23 of Desember, 2006

menjadi lebih baik

Saya menemukan beberapa perubahan pada beberapa kawan. Dengan positif pikir, saya menganggap ini adalah awal dari perubahan menuju sebuah kebaikan.

Beberapa kawan lain, seperti biasa, menganalisis bahwa perubahan menjadi lebih baik ini, hanya perubahan sesaat, yang akan kembali pada posisi semula, dalam waktu dekat. Saya bukan tidak sependapat. Saya lebih memilih untuk melihatnya sebagai sebuah reaksi positif, tanpa menambahkan ukuran waktu di dalamnya. Bahwa kemudian tidak akan bertahan lama, saya tidak ingin menjadikannya sebagai bahan pembicaraan. Tidak terlalu bermanfaat buat saya.

Saya sendiri sedang terus mencoba untuk berubah menjadi lebih baik. Bukan perkara mudah memang, tapi harus dicoba.

Tantangan terberat saat mencoba berubah untuk menjadi lebih baik, atau mudahnya sebut saja memperbaiki, adalah memulihkan kepercayaan dari mereka yang pernah menerima dampak atas perilaku saya terdahulu. Sekali lancung ke ujian, selamanya tak dipercaya, mungkin pepatah ini yang harus saya hadapi.

Sekali lagi, tidak mudah untuk berubah menjadi lebih baik, tetapi jauh lebih sulit untuk berpura-pura menutupi kekurangan. Setidaknya itu buat saya.

Salut untuk anda yang telah memutuskan untuk berubah, menjadi lebih baik.

Posted by Panthom at 02:07:51 | Permanent Link | Comments (2) |

reward & punishment

Adalah hal yang mudah untuk mengucapkan kata “penghargaan” (reward) dan “sanksi” (punishment). Bagi anda yang saat ini menempati posisi sebagai pengambil keputusan, dua kata ini bagaikan menu siap saji yang setiap saat harus anda pilih untuk bawahan anda. Sedangkan bagi anda yang berposisi sebagai bawahan, dua kata ini bagai siang dan malam yang memang harus anda lalui. Persoalannya, bagi kita semua, bagaimana mengaplikasikan dan memaknai dua kata ini dalam pekerjaan?

Buat saya, dalam konteks tulisan ini, tak soal bagaimana bentuk penghargaan dan sanksi akan diterima. Isu utama saya adalah bagaimana kedua hal ini bisa diterima, apa dampaknya?

Motivasi, itu sesungguhnya yang menjadi kunci dalam reward dan punishment. Bagi mereka yang menerimanya, setidaknya ia diminta untuk memperbaiki, sehingga ia tak lagi menerima punishment atau ia diminta untuk mempertahankannya jika ia menerima reward. Bagi komunitas di sekelilingnya, peristiwa ini akan menjadi motivasi, untuk tidak melakukan hal yang sama jika itu tentang punishment, dan motivasi untuk setidaknya melakukan hal yang sama jika itu soal reward.

Melihat dampak yang ingin dicapai dari sebuah pemberian reward dan punishment, tentu bukanlah sebuah hal yang berlebihan bila kehati-hatian dibutuhkan untuk merencanakannya.

Menjatuhkan punishment dengan dasar dan perhitungan yang tak jeli, hanya akan menebarkan ketakutan dan membunuh kreatifitas. Begitu pula memberikan reward dengan perhitungan yang dangkal, akan merendahkan si penerima dan juga pemberi.

Karena itu, lakukanlah perhitungan yang cermat dalam menjatuhkan punishment dan memberikan reward. Gunakan parameter yang tepat dan sesuai dengan aturan yang selama ini dianut. Kreatif juga dibutuhkan untuk menemukan inovasi yang selama ini belum tercover dalam aturan yang dianut. Tetapi, melampaui strech zone dalam teori kreatifitas, hanya akan membuat --sekali lagi-- si pemberi dan si penerima nampak konyol.

Sejatinya, siapa korban dalam kasus menghukum orang yang tak bersalah atau memberikan reward pada prestasi yang salah? Seharusnyalah, kita bertanggungjawab atas dampak dari apa yang telah kita kerjakan.

Secermat apa kita memberikan reward dan punishment?

Posted by Panthom at 01:59:43 | Permanent Link | Comments (1) |

08 of Desember, 2006

kualitas percakapan

Bagaimana menjadikan diskusi, percakapan dan obrolan menjadi lebih berkualitas?
Bagaimana meningkatkan kemampuan untuk menangkap makna yang tersirat dari kalimat yang tersurat?
Bagaimana mengasah kepekaan diri untuk lebih menghargai teman diskusi?
Bagaimana meningkatkan kualitas artikulasi agar kawan bicara dapat menangkap dengan mudah maksud yang ingin kita sampaikan?

Bukan perkara mudah, memang. Tetapi bukan juga hal yang sulit, jika anda memang berniat melakukannya.

Ini sedikit tips yang saya dapat selama ini. Sebagian diperkuat saat saya bergabung dengan kawan-kawan INSPIRIT Innovation Circles (thanks to Dani,
Budhsi, dan yang lainnya). Belum tentu manjur, tetapi silahkan dicoba:

Pertama, periksa sampai dimana kemampuan dan kualitas bicara anda. Penting untuk mengetahui sejauh mana anda mampu berbicara dengan baik. Caranya, terbukalah pada kawan dekat anda. Minta ia menilai kualitas kemampuan bicara anda. Hindari meminta penilaian pada orang yang takut dan punya hutang budi pada anda. Karena anda hanya akan mendapat pujian palsu belaka.

Kedua, pahami benar apa yang ingin anda sampaikan. Jika anda sendiri belum memahami benar gagasan anda, jangan bermimpi orang lain akan memahami apa yang anda sampaikan.

Ketiga, gunakan bahasa sederhana. Kebanyakan kita sering memilih kata-kata asing hanya dengan tujuan untuk membuat orang lain terpesona. Padahal, yang sesungguhnya terjadi justru kawan bicara kita samasekali tidak memahami maksudnya. Cobalah berani untuk menggunakan bahasa yang sangat sederhana, sering digunakan dan sesuai dengan daya tangkap kawan bicara.

Keempat, bertanyalah. Bagi sebagian besar orang, bertanya identik dengan keterbelakangan. Buang asumsi itu, dan bertanyalah pada saat anda berdiskusi. Dengan bertanya, anda akan mengetahui lebih banyak arena diskusi/obrolan yang anda hadapi. Dengan bertanya, anda dapat mengukur kualitas kawan bicara anda. Jangan pernah takut untuk menanyakan istilah-istilah sederhana yang tidak anda ketahui. Percayalah bahwa dengan menanyakannya, justru anda akan lebih dihargai, ketimbang anda salah mengartikannya.

Kelima, dengarkanlah. Kegagalan utama dalam diskusi atau percakapan adalah keengganan anda untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh kawan bicara anda. Kecenderungannya, anda sibuk dengan pikiran dan gagasan anda sendiri, dan meminta kawan bicara anda untuk mendengarkan. Sadarilah bahwa mendengarkan adalah bagian dari cara anda menghargai kawan bicara anda.

Keenam, simaklah. Mendengar saja tidak cukup. Perhatikan dengan seksama urutan kalimat kawan bicara anda. Pahami benar makna dan maksud yang terkandung dalam setiap baris kalimat yang ia sampaikan. Terkadang kawan bicara kita terlalu berbelit-belit saat menyampaikan gagasan pendek. Jangan tertipu dengan kalimat-kalimat panjangnya, temukan inti dari pembicaraannya. Bertanyalah jika anda merasa ada bagian yang tidak anda pahami, jangan dahulukan asumsi anda.

Ketujuh, gunakan bahasa tubuh yang tepat. Apapun yang anda sampaikan, tidak akan berarti apa-apa jika bahasa tubuh anda bertolak belakang dengan apa yang anda sampaikan. Gunakan bahasa tubuh yang menunjukkan apresiasi anda pada kawan bicara anda. Ada banyak buku yang menjelaskan ketrampilan bahasa tubuh ini. Jangan ragu untuk mencari dan membacanya.

Kedelapan, berpikirlah positif. Yang dimaksud dengan berpikir positif adalah menaruh kawan bicara anda pada posisi setara dan percaya bahwa anda dan dia bisa saling mengisi dan menemukan titik terang dalam setiap isu pembicaraan. Yakinkan diri anda bahwa pembicaraan yang sedang anda lakukan dilandasi oleh kesamaan tujuan pembicaraan (ingat, bukan kesamaan tujuan kegiatan atau prinsip-prinsip), yaitu menemukan titik terang. Berpikir positif tidak sama dengan setuju dengan apa yang disampaikan oleh kawan bicara anda.

Ada beberapa faktor lain yang juga berpengaruh pada kualitas percakapan. Pada dasarnya, semakin anda peduli dengan kualitas proses dan hasil sebuah percakapan anda, maka seharusnya anda semakin peka terhadap faktor-faktor itu. Maka, semakin tinggi keinginan anda untuk memperbaikinya.

Selamat berdiskusi.

Posted by Panthom at 22:40:12 | Permanent Link | Comments (0) |