28 of September, 2006

menarik pelajaran

Bukan perkara mudah bagi sebagian orang untuk menarik pelajaran dari apa yang sudah berlaku pada dirinya, buruk ataupun baik.  Mungkin menarik pelajaran juga tidak penting bagi sebagian orang.

Akhir-akhir ini saya menemui banyak kejadian yang membuat saya berfikir bahwa menarik pelajaran harusnya menjadi satu mata ajaran tersendiri dalam lembaga pendidikan dasar.  Ya, mungkin ia menjadi sub mata ajaran “kesadaran diri”, jika ada.

Mengulangi perilaku yang berpotensi memunculkan resiko yang sama, belumlah termasuk dalam kategori pelanggaran “menarik pelajaran”.  Masih dibutuhkan satu faktor lagi untuk membuatnya menjadi sebuah pelanggaran, yaitu tidak ada perubahan antisipasi atas resiko itu.  “Hanya orang tolol yang terjatuh pada lubang sama”, begitu pepatah menterjemahkan akibat dari pelanggaran itu.  Pepatah ini tentunya secara implisit sudah menyebutkan adanya perubahan antisipasi atas resiko jatuh di lubang yang sama.  Artinya, jika anda cerdas, sudah memperhitungkan kemungkinan resiko yang ada, juga sudah melakukan perubahan antisipasi, maka mustahil anda terjatuh pada lubang yang sama.  (Kalaupun kemudian anda sial, terjatuh pada lubang yang sama, maka itu tidak termasuk dalam kategori pepatah ini.  Mungkin akan berlaku pepatah lain, semisal “kekalahan adalah kemenangan yang tertunda”, atau “trial and error”.  Ada-ada saja).

Tetapi, kejadian-kejadian di sekitar saya, hampir dipastikan masuk dalam kategori pepatah bersayap itu.  Mungkin saya salah, tetapi saya tidak melihat adanya perubahan antisipasi.  Bahkan kecenderungannya adalah mengulang perilaku yang sama, dengan modus operandi yang sama, dengan antisipasi yang sama.  Sekali lagi, mungkin saya salah.

Mungkin mereka memang sengaja ingin masuk lubang yang sama, dengan motif yang berbeda.  Mungkin ini sebuah strategi politik.  Mengorbankan satu sisi untuk sisi yang lain.  Yaitu mengabaikan sebutan sebagai ”orang tolol” oleh pepatah itu.

Posted by Panthom at 06:04:35 | Permanent Link | Comments (0) |

siapa - apa

Beberapa orang yang saya kenal, belakangan ini gemar menasehati. Entah langsung, via sms, ataupun via email. Saya cukup terganggu dengan nasehat-nasehat itu. Bukan, bukan karena isinya, tetapi lebih karena saya mengenal perilaku mereka yang gemar menasehati itu. Semakin sering saya menerima dan mendengar pesan-pesan itu, semakin saya menganggapnya sebagai kepalsuan yang berkedok kemuliaan.

Ini memang satu kekurangan saya yang terus saya coba perbaiki. Harusnya saya tidak melihat ”siapa yang menyampaikan”, harusnya saya melihat ”apa yang disampaikan”.

Posted by Panthom at 06:02:29 | Permanent Link | Comments (0) |

hormatilah orang yang tidak berpuasa

Dalam satu kolom selingan di sebuah suratkabar lokal, beberapa hari lalu, seorang wartawan menuliskan kejengkelannya dengan seruan untuk menutup Taman Hiburan Malam atau THM selama bulan puasa ini.  Ia juga rupanya jengkel dengan kewajiban menambah penutup ruangan bagi tempat-tempat makanan yang buka disiang hari.  Sesungguhnya seruan dan kewajiban itu justru meremehkan orang-orang yang berpuasa, begitu ujarnya.

Saya suka dengan maksud yang terkandung dalam tulisan itu.  Intinya, seruan penutupan, pengurangan selama bulan puasa, bukanlah untuk menghormati orang berpuasa, justru sebaliknya, menunjukkan pada mereka yang tidak berpuasa bahwa orang-orang yang berpuasa adalah orang-orang yang lemah, tak kuat godaan, sehingga harus dilindungi.  Kalau begini, malu juga rasanya jadi orang yang berpuasa.

Ia, si wartawan itu juga menuliskan bahwa larangan dan himbauan itu adalah bentuk dari pelecehan terhadap sebelas bulan yang lainnya.  Walaupun si Ramadhan disebut sebagai sebaik-baiknya bulan, bukan berarti sebelas bulan lainnya harus diremehkan.   Saya berfikir sama, sebenarnya untuk apa himbauan dan larangan itu? Menghormati orang yang berpuasa atau menghormati bulan puasa?  Saya kira Tuhan menciptakan bulan puasa bukan untuk dihormati, tetapi untuk kebaikan umatnya.  Sehingga, yang harusnya dilakukan adalah menghormati orang-orang yang berpuasa dengan cara menghormati orang-orang yang tidak berpuasa.

Bagi saya, tulisan si wartawan itu seperti keputusan yang adil dalam sebuah pengadilan yang korup.  Sebuah kesegaran baru.  Terima kasih, Bung!

Posted by Panthom at 05:59:06 | Permanent Link | Comments (1) |

20 of September, 2006

pak wali, kemana aja?

“Walikota ingin kita kembali menjadi preman lagi, ingin kita hidup dijalanan lagi, menjadi kriminal”.  Begitu kira-kira sepenggal kalimat yang saya ingat,  pembuka sebuah berita di surat kabar lokal hari ini.  Itu berita tentang pembongkaran sederetan kios buah di Jalan Gajahmada, tepi Sungai Mahakam, Samarinda.

Mungkin sang Walikota baru siang hari membacanya, atau mungkin sore hari selepas selesai urusan rapat ini itu, termasuk segumul kesibukan pencitraan diri yang entah mengapa belakangan ini marak dilakukan para kepala daerah.  Ah, kalaupun mengetahui, mungkin juga bukan karena Walikota membaca sendiri berita itu.  Manalah sempat.  Mungkin sang ajudan atau staf terdekatnya, atau juga Satpol PP yang datang padanya untuk melaporkan.  Tak penting bagaimana cara berita itu sampai padanya, bukan itu inti tulisan saya.

“Walikota ingin kita kembali menjadi preman lagi, ingin kita hidup dijalanan lagi, menjadi kriminal”.  Kalimat ini terus membayang di pelupuk mata saya.  Terlepas ini akan menjadi kebenaran atau cuma teriakan ketidakberdayaan para penjual buah yang tiap hari dipalak (baca dalam bahasa resmi: dipungut biaya retribusi), buat saya, sebagai warga Samarinda, kalimat ini seharusnya dibaca (oleh sang Walikota) sebagai potensi gangguan bagi warganya.  Saya, adalah salah satu warganya yang mudahan bukan cuma ada dalam daftar pemilih pilkada.

Tidak, terlalu naif kalau kemudian kalimat saya diartikan dengan cara mengawasi para penjual (yang hari ini mungkin sudah menjadi eks-penjual) buah-buahan itu.  Mereka hanya korban.  Korban atas pelanggaran yang mereka lakukan sendiri, yang dibiarkan oleh pemerintah Kota Samarinda.   Tapi, jangan tanya saya bagaimana harusnya Anda mengelola polemik ini.   Anda dibayar mahal oleh negara untuk memimpin Republik Samarinda ini.  Memimpin, melayani dan melindungi.

Saya kira, tidak butuh kecerdasan tinggi untuk memaknai tulisan saya, bahwa seorang warganya sedang khawatir akan keselamatan warga Republik Samarinda ini.  Halo Pak Walikota Samarinda? Kemana aja?

Posted by Panthom at 21:21:01 | Permanent Link | Comments (1) |

14 of September, 2006

unik

Dalam minggu ini, para pejabat Kabupaten di tempat saya bekerja, sedang mengadakan perjalanan. Uniknya, dalam minggu ini, 4 perjalanan dilaksanakan sekaligus dengan 4 rombongan yang berbeda! Satu rombongan ke Jepang, negeri sakura itu. Tiga rombongan lain ada di Kabupaten Jembrana, di Kota Bandung dan Kota Banjarmasin. Bisa dibayangkan bagaimana itu semua direncanakan?

"Saya dicoret dari daftar peserta perjalanan, jadilah saya penjaga gawang, payah!", begitu ucap seorang pejabat pada saya sehari lalu.   Komentar ini menambah kekaguman saya.  Rupanya ia masih berharap terlibat dalam pengosongan Kabupaten ini.  Inilah satu dari sekian banyak keunikan Kabupaten ini.

Posted by Panthom at 00:09:50 | Permanent Link | Comments (0) |

13 of September, 2006

kualitas

Kemarin malam saya menerima email terusan dari seorang kawan tentang keyakinan si pembuat email bahwa apa yang ia tulis dan nyatakan adalah benar adanya. Setidaknya, ia dalam posisi yang benar. Si penulis email dengan gamblang mengajak pembacanya untuk setuju padanya.

Dari sisi saya, yang tidak secara langsung terlibat dalam kasusnya, tentu mengukur dengan alat yang berbeda. Sayangnya, si penulis email itu menyusun barisan kalimat yang menurut saya sangat rendah kualitasnya. Membuat saya berfikir bahwa serendah itu pula kualitas pikirnya. Persis seperti yang saya duga ketika saya pertama kali mendapat terusan emailnya.

Ia, si penulis email itu, membuat cc email pada banyak orang. Tentu maksudnya agar banyak orang pula yang akan setuju padanya. Sekali lagi, sayang, ia justru sedang menjatuhkan martabatnya sendiri, dengan kualitas emailnya yang rendah itu, maksud saya. Ia mengira, semakin banyak orang lain yang mendapatkan emailnya, maka kemungkinan semakin banyak pula orang yang akan setuju padanya. Ia tidak sadar, bahwa probabilitas yang sama besar juga pada orang yang akan merendahkannya.

Karena itu, hati-hatilah menulis email, karena email anda adalah kualitas anda, setidaknya dalam komunitas ini, komunitas email.

 

Posted by Panthom at 23:59:15 | Permanent Link | Comments (0) |

07 of September, 2006

restrukturisasi

Bagaimana sebuah restrukturisasi dijalankan? 

Belajar dari pengalaman, biasanya semua berasal dari kebutuhan.  Apa yang telah terjadi, apa yang diinginkan terjadi, diantara keduanya tentu ada gap.  Bagaimana gap itu diselesaikan? Pertanyaan ini akan memunculkan kebutuhan. 

Bagaimana kebutuhan itu bisa terpenuhi?  Pertanyaan yang satu ini akan menghasilkan kegiatan.  Bagaimana kegiatan dilaksanakan?  Salah satu jawaban atas pertanyaan ini adalah pelaksana kegiatan. 

Dengan merunut semua pertanyaan ini, maka seharusnya mudah untuk melakukan restrukturisasi sebuah organisasi. 

Sialnya, terlalu banyak faktor tak jelas yang dimasukkan dalam pertimbangan restrukturisasi.  Berbagai alasan digunakan:  Kemanusiaan, rasa nyaman tak nyaman, sampai soal balas jasa. 

Jika ini yang selalu diperhitungkan, maka tak heranlah, loyalitas kita justru pada bendera-bendera orang lain, bukan pada kesejahteraan umat yang sesungguhnya memerlukan.  Pertanyaannya:  kedaulatan siapa yang sesungguhnya kita pertaruhkan?  Sadarkah kita pada tantangan yang sesungguhnya dari peran kita dalam organisasi ini?  Mari berfikir sedikit lebih cerdas.  Kita dikaruniai kemampuan itu, gunakan!

Posted by Panthom at 02:52:26 | Permanent Link | Comments (0) |

pemimpin - introspeksi

Bagaimana cara anda memimpin pengikut anda?  Bagaimana anda memperlakukan pengikut anda?  Bagaimana cara anda menerima pendapat pengikut anda? Sadarkah anda bahwa cara dan kualitas kepemimpinan anda sangat berdampak penting bagi kehidupan pengikut anda?  Sejauh mana profesionalitas anda tempatkan dalam relasi anda dengan para pengikut?  Sejauh mana pula kebenaran akan profesionalisme itu anda terapkan?

Sejuta tanya tentang kapabilitas kita sebagai pemimpin menunggu dalam daftar panjang introspeksi.  Persoalannya, apakah kita punya kemauan untuk menjawabnya?  Secara jujur tentunya.  Karena, jawaban jujur atas pertanyaan introspeksi itu, akan menentukan nasib dan kehidupan orang lain.  Sadarkah bahwa anda sebagai pemimpin sedang mempermainkan kehidupan orang lain?  Mana yang lebih anda dahulukan sesungguhnya?  Prestise anda sebagai pemimpin, atau kualitas kehidupan pengikut anda? 

Semua berpulang pada anda, sebagai pemimpin.  Karena itu, sebagai pemimpin, rajin-rajinlah introspeksi.  Saya sedang belajar tentang ini.  Anda mau ikut belajar?

 

Posted by Panthom at 02:35:33 | Permanent Link | Comments (0) |

kompetensi jabatan

Siang tadi, saya mengikuti sebuah acara yang mereka beri judul "sosialisasi pemahaman kompetensi jabatan di lingkungan pemerintah daerah kabupaten ...".  Intinya, si pembicara hendak menyampaikan bahwa jenjang jabatan di lingkungan pemerintah kabupaten, harusnya didasari oleh kemampuan si calon pemegang jabatan itu.  Semua yang hadir setuju, tak ada bantahan.  Persoalannya, bagaimana fakta membuktikan itu?  Selalu ada faktor "x" yang tak pernah diperhitungkan (atau lebih tepatnya tak mau diperhitungkan).  X adalah kekerabatan, kedekatan, hubungan keluarga, dan uang.  Bagaimana bisa memadukan kemampuan calon dengan faktor X ini?  harusnya inilah materi sosialisasi itu.

Itu menurut saya, menurut anda?

Posted by Panthom at 01:51:17 | Permanent Link | Comments (1) |