Kursus The Art of Vibrant Facilitation

Kursus Singkat The Art of Vibrant Facilitation
Bali, 09-12 Mei 2006
_________________________________________________________
New Training!

Kursus Singkat The Art of Vibrant Facilitation
Bali, 09-12 Mei 2006
_________________________________________________________
Bersama kawan-kawan INSPIRIT, saya baru saja menyelesaikan satu rangkaian fasilitasi pertemuan tahunan sebuah project bertema pengentasan kemiskinan dan pelibatan kelompok marjinal di Sultra, Sulsel, NTB dan NTT.

Many people are familiar with the notion of a "sports coach", someone who works with athletes and teams to improve their skills, develop strategy and to maximise their chances of winning. The contemporary notion of a coach takes this idea and extends it into other, non-sport related areas of life.
Coaching is about bringing about positive change with a view to achieving desired goals. Central to coaching is the notion that we can change, that we are not forever stuck with dysfunctional behaviours and that both individuals and organisations can improve. The main role of the coach is to facilitate this positive change process, enabling the individual or the organisation to succeed and ultimately, to become their own coach.
Coaching psychology is a relatively new approach to the enhancement of human performance, although it derives from the well established professions of clinical and organisational psychology. In addition, coaching psychology incorporates aspects of education, training and consulting.
Where clinical and counselling psychologists tend to work with clients who are distressed and/or dysfunctional, coaching psychologists work with well-functioning clients, using theoretically grounded and scientifically validated techniques, to help them reach goals in different parts of their lives.
Because, as noted above, coaching psychology draws on established psychological theory and practice, the principals underlying coaching are not new or untested. What is new, and very exciting, is how coaching (business, executive and life coaching) adapts tried and tested techniques to the enhancement of performance and well-being in a wide range of non-clinical settings.
source: Making Changes at www.makingchanges.com.au
Bukannya saya tidak memikirkan metode untuk problem ini, tetapi sungguh saya belum menemukan metode yang ampuh. Sekedar berbagi, untuk workshop ini, saya menawarkan metode kepada penyelenggara, simpel saja, dimulai dari pemisahan kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok masyarakat dan kelompok kedua adalah kelompok non masyarakat. Dengan tugas dan pertanyaan yang sama, tentunya. Perbedaannya, tentunya ada pada bagaimana teknik fasilitasinya. Probing, questioning, reframe-nya menggunakan bahasa sangat sederhana dan seringkali menggunakan istilah-istilah salah kaprah yang berlaku pada keseharian kelompok masyarakat ini. Ini yang saya pesan dan harapkan kepada kawan yang menyatakan kesediaannya untuk menjadi fasilitator diskusi kelompok ini. Hasilnya, tidak terlalu fokus memang, tetapi saya percaya telah memuaskan kelompok ini. Saya hanya sedikit melirik prosesnya, karena harus memfasilitasi kelompok yang lain.
Kalau pada tahapan ini saya sudah mempersiapkan metodenya, pada tahapan lain, saya seringkali mengandalkan insting atau membaca cepat reaksi beberapa peserta. Contoh dari hal ini adalah pada saat berulangkali terjadi kesalahan tanggap atas proses yang saya tawarkan. Bukan saja kelompok masyarakat, tetapi bahkan seorang perwakilan kelompok pemerintah justru memicu kesalahan tanggap ini, dan sayangnya ditambah dengan kesan serba tau. Kejadian ini kemudian memicu beberapa orang dari perwakilan masyarakat memunculkan pembahasan substansi yang sebenarnya sudah disepakati sebelumnya. Saya mencoba merespon kesalahpandangan ini dengan mengeksplorasi dan mengulangi penjelasan tahapan yang telah dilalui. Penjelasan saya membuat mereka menganggukkan kepala, ini membuat saya lega. Tetapi, baru beberapa menit berlalu, kejadian yang sama terulang lagi. Sadarlah saya bahwa teknik yang saya gunakan bukanlah teknik yang tepat untuk problem ini. Kegagalan ini membuat saya berfikir keras dan hampir kehilangan kontrol atas proses. Lalu, saya mencoba menawarkan satu tahapan baru, yang muncul begitu saja setelah saya melakukan flashback proses, ini saya lakukan dikepala saya, tentunya.
Untuk mempermudah menggambarkan tawaran tahapan itu, kejadian gamblangnya adalah munculnya keinginan dari kelompok masyarakat untuk menambahkan anggota kelompok adhoc yang berasal dari semua kampung yang hadir. Dengan begitu, setidaknya akan ada 10 orang anggota adhoc yang berasal dari kelompok masyarakat, selain 10 orang dari kelompok masyarakat. Saya menemukan keinginan ini ada karena ketidak jelasan saya dalam memunculkan usulan pembentukan adhoc yang rancu dengan pembentukan badan pengelola kawasan. Padahal, adhoc hanyalah sekumpulan orang yang terlibat sejak awal dalam proses ini, dan tugasnya adalah melakukan sintesa dan membuat langkah persiapan saja. Saya salah memilih teknik eksplorasi dua output (adhoc dan badan pengelola) ini.
Lalu, tahapan baru yang saya tawarkan adalah mempersilahkan semua perwakilan yang diusulkan dicantumkan kedalam daftar, tetapi dengan catatan setelah berakhirnya sessi itu, kelompok masyarakat berkumpul untuk membicarakan kembali usulan mereka tersebut. Tentunya dengan didampingi oleh pendamping yang selama ini berinteraksi dengan mereka. Fokus berkumpulnya mereka ini, adalah memperjelas tahapan proses yang sudah mereka lewati dan perbedaan antara adhoc dan badan pengelola. Ide saya, terus terang, memanfaatkan energi para pendamping yang kelihatan masih cukup tinggi itu. Saya sendiri, seperti yang saya tuliskan sebelumnya, hampir kehabisan energi.
Walaupun saya tidak terlibat dalam prosesnya, tetapi hasil dari tahapan ini, ternyata cukup manjur juga. Kelompok masyarakat kemudian mengurangi jumlah perwakilan mereka menjadi 4 orang saja. Dan terlihat sangat percaya pada perwakilan yang mereka tunjuk. Saya sedikit sedih, bukankah ini juga berarti saya gagal dalam memfasilitasi mereka?
Saya tidak suka Aa Gym. Mungkin karena gaya tutur dan cara yang ia pakai monoton dan cenderung mudah ditebak. Humornya pun kering. Menurut saya hanya cocok untuk mereka yang malas fight untuk memperjuangkan nasib. Tapi, kali ini saya setuju dengannya, terutama kalimat ...rugi besar kalau dalam kejadian ini, Aa tidak mendapat ilmu dan pelajaran penting.... Ini wawancara eksklusifnya dengan MetroTV dalam kasus iklan-nya yang dibaca sebagai mendukung kenaikan BBM. Walaupun saya tidak suka juga cara ia menyebut dirinya sebagai Aa, tetapi, sekali lagi, saya setuju dan cenderung terinspirasi dengan kalimatnya itu.Hanya saja, saya tidak tau, bila tahapan baru itu juga tidak memperlancar proses, saya akan merasakan apa. Tentunya selain mendapat ilmu dan pelajaran penting juga, seperti Aa Gym yang tidak saya sukai gaya tuturnya itu.