Para Calon Walikota Samarinda, selamat malam.
Saya ucapkan selamat kepada anda semua, setidaknya selamat untuk menjadi calon Walikota Samarinda. Apapun motivasi dan cara yang anda lakukan, menjadi calon Walikota pasti bukanlah pilihan mudah. Entah apakah sejumlah uang atau seember keringat atau satu truk petuah yang telah anda keluarkan, yang jelas menjadi calon Walikota pasti butuh pengorbanan, apapun itu. Setidaknya, harus diakui bahwa CV anda bertambah karenanya. Selamat.
Begini, sedikit hal yang ingin saya sampaikan kepada anda semua, berkenaan dengan posisi anda sebagai calon Walikota Samarinda. Saya tidak tahu apakah ini semua bermanfaat untuk anda, tetapi sebagai warga Kota Samarinda, saya merasa harus menyampaikan ini, karena saya merasakannya.
Pertama, soal bagaimana massa anda berkampanye. Saya tidak tahu apakah anda memperhatikan bagaimana massa anda berkampanye (untuk anda). Pengalaman nyata saya, ketika terjebak dalam rombongan kecil massa kampanye dari salah satu dari anda menunjukkan bahwa betapa mereka, para orang-orang yang konon mendukung anda itu, telah melakukan hal yang menakutkan bagi kami warga Samarinda, yang sesungguhnya adalah lumbung suara bagi Anda. Di simpang empat Vorfo, serombongan masa itu menerobos ramainya lalu lintas sambil membunyikan klakson semua kendaraan mereka dan berteriak-teriak memerintahkan semua kendaraan untuk menyingkir, termasuk kendaraan yang saya kendarai. Di depan saya, sebuah mobil tua berjalan pelan, tak peduli, bahkan cenderung memperlambat lajunya, tak juga menepi, justru bertahan di tengah jalan. Pada awalnya saya heran, mengapa pengendara mobil ini seolah tidak memperdulikan teriakan dan klakson dari massa kampanye calon Walikota, yang lebih terdengar sebagai teror, itu? Perkiraan saya, setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, si pengemudi tidak mendengar, karena mobilnya dilengkapi peredam suara yang cukup baik, atau kedua, si pengemudi kemungkinan bekerja sebagai tentara atau tokoh preman kota ini (bukankah biasanya hanya tentara dan tokoh preman yang tak peduli dengan hal begini? Setidaknya tidak takut lah..). Ternyata perkiraan saya salah. Sesaat setelah saya berhasil mendahului mobil tua itu, nampak lebih dekat oleh saya fisik mobil tua itu. Jelas, tidak mungkin mobil penuh lubang dan karat itu mempunyai peredam. Lalu, terlihat oleh saya sang pengemudi nekat itu. Ia seorang perempuan tua, mungkin diatas 50 tahun, yang justru terlihat bingung dan panik. Sekali lagi, perkiraan saya salah!
Tetapi, wahai para calon Walikota sekalian, bukan hanya itu yang membuat saya terpukau. Sesaat setelah saya berada di depan mobil si ibu tua itu, saya menyempatkan melirik spion (tindakan rutin setiap pengendara setelah mendahului, bukan?). Saya hanya dapat menahan nafas saat menemukan pemandangan yang tidak nyaman dari spion saya. Sebagian dari massa itu, yang berkendaraan sepeda motor, kemudian mendahului si Ibu tua pengemudi mobil tua itu sambil berteriak kearahnya, meraung-raungkan mesin sepeda motor, dan membunyikan klakson tak henti. Saya tidak mendengar jelas apa yang mereka teriakkan. Tapi dari gerakan tangan dan sepeda motornya, gampanglah ditebak bahwa massa itu memerintahkan si ibu tua mempercepat mobilnya, atau segera menepi. Maksudnya tentu agar rombongan mereka tidak terhalang.
Sampai disitu saja pemandangan itu, karena saya segera berkonsentrasi dengan lalu lintas di depan saya. Saya tidak mau terlihat konyol karena menabrak pengendara di depan saya yang juga terburu-buru menghindari raungan kendaraan dan klakson massa itu. Bukan main, kami semua, puluhan pengendara jalan raya, yang bukan bagian dari massa itu, seketika menjadi orang-orang yang mahir mengendara dengan kecepatan tinggi. Bukan, bukan karena kami tiba-tiba berubah menjadi Power Ranger, film anak-anak itu. Bukan pula karena kami tiba-tiba kebelet pipis, lalu ingin cepat pulang. Kami serempak melaju karena kami tak ingin massa itu mendekati kami dan lalu memekaki kami dengan klakson dan teriakan mereka. Lebih jauh, kami tak ingin babak belur konyol kalau kemudian kami salah kecepatan dan kemudian bersenggolan dengan mereka, dan kemudian ..... ya anda betul, mungkin puluhan bogem mentah dengan senang hati menghiasi wajah kami.
Calon Walikota Samarinda, pasti anda ingin bilang, bahwa itu semua bukan bagian dari kampanye anda. Atau mungkin anda akan bilang itu semua diluar kendali anda. Atau bahkan anda mau bilang itu bukan massa anda. Boleh-boleh saja. Dan jangan harap saya mau menyebutkan dari calon mana massa itu berasal. Jangan harap. Saya hanya mau bilang, betapa bahwa perilaku massa itu justru menimbulkan antipati dari kami, pengguna jalan, masyarakat biasa, lumbung suara anda.
Calon Walikota, kami tidak butuh sesuatu yang sulit untuk anda penuhi. Hanyalah kenyamanan beraktivitas, kenyamanan berusaha dan keamanan dari orang-orang dekat kami. Kalau dalam masa kampanye ini saja anda tidak dapat memenuhinya, lalu bagaimana kami yakin harus memilih anda? Lupakan suara dari kami! Maka kemudian, adalah sebuah keheranan yang amat sangat bagaimana anda bisa memenangkan tampuk pimpinan Walikota Samarinda? Dari mana simpati itu berasal wahai Calon Walikota?
Sekali lagi, lupakan suara kami. Dan jangan bermimpi kami serahkan suara kami untuk anda.
Ini hanya satu sisi dari penilaian saya terhadap anda. Jika saya berkesempatan, saya akan tuliskan sedikit tentang materi-materi kampanye anda, yang sebagian adalah kemustahilan dan ketidak rasional-an itu. Jika saya ada waktu dan mood tentunya.
Satu hal, saya hanya akan memilih calon yang santun. Track record tentunya yang jadi indikator.
Selamat malam..