Meulaboh
Meulaboh, April 2006, masih menyisakan duka. Disamarkan oleh tawa dan canda. Setidaknya empat kawan baru berkisah, kehilangan sanak keluarga. Ibu, famili, kerabat dekat, lenyap disapu lidah air tsunami. Rumah baru ada dimana-mana, bantuan proyek. Becak-motor ber-plat polisi masih putih-putih banyak bertebaran. Semua bertuliskan "bantuan", "relief", atau sejenisnya. Papan nama bantuan proyek bertebaran. Bukan hanya di mobil-mobil bernomor polisi jakarta, bahkan di kakus-kakuspun logo proyek bertebaran. Tak apa, kami memang butuh, begitu kawan baru saya berkata.
Air tsunami sampai di puncak ruko..., begitu si supir lirih berkata. Sebelah kanan jalan ini habis semua, sekarang baru dibangun, lanjutnya. Kantor "depdikbud" yang prasastinya ini ditandatangani oleh kontraktor, terendam, sisa atap saja.
Kisah dituturkan sambil tersenyum, mungkin sambil menambal luka. Anak-anak korban itu sekarang lebih sering tersenyum. Bersepeda di halaman kantor kecamatan, sekali lagi sambil tersenyum. Atau memang tulus, luka telah pupus, dipoles hiburan dari program kemanusiaan, yang semua mobilnya berstiker-kan "no guns".














Kursus Singkat The Art of Vibrant Facilitation
Bali, 09-12 Mei 2006
_________________________________________________________
