28 of Oktober, 2006

jadwal kematian


Ade Fadli bicara soal kematian pada satu tulisan blog-nya. Membuat saya teringat satu kejadian di hari ini.  

Hari ini, dalam perjalanan Samarinda-Balikpapan, dari jarak 20 meter, saya menyaksikan ajal seorang pengendara sepeda motor melayang dengan mudahnya. Dua detik sebelumnya, saya masih melihatnya bernyawa, di atas sepeda motornya.

Ia adalah seorang pengendara yang melaju -mungkin- dengan kecepatan lebih dari 80 km per jam, mendahului mobil di depannya, di tikungan, melewati garis pembatas jalan, lalu membentur pick-up yang muncul berlawanan, searah mobil saya, berkecepatan 60 km per jam -itu yang ditunjukkan oleh penunjuk kecepatan mobil saya, sedetik saya lirik sebelum saya kembali berkonsentrasi pada kepadatan lalu lintas jalan raya itu. Dari benturannya, saya menduga, si pengendara sepeda motor tak sempat menginjak pedal rem-nya. Saya merasa perlu menelepon sesaat setelah benturan itu. Untuk menguatkan hati, menguatkan pikiran saya. Saya beruntung mendapat tambahan kekuatan seusai menelepon.

Satu nyawa berpulang tadi siang. Saya hanya berfikir, ia mungkin memilih cara kematiannya, sesuai jadwal yang telah ditentukan. Semudah itu kematian datang, tergantung bagaimana kita memilihnya, sesuai jadwal tentunya.

Saya tak membawa kamera, T610 saya mengabadikan kemalangan itu. Dua detik sebelum benturan, saya masih melihatnya bernyawa.

 

Posted by Panthom at 04:56:59 | Permanent Link | Comments (5) |

23 of Oktober, 2006

sms kolosal lebaran

Sonny Ericsson T610 & Ericsson R520m saya berbunyi puluhan kali hari ini.  Bunyi khas jika ada SMS masuk.  Isinya senada, ucapan selamat lebaran dan mohon maaf.  Beberapa diantaranya menyertakan puisi pendek, atau sekedar pantun bernada humor.  Bahkan satu SMS menyertakan gambar kartun.  Notebook saya yang terhubung dengan dua ponsel saya itupun gagal menterjemahkan kartun itu.

Diantara puluhan SMS itu, ada dua yang secara khusus menyebut nama saya, atau setidaknya menyebut panggilan akrab sehari-hari.  Saya merasa SMS itu hanya untuk saya, bukan SMS kolosal.  Satu diantaranya dari Rudi, berbunyi “selamat lebaran bos, aku mudik ke kalsel”.  Si orang aneh satu ini memang kerap memanggil saya dengan sebutan “bos”.  Sama juga saya kepada dia.  Saya tersanjung, merasa ia hanya mengirim SMS itu kepada saya.  Mudahan.

Sewaktu N9210 saya masih sehat, bukanlah sesuatu yang sukar bagi saya untuk mengirimkan SMS pada puluhan kawan-kawan saya.  Tinggal mengetik SMS, pilih nama-nama kawan, lalu kirim.  SMS akan terkirim dengan sendirinya, saya bisa tinggalkan, bahkan tidur.  Besok pagi tinggal check mana nomor yang ”failed”.  Bahkan, saya dapat mengatur kapan si SMS dikirimkan.  Jam, Tanggal, Bulan, bahkan Tahun.  Fitur N9210 saya kala itu memudahkan semua perilaku praktis saya.

SMS kolosal, begitu saya menyebut puluhan SMS yang seragam dikirim kepada semua orang atau nama atau bahkan nomor yang ada pada handphone.  Beberapa handphone memang memiliki fitur yang memudahkan itu semua.  Atau dengan terhubung pada notebook, perilaku itu memang jauh lebih mudah difasilitasi.  Teknologi memudahkan itu semua.

Tiga tahun lalu, saya mengakhiri perilaku praktis itu, karena merasa tidak menghormati mereka yang saya kirimi SMS.  Saya merasa seperti membagi-bagikan fotocopian selebaran secara random, atau mengirim email yang sama untuk semua alamat email yang ada pada address book saya.  Isinya sama, format sama, bahkan nyaris tanpa “jiwa”.

Barusan masuk lagi SMS yang bernada kolosal.  Saya tidak mau terlarut dalam pikiran negatif.  Saya lihat si pengirim adalah kawan baik saya, teman memancing yang sekarang bekerja untuk sebuah kontraktor pertambangan.  Saya balas sambil becanda ”Lebaran gini masih mikir mancing, gak?”.

Saya harus berfikir bahwa ia mengirim SMS itu khusus untuk saya.  Setidaknya saat ia memilih nama atau nomor saya yang ada di HP-nya.  Ia pasti tulus menyampaikan ucapan selamat lebaran itu.  Ia juga pasti dan sangat tulus menuliskan permintaan maaf itu.  SMS itu pasti ”berjiwa”.  Saya harus berfikiran positif.

Posted by Panthom at 01:42:27 | Permanent Link | Comments (1) |

11 of Oktober, 2006

FPI, amar ma’ruf katanya.

FPI – Front Pembela Islam konvoi lagi, sweeping lagi.

Nakutin saya aja.  Tampangnya sangar, naik motor rombongan, menguasai jalan, gak pake helm, di suratkabar dibilang gak bawa STNK, ada fotonya, dikawal polisi bermotor trail yang tak kalah sangarnya, bawa senjata segala.

Amar ma’ruf nahi mungkar, begitu alasan mereka waktu menolak ditilang.  Nyaris bentrok dengan polisi lalu lintas.  

Saya senyum-senyum mbacanya, sejujurnya nyukurin.  Rasain!

Saya gak mungkin mewakili banyak orang soal ketenangan berkehidupan.  Saya bersikap normal saja, merasa terganggu dengan perilaku yang memang menurut saya mengganggu.

Ya, sama saja terganggunya saya dengan petasan yang dinyalakan saat sahur, atau dengan kebiasaan pengendara meludah dari kendaraan yang sedang berjalan atau dengan perilaku konvoi-brutalnya komunitas black (yang disponsori produk rokok itu).  Pasti saya maki-maki (walaupun dalam hati, gak apalah, paling dosa dikit).

MUI masih ada ya?  Sweeping dan konvoi-nya FPI itu apa gak bisa di-fatwa haram aja?  Kan nakutin orang? Mosok cuma aliran yang gak pake kekerasan aja yang difatwa haram?

Apa gak bisa beragama tanpa nakutin orang lain?

Kalau begini, mana yang amar ma’ruf, mana yang nahi mungkar, sih?

Posted by Panthom at 14:59:09 | Permanent Link | Comments (6) |

parcel & kpk

Empat tahun lalu, saya bersitegang soal bingkisan lebaran ini. Sebuah Badan Pengelola, mitra kerja saya waktu itu, mengalokasikan setidaknya 30 bingkisan atau parcel untuk 30 nama. Pejabat, tokoh masyarakat, aktivis LSM, pimpinan lembaga internasional, bahkan peneliti asing, ada dalam daftar calon penerimanya. Tidak banyak memang, hanya 30 bingkisan saja. Jika uangkan, seingat saya, saat itu total bernilai enam juta rupiah.

Mengapa saya menolak rencana pengadaan parcel itu? Pertama, perjalanan uang untuk pengadaan yang diambil dari operasional yang bersumber dari APBD itu terlalu mahal. Mahal secara psikologis dan moral. Kedua, 30 nama itu samasekali bukan orang yang miskin, bahkan jauh dari sederhana. Ketiga, itu perilaku korupsi (ini eksplisit saya sampaikan). Badan Pengelola kala itu sedang susah secara finansial, aneh kalau masih sempat memikirkan pengadaan parcel untuk kaum yang tidak tepat menerimanya. ”Sudah menjadi tradisi disini”, begitu kata aktivis LSM yang ngotot memperjuangkan gagasan ini. Mual saya.

Akhirnya, saya tetap jadi pecundang saja. Parcel tetap dibeli, dan dibagikan kepada nama-nama itu. Dengan mata kepala sendiri akhirnya saya menyaksikan isi parcel dikonsumsi secara mewah, sedikit-sedikit, bahkan nyaris belum habis saat mendekati ramadhan setahun setelahnya. Si penerima sebenarnya tidak butuh parcel, itu jelas. Ini satu dari sekian alasan saya untuk memilih lokasi kerja lain.

Sekarang, KPK mengeluarkan surat edaran soal yang sama, parcel. Lalu ramai-ramai orang mematuhinya. Karena apa kepatuhan itu? Patuh pada surat KPK, takut disalahkan, atau patuh pada maksud yang terkandung dalam edaran itu?

Tidak ada yang murni, kok, begitu kata seorang kawan pemilik kedai pancing di depan stadion sempaja. Kira-kira setahun yang lalu ia ucapkan itu sambil garuk-garuk kepalanya yang mulai beruban itu ketika saya tanyai pendapatnya soal parcel ini. “Mumet ndasku” katanya lagi.

Ya, memang, KPK. Edaranmu basi!!

Posted by Panthom at 14:51:17 | Permanent Link | Comments (1) |