27 of Juni, 2006

tetap kritis

semakin dekat kita dengan seseorang, atau sekelompok orang, maka semakin jelas persoalan yang dihadapi oleh mereka.  maka semakin jelas pula bagaimana kita harus bersikap.  kecenderungannya, semakin dekat kita, maka semakin lunak kita berkomentar. 

bagaimana menjaga kualitas hubungan, tetapi tetap kritis dan vokal?  bagaimana agar kualitas kehidupan menjadi semakin baik, tanpa harus mengorbankan pertemanan, atau bahkan kekerabatan? 

sebagian kawan bilang itu cuma soal cara, bagaimana anda menyampaikan feedback pada kelompok yang amat dekat dengan anda.  saya percaya konsep ini.  masalahnya, saya melihat banyak yang hanya menguliti saja, tanpa (ingin) tau dan terlibat apa hasil di bawah kulit. 

tetap berkawan, tetap kritis, bagaimana rumus jitunya?

Posted by Panthom at 02:13:51 | Permanent Link | Comments (0) |

profesor

pagi tadi, saya mengikuti sebuah seminar tentang rancangan rencana pembangunan sebuah kabupaten di kalimantan timur.  di depan tribun, berjajar enam orang bergelar profesor.  satu diantaranya pernah berstatuskan menteri kabinet negara ini.  mereka semua dimintai tanggapannya atas sebuah dokumen yang dibagikan saat masuk ruangan, dan tentunya untuk enam professor itu sudah berhari lalu dokumen itu ada di pangkuan mereka. 

kacaunya, dari enam orang pandai itu, hanya satu yang memberikan masukan yang secara substansi memang dibutuhkan oleh kabupaten itu.  sisanya, lebih seperti seorang dosen memeriksa usulan penelitian mahasiswa yang dibimbingnya.  parahnya lagi, profesor terakhir hanya memberikan masukan berupa kesalahan arti bahasa indonesia - inggris dan struktur bahasa belaka.

anda tau dari mana para profesor itu berasal? mereka lembaga penelitian dan dari dua universitas terkemuka, semua di luar kalimantan timur. 

bukan hanya saya yang termangu, di belakang saya, seorang pegawai pemerintah menggerutu, "jauh-jauh diminta datang, dibayar mahal, cuma kasih masukan segitu saja.  kita-kita juga bisa!". 

well, saat ini harga masukan bukan cuma dinilai dari apa yang disampaikan, bung!
 

Posted by Panthom at 02:02:12 | Permanent Link | Comments (0) |

kepentingan

minggu lalu saya mengikuti sebuah perencanaan desa di kecamatan wahau, 7 jam perjalanan darat dari samarinda.  desa biasa yang cukup punya banyak kesempatan membangun.  "lima ratus juta rupiah", kata seorang teman yang sehari-hari bekerja disana saat saya tanya berapa kira-kira pendapatan asli desa setiap tahunnya.  "itu termasuk sumbangan pembuatan jalan, jembatan, ataupun rehabilitasi bangunan", ujarnya lagi.

perencanaan desa, bukanlah hal baru bagi kebanyakan kita.  apa sulitnya merencanakan pembangunan sebuah desa kecil yang cuma setarikan nafas panjang jalan utamanya itu?  yang sulit, tentunya mengelola benturan-benturan kepentingan, atas nama yang sama: kesejahteraan masyarakat (desa).  menarik untuk saya karena lima belas tahun yang lalu, kejadian yang sama juga terjadi.  walaupun pada desa yang berbeda, jauh dari desa ini.  bentuknya sama, arahnya juga sama, benturan kepentingan.  saling tarik atas nama hak dan kebenaran. 

saya tidak habis pikir.  tidak ada yang berubah dalam satu tingkatan kelompok masyarakat, dialah kepentingan.

 

 

Posted by Panthom at 01:39:46 | Permanent Link | Comments (0) |

16 of Juni, 2006

lingkungan atas nama siapa..

Pekerjaan saya yang sekarang menjadikan saya cukup dekat dengan mereka yang bekerja pada instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan tambang.  Tidak juga terlalu dekat untuk bisa mengorek berapa banyak gaji dan penghasilan tambahan mereka, tetapi cukup untuk memahami maksud dan pandangan mereka tentang persoalan-persoalan lingkungan. 

Yang cukup mengherankan, sudah sekian lama saya kenal model-model interaksi dalam persoalan-persoalan lingkungan, hingga hari ini masih saja saya dapati interaksi terputus diantara mereka.  Satu mendakwa yang lain sedang mendakwa yang satu.  Ini lucu buat saya, karena bukankah mereka bisa saling berkomunikasi.  Setidaknya, dalam lingkup pekerjaan saya sekarang, memungkinkan mereka bertemu. 

Saya mengira, person-person itulah yang menyebabkan komunikasi itu terhambat, bukan sekedar soal "ideologi" (bah! saya bingung dengan penggunaan kata yang satu ini).  Seorang kawan menyebutkan bahwa opini yang digalang tak beranjak seinchi-pun dari opini beberapa tahun lalu.  Faktanya, memang begitulah.

Mengherankan, mengingat dunia informasi begitu mudah dicapai. 

Lalu, sebenarnya mereka semua bekerja untuk lingkungan, untuk apa, atas nama siapa?

 

 

Posted by Panthom at 03:22:50 | Permanent Link | Comments (0) |

13 of Juni, 2006

orangutan


mereka bekerja biasa saja. bermodal kuas, cat, kain, dan tentunya dedikasi.  hujan, panas (ini beneran hujan dan panas!) kerja jalan terus.  berdedikasikah mereka pada orangutan? atau dedikasi mereka pada kesuksesan acara bedah buku orangutan yang diselenggarakan oleh sebuah unit kerja di universitas mulawarman itu?  yang jelas, anda sulit menemukan orang-orang seperti mereka.  sesulit mereka menemukan generasi penerus.  setidaknya seorang kawan mengeluhkan itu pada saya.  sabar, ndrong!

 

Posted by Panthom at 23:04:48 | Permanent Link | Comments (1) |

07 of Juni, 2006

kekerasan terhadap perempuan

(http://www.hanyawanita.com/hotline/) 

Semakin merebaknya kasus-kasus kekerasan yang dialami oleh wanita dari hari ke hari, tak pelak lagi, telah memicu munculnya kepedulian dari banyak pihak. Ini tak mengherankan, karena dari sekian banyak korban, sebagian besar di antaranya adalah wanita-wanita tak berdaya yang tak tahu kemana mereka harus mencari bala bantuan. Pemerkosaan, pelecehan seksual, perilaku keras suami, perlakuan tak adil dan semena-mena dari lingkungan kerja pada akhirnya menjadi 'agenda' kekerasan yang tak pernah diungkap, karena ketakutan dan ketidakberdayaan wanita.

Women Crisis Centre merupakan jawaban dari derita kaum perempuan. Beberapa tahun belakangan ini kehadiran Women Crisis Centre kian marak tumbuh di beberapa tempat di Indonesia. Membantu para wanita memecahkan masalah mulai dari kondisi fisiknya, mengembalikan kesehatan mentalnya, psikis, sampai mengurus persoalan pada polisi, lembaga hukum dll menjadi idealisme lembaga-lembaga independen ini.

Lembaga-lembaga yang berfungsi sebagai Women Crisis Centre:

1. Divisi Pendampingan Kalyanamitra
Pelayanan : Kekerasan pada wanita
Jl. Kaca Jendela II No.9
Kalibata, Jakarta 12750
Telp/Fax : (021) 790 2112 / 720 2109
E-mail : kalyana@nusa.ir.id
Waktu Pengaduan : 09.00 - 16.00 WIB (Senin s/d Jumat)
Hubungi : Ibu Sekar

2. Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH-APIK)
Pelayanan : Kekerasan pada wanita & Konsultasi Hukum
Jl. Raya Tengah No.16, Rt.01/09 Kramatjati
Jakarta 13540
Telp : (021) 877 97289
E-mail : apiknet@centrin.net.id
Waktu Pengaduan : 09.00 - 16.00 WIB (Senin s/d Jumat)
Hubungi : Ibu Sriwiyanti

3. Komnas Perlindungan Anak
Pelayanan : Kekerasan pada wanita
Jl. Tebet Timur IV No.29
Jakarta Selatan
Telp/Fax : (021) 835 0420
E-mail : komnas@radnet.id
Waktu Pengaduan : 09.00 - 16.00 WIB (Senin s/d Jumat)
Hubungi : Dapat berbicara dengan siapa saja.

4. Forum Pembela Perkara Perempuan
Pelayanan : Kekerasan pada wanita, Perceraian
c/o LBH Jakarta
Jl. Diponegoro 74,
Jakarta Pusat 10320
Telp : (021) 314 5518
E-mail : lbhjkt@cbm.net.id
Waktu Pengaduan : 09.00 - 16.00 WIB (Senin s/d Jumat)
Hubungi : Bpk. Patra

5. Rifka Annisa
Pelayanan : Psikologi & Hukum kekerasan wanita
Jl. Kenari 10, Demangan Baru
Yogyakarta 55281
Telp : (0274) 543 644
Website : www.rifka-annisa.or.id
Waktu Pengaduan : 09.00 - 16.00 WIB (Senin s/d Jumat) 09.00 - siang (Sabtu)
Hubungi : Bpk. Nurhasyim / Ibu Vira

 (http://www.hanyawanita.com/hotline/)

Posted by Panthom at 01:28:07 | Permanent Link | Comments (2) |

pelecehan seksual

Sekedar mencari referensi tentang Pelecehan Seksual, mungkin bisa membantu kawan-kawan yang sedang mengalami, terlibat, mencari tau, akan mengambil keputusan, ataupun menolak definisi ini.

Terkadang kita merasa harus bertindak adil dengan menggunakan ukuran yang sejatinya tidak adil. Bukan berarti saya lebih tau. Sayapun belajar. Mari bertanya pada mereka yang lebih tau.

Ini sepenggal tentang apa itu Pelecehan Seksual:

Secara umum yang dimaksud dengan pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi atau mengarah kepada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti malu, marah, benci, tersinggung, dan sebagainya pada diri individu yang menjadi korban pelecehan tersebut. Rentang pelecehan seksual ini sangat luas, yakni meliputi: main mata, siulan nakal, komentar berkonotasi seks atau gender, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan iming-iming atau ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual hingga perkosaan. Pelecehan seksual bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Meskipun pada umumnya para korban pelecehan seksual adalah kaum wanita, namun hal ini tidak berarti bahwa kaum pria kebal (tidak pernah mengalami) terhadap pelecehan seksual (masih ingat film Disclosure dimana si pria menjadi korban?).

Dari definisi umum tersebut maka pelecehan seksual di tempat kerja dapat diartikan sebagai segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran, dan penolakan atau penerimaan korban atas perilaku tersebut dijadikan sebagai bahan pertimbangan baik secara implisit maupun ekplisit dalam membuat keputusan menyangkut karir atau pekerjaannya, mengganggu ketenangan bekerja, mengintimidasi, dan menciptakan lingkungan kerja yang tidak aman dan tidak nyaman bagi si korban. Pelecehan seksual di tempat kerja juga termasuk melakukan diskriminasi gender dalam hal promosi, gaji atau pemberian tugas dan tanggungjawab.

Dari definisi tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa ciri utama yang membedakan tindakan "suka sama suka" dengan apa yang disebut sebagai pelecehan seksual di tempat kerja adalah:

  • tidak dikehendaki oleh individu yang menjadi sasaran,

  • seringkali dilakukan dengan disertai janji, iming-iming atau pun ancaman,

  • tanggapan (menolak atau menerima) terhadap tindakan sepihak tersebut dijadikan pertimbangan dalam penentuan karir atau pekerjaan,

  • dampak dari tindakan sepihak tersebut menimbulkan berbagai gejolak psikologis, diantaranya: malu, marah, benci, dendam, hilangnya rasa aman dan nyaman dalam bekerja, dsb.

Dua Kategori


Jika merujuk pada Title VII of Civil Right Act tahun 1964 yang telah diamandemen oleh kongres USA pada tahun 1991, pelecehan seksual di tempat kerja dapat dibedakan menjadi:


Quid Pro Quo


Pelecehan seksual tipe ini adalah pelecehan seksual yang biasanya dilakukan oleh seseorang yang memiliki kekuasaan atau otoritas terhadap korbannya, dengan disertai iming-iming pekerjaan atau kenaikan gaji atau promosi. Biasanya pelaku pelecehan seksual tipe ini adalah supervisor, manager, direktur atau pemilik perusahaan. Dalam hal ini jika janji atau ajakan tidak diterima maka bisa berakibat hilangnya pekerjaan, atau tidak mendapat promosi, atau dimutasikan ke tempat, dan lain sebagainya bagi sang individu yang menjadi sasaran (korban). Dalam kasus seperti ini korban pada umumnya berada dalam posisi yang sangat lemah dan sangat berharap bahwa pelaku akan menepati janjinya. Hal ini bisa lihat dari ketergantungan korban terhadap pekerjaan yang dijanjikan (diberikan) oleh pelaku.


Hostile Work Environment


Pelecehan seksual bisa juga terjadi tanpa janji atau iming-iming maupun ancaman. Tetapi dalam lingkungan kerjanya si korban mengalami berbagai tindakan atau perilaku yang membuatnya menjadi tidak tenang dalam bekerja, penuh tekanan, ada rasa permusuhan, tidak memiliki rasa aman dan nyaman dalam melakukan tugas-tugas pekerjaannya, dan sebagainya. Dalam hal ini maka pelaku pelecehan dapat datang dari rekan kerja, atasan, bawahan, maupun dari pihak ketiga seperti klien atau supplier. Dalam beberapa kasus korban mungkin tidak menyadari hal ini karena pelaku menggunakan berbagai cara dan dalih.

(http://www.e-psikologi.com/masalah/021002.htm)

 

Hampir semua korban pelecehan seksual adalah perempuan tidak memandang status sosial ekonomi, usia, ras, pendidikan, penampilan fisik, agama, dsb. Korban pelecehan akan merasa malu, marah, terhina, tersinggung, benci kepada pelaku, dendam pada pelaku, shock, trauma berat, kerusakan organ fisik, dll.

Ada beberapa pasal dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang dapat menjerat seseorang pelaku pelecehan seksual: (1) Pencabulan pasal 289-296. (2) Penghubungan pencabulan pasal 295-298 dan pasal 506.
(3) Persetubuhan dengan wanita di bawah umur pasal 286-288.

(http://situs.kesrepro.info/gendervaw/materi/pelecehan.htm)

 

Apakah pelecehan hanya dilakukan oleh orang yang dikenal sebagai penjahat?

Tidak. Dalam banyak kasus pelecehan dilakukan oleh orang yang sudah dikenal korban. Misalnya: teman dekat, kekasih, saudara, ayah (tiri maupun kandung), guru, pemuka agama, atasan dan sebagainya. Dalam banyak kasus lainya, pelecehan dilakukan oleh orang-orang yang baru dikenal dan semula nampak sebagai orang baik-baik yang menawarkan bantuan misalnya, mengantarkan korban ke suatu tempat.

(http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/pengelolaceria/pp1pelecehanseksual.html)

 

Pelecehan seksual merupakan bentuk dari deskriminasi seksual yang terdiri dari dua bentuk diantaranya yaitu pelecehan seksual ‘quid pro quo harassment (I give, You give)’ yang sifatnya timbal balik yang dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dalam dunia kerja dan pelecehan seksual dalam bentuk kondisi lingkungan kerja yang dapat mempengaruhi kinerja pegawai misalnya lelucon, ejekan dan komentar seksual. Tetapi pada intinya ruang lingkup yang ditekankan pada artikel ini adalah pelecehan seksual yang terjadi pada wanita yang kurang atau tidak diterima pada lingkungan kerja tertentu atau tidak dihargai oleh grup tertentu.

(http://bebas.vlsm.org/v06/Kuliah/Seminar-MIS/2005/93/93-8-Gender_and_Sexual_Harassment-Kel_93.pdf)

Posted by Panthom at 01:01:55 | Permanent Link | Comments (5) |

06 of Juni, 2006

maling

 


Dalam perjalanan ngikut teman, arah Sangatta - Muara Wahau. Puluhan, mungkin seratusan truk bermuatan kayu-kayu besar berjajar santai melenggang. Dipastikan itu semua curian, begitu kata seorang kawan. Saya melotot untuk menunjukkan marah yang tak terhingga atas penggerusan hutan yang sudah tinggal seupil kambing itu. Tapi pelototan saya meredup seketika saat beberapa orang sangar-sangar melotot balik pada saya. Camera digital pinjaman saya turunkan perlahan, gak jadi ambil gambar pos-pos pengutip bayaran itu. Maling-maling di depan mata, mustahil para pemberantas kejahatan itu gak tau. Terus, mau bikin apa? Saya sendiri cuma bisa nulis di blog. Gak berarti apa-apa. Sialan!!

 

Posted by Panthom at 16:46:06 | Permanent Link | Comments (0) |

02 of Juni, 2006

blog


Beberapa teman baru memulai membicarakan apa itu blog. 

Sama seperti saya... Lucunya, blog harus punya etika? yang bener aja...

 

Posted by Panthom at 22:32:58 | Permanent Link | Comments (0) |

janji joni


Saya baru saja selesai menonton film Janji Joni, vcd original yang saya beli sebulan lalu bersama dvd original GIE itu.

Tidak ada hal lain yang saya lakukan disini.  Seusai menulis laporan pendek hasil pekerjaan seminggu.  Tidak ada signal TV, tidak ada  tv kabel, tidak ada  buku bacaan.  Yang ada hanya segepok film VCD dan DVD (yang sebagiannya bajakan itu) yang sama sekali belum saya tonton itu.  Karena itu saya pilih menonton saja.  Janji Joni konon segar.  Tapi ini terbuktikan. Setidaknya saya bisa senyumlah.

Janji ya janji.  Janji untuk menepati janji.  Janji untuk apapun.  Termasuk janji untuk tidak menaruh orang lain dalam posisi paling buruk dalam kehidupan berkawan.  Saya tidak percaya ini tidak akan dilakukan.  Saya lebih percaya bahwa proses pembusukan sedang berjalan.  Bahkan oleh mereka yang saya anggap sudah melampaui ambang pikir sejenis ini. 

Saya berusaha untuk terus berbaik pikir, karena hanya itu yang bisa membuat saya membayangkan senyuman para kawan-kawan yang sudah banyak memberi.  Semoga belajar ini bukan milik saya sendiri.  Atau saya sedang tertipu bualan kelas teri yang berbungkus kertas kado murahan? 

Percayalah kawan, semua pembusukanmu dan bualanmu, saya telan bulat-bulat dalam kunyahan prasangka baik, plus senyuman.. percaya, kan?

 

 

Posted by Panthom at 00:12:20 | Permanent Link | Comments (1) |