jadwal kematian

Ade Fadli bicara soal kematian pada satu tulisan blog-nya. Membuat saya teringat satu kejadian di hari ini.
Hari ini, dalam perjalanan Samarinda-Balikpapan, dari jarak 20 meter, saya menyaksikan ajal seorang pengendara sepeda motor melayang dengan mudahnya. Dua detik sebelumnya, saya masih melihatnya bernyawa, di atas sepeda motornya.
Ia adalah seorang pengendara yang melaju -mungkin- dengan kecepatan lebih dari 80 km per jam, mendahului mobil di depannya, di tikungan, melewati garis pembatas jalan, lalu membentur pick-up yang muncul berlawanan, searah mobil saya, berkecepatan 60 km per jam -itu yang ditunjukkan oleh penunjuk kecepatan mobil saya, sedetik saya lirik sebelum saya kembali berkonsentrasi pada kepadatan lalu lintas jalan raya itu. Dari benturannya, saya menduga, si pengendara sepeda motor tak sempat menginjak pedal rem-nya. Saya merasa perlu menelepon sesaat setelah benturan itu. Untuk menguatkan hati, menguatkan pikiran saya. Saya beruntung mendapat tambahan kekuatan seusai menelepon.
Satu nyawa berpulang tadi siang. Saya hanya berfikir, ia mungkin memilih cara kematiannya, sesuai jadwal yang telah ditentukan. Semudah itu kematian datang, tergantung bagaimana kita memilihnya, sesuai jadwal tentunya.
Saya tak membawa kamera, T610 saya mengabadikan kemalangan itu. Dua detik sebelum benturan, saya masih melihatnya bernyawa.
