19 of Juli, 2006

like, dislike, professionalism & friendship

Tiga bulan sudah saya bekerja dengan lingkungan baru ini.  Saya masih belum terbiasa dengan pencampuradukkan antara suka-tak suka, sikap profesional dan perkawanan.  Entah saya yang terlalu tolol untuk memahami kesukaan lingkungan baru saya dalam meng-gado-gado-kan empat aspek ini, atau memang kesukaan itulah yang menjengkelkan. 

Pengambilan keputusan dilandasi oleh rasa suka-tak suka dan selalu mengutamakan rasa perkawanan.  Wah, kini perkara rumit.  Faktanya, begitulah, ketidakjelasan pengambilan keputusan dan kewenangan selalu membayangi setiap saat.  Uniknya, ini tidak menjadi masalah bagi mereka, seolah biasa saja. 

Padahal, hanya dengan metode sederhana untuk menganalisis kesehatan sebuah organisasi atau satuan kerja, kita sudah dapat melihat apakah pengambilan keputusan dilakukan dengan tepat. 

Entah tidak terlihat, atau mereka yang memang tak mau berubah.  Au' ah, gelap!!

Posted by Panthom at 03:26:11 | Permanent Link | Comments (0) |

sangkima


Minggu lalu, bersama Syahril & Kang Dadang, dua teman tersisa dalam weekend, saya berkesempatan mencoba memancing di perairan Desa Sangkima, 25-an km dari Sangatta, Kutai Timur.  Nihil kail saya saat itu, hanya ikan-ikan kecil penggerus karang yang berhasil saya pancing, itupun sambil garuk-garuk kepala karena merasa tak pantas & rasa bersalah.  Ikan hias karang kok dipancing.  Maafkan, deh. 

Sahril & Kang Dadang berhasil menaikkan beberapa ekor ikan.  Kakap merah & Ketambak (entahlah, apakah benar begitu menulisnya).  Saya cuma jadi juru foto saja.  Nasib!  Tapi, saya pengen bilang juga, kalau inilah kali pertama saya memancing di dalam hutan mangrove yang benar-benar mangrove!

 Masyarakat Desa Sangkima rupanya sedang melakukan penanaman di hutan mangrove itu.  Dan konon sudah berlangsung lama.  Entahlah, saya juga tidak terlalu peduli siapa yang membantu dan menginisiasi kegiatan ini.  Buat saya, yang paling penting adalah hutan mangrove memang betul-betul bisa disebut mangrove.  "Kami melarang orang menebang di kawasan ini", begitu kata Capung, seorang tokoh muda di desa ini (hmm... si Capung ini juga berhasil menaikkan Kakap dan Sembilang besar, sekali lagi, saya memang sedang apes!!). 

Yang jelas, nyaris tidak tampak kawasan rusak di sepanjang alur Sungai Buaya yang kami telusuri.  Ya, mungkin juga karena kami tidak terlalu jauh berperahu, karena konon di sebelah utara kawasan ini sudah terhampar tambak-tambak besar. 

Saya hanya menikmati hasil kerja mereka saja, tidak lebih.  Begitulah.

 

Posted by Panthom at 03:01:33 | Permanent Link | Comments (1) |