menarik pelajaran
Bukan perkara mudah bagi sebagian orang untuk menarik pelajaran dari apa yang sudah berlaku pada dirinya, buruk ataupun baik. Mungkin menarik pelajaran juga tidak penting bagi sebagian orang.
Akhir-akhir ini saya menemui banyak kejadian yang membuat saya berfikir bahwa menarik pelajaran harusnya menjadi satu mata ajaran tersendiri dalam lembaga pendidikan dasar. Ya, mungkin ia menjadi sub mata ajaran “kesadaran diri”, jika ada.
Mengulangi perilaku yang berpotensi memunculkan resiko yang sama, belumlah termasuk dalam kategori pelanggaran “menarik pelajaran”. Masih dibutuhkan satu faktor lagi untuk membuatnya menjadi sebuah pelanggaran, yaitu tidak ada perubahan antisipasi atas resiko itu. “Hanya orang tolol yang terjatuh pada lubang sama”, begitu pepatah menterjemahkan akibat dari pelanggaran itu. Pepatah ini tentunya secara implisit sudah menyebutkan adanya perubahan antisipasi atas resiko jatuh di lubang yang sama. Artinya, jika anda cerdas, sudah memperhitungkan kemungkinan resiko yang ada, juga sudah melakukan perubahan antisipasi, maka mustahil anda terjatuh pada lubang yang sama. (Kalaupun kemudian anda sial, terjatuh pada lubang yang sama, maka itu tidak termasuk dalam kategori pepatah ini. Mungkin akan berlaku pepatah lain, semisal “kekalahan adalah kemenangan yang tertunda”, atau “trial and error”. Ada-ada saja).
Tetapi, kejadian-kejadian di sekitar saya, hampir dipastikan masuk dalam kategori pepatah bersayap itu. Mungkin saya salah, tetapi saya tidak melihat adanya perubahan antisipasi. Bahkan kecenderungannya adalah mengulang perilaku yang sama, dengan modus operandi yang sama, dengan antisipasi yang sama. Sekali lagi, mungkin saya salah.
Mungkin mereka memang sengaja ingin masuk lubang yang sama, dengan motif yang berbeda. Mungkin ini sebuah strategi politik. Mengorbankan satu sisi untuk sisi yang lain. Yaitu mengabaikan sebutan sebagai ”orang tolol” oleh pepatah itu.
