link | Comments (2) |

18 of September, 2005

multipihak di palangkaraya

Tiga hari sudah saya di Palangkaraya, kota penuh asap, hasil bakaran kawasan bergambut.
Teman-teman disini sedang menginisiasi satu pendekatan yang menurut mereka baru, multipihak dalam isu perkebunan sawit.  Saya bersama seorang kawan, Mas Taufik, diberi kehormatan untuk membantu proses.  Memfasilitasi, itu bahasa yang biasa dipakai untuk kerja kami ini.
Pertemuan ini adalah pertemuan dua hari setelah sehari sebelumnya sebagian peserta mengikuti seminar sehari, juga tentang isu perkebunan sawit.  Pertemuan ini, dimintakan kepada kami, untuk menjadi pertemuan  aktif kerja.  Artinya semua peserta harus didorong untuk aktif.  Ini biasa, permintaan biasa, karena default kami sebagai fasilitator adalah melakukan itu, salah satunya.
Yang unik, jika di tempat lain apa yang disebut multipihak itu sudah berjalan lama, di Palangkaraya ini, proses multipihak adalah proses yang sepertinya sangat luar biasa.  Bertemu dan merencanakan bahkan menjadi satu tim kerja untuk membahas sesuatu secara bersama, dengan latar belakang interest, rupanya adalah barang langka di negeri kabut asap ini.  Walaupun saya sudah mendengar lama soal friksi ini, tetapi proses yang terjadi selama dua hari workshop, tak urung membuat saya kecut juga.  Kecut karena ternyata multipihak masih dimaknai sebagai kooptasi, justifikasi negatif dan juga sebagai kebohongan.  Betapa bahwa sudah parahnya interaksi antar kelompok di kota ini.  Betapa tidak, kata 'sosialisasi', 'dialog', 'kelompok kerja', bahkan 'data', mampu menciderai pikiran mereka, memunculkan kecurigaan, yang selanjutnya memunculkan penolakan untuk berbagi, apalagi bekerja dalam satu kelompok. Cukup aneh juga argumen yang dikemukakan.  Mulai dari 'biasanya', 'kemungkinan', 'bisa jadi' sampai 'siapa tau'.  Kata-kata asumsi dan ramalan itu rupanya cukup ampuh untuk memaksa kelompok lain yang menginginkan terjadinya proses interaksi antar pihak sedikit mengalah.

Karena itulah, seperti biasa, target harus diturunkan, bukan lagi pada level tinggi, seperti yang dimintakan semula pada kami, saya dan Mas Taufik.  Kesepakatan untuk mendorong terbentuknya 'kelompok ahli' atau 'badan penasehat' tidak lagi menjadi target.  Sebagai alternatifnya, pembentukan kelompok kerja hanya ditujukan untuk membahas hasil workshop dan rencana selanjutnya.  Sebuah pilihan sulit tetapi jitu menurut saya. 

Musim multipihak belum lewat di Palangkaraya, begitu kalau boleh saya menyebutnya.

Sebuah kerja panjang masih menanti di Palangkaraya.  Sayangnya, yang mungkin harus dihadapi adalah mereka yang lebih sering menyatakan peduli pada lingkungan dan masyarakat. Begitulah.
Posted by Panthom at 00:03:53 | Permanent Link | Comments (0) |