helm standart dan hukum pasar

rekans,

Menjadi biasa-biasa saja, begitu yang aku inginkan. Susahnya, lingkungan gak mudah menerima itu. Aku harus deal dengan lingkungan.
Punya rumah biasa saja, type 36 plek (maksudnya ya type 36 saja, gak usah ditambah-tambah) harusnya udah seneng, harusnya udah tenang (soalnya masih banyak teman lain yang ngontrak).
Punya motor bebek, merek biasa-biasa saja, harusnya ya senang minta ampun (soalnya masih banyak teman yang pake motor jauh lebih butut, atau bahkan naik angkot kesana-kemari).
Punya hape yang bisa blutut dan koneksi internet, harusnya sungguh sangat senang dan antusias (soalnya banyak teman yang bahkan gak ngerti gimana caranya mengoptimalkan hape-nya).
Punya notebook kapasitas 60GB dengan screen true color, harusnya sudah gak mikir lagi harus bingung kerja pake apa (soalnya banyak banget teman-teman yang samasekali gak punya notebook, mungkin juga ini soal pilihan, bukan soal perlu atau gak perlu)
Sulitnya, semua menjadi serba kurang, dan menjadi serba tidak sempurna, manakala lingkungan mulai bergerak ke kiri dan kanan, manakala komitmen-komitmen mulai dikumandangkan, manakala kesepakatan mulai diikrarkan, manakala hati ini dipenuhi dengan iri dan dengki, dan bukan sekedar pemenuhan kebutuhan hidup.
Lalu, untuk apa semua ini?
Gak ada batasan umur untuk belajar.. itu yang aku pahami.
Tapi, semalam, waktu aku pengen belajar bikin web, kok susah banget masuk otak.. apa emang sulit atau aku yang rada bloon, atau si"guru" yang gondrong, jadi bikin takut si ilmu mentransferkan dirinya..
Tapi ya begitulah, memang harus belajar terus, supaya lebih faham, lebih fasih, dan yang lebih penting adalah lebih update. Soalnya geli lucu juga kalo inget dosenku dulu. Bukunya lusuh dan berwarna debu. Mungkin kalo bia diintip, keluaran tahun 1956..ha..ha..(enggaklah segitu tua). Tapi ya gitu, kita ikutin semua yang dia ajarkan hanya semata karena kewajiban sebagai mahasiswa, bukan karena butuh ilmunya.
Jadi, mungkin juga gak masalah dianggap gak pinter dan dianggap ketinggalan jaman, toh ilmu memang harus dipelajari, diupdate, karena gak statis.
Belajar..belajar.. dan belajar... kayaknya bisa dibikin jadi zikir... he..he..he...
Jujur gak selalu baik, tak selalu buruk..
Jujur gak selalu nyaman untuk orang lain, tapi belum tentu pula mengganggu orang lain.
Jadi, seperti pilihan juga...
Harus pinter-pinter cari waktu,
Kapan harus jujur, kapan harus tak jujur...
Memualkan!!
Pilihan, bukan sesuatu yang mudah...
Pilihan bisa jadi sesuatu yang baru dan inovatif...
Tapi pilihan bisa juga old fashion dan buruk rupa..
Pilihan bukan selalu nyaman, tapi tak juga selalu menyusahkan...
Pilihan adalah pilihan, bukan takdir...
Jadi, ya... enjoy aja...
Sutewe abdul manaf, begitu aku memberinya nama. Temanku, yang harusnya menjadi kakakku ini memang sedikit unik. Bukan Cuma gaya-nya, langkah kerjanya juga unik, tapi cenderung patut ditiru.
Soal nama, bukan sembarangan, aku sebut Sutewe Abdul Manaf, karena memang kupikir (namanya juga kupikir) mirip memang nama aslinya, lalu aku tambah dengan nama yang mirip dengan pejabat teknis kehutanan di propinsi, lucu saja, gak ada tendensi, sih.
Gayanya itu yang mengesankanku... kalem, menanggapi dengan hati-hati, tidak tendensius, datar, bahkan sering menyentuh sisi kemanusiaan, ini yang sering bikin aku garuk-garuk kepala..
Tapi, gaya itu juga yang sering bikin orang lain menilai rendah (ini bahasa inggrisnya "under estimate", kan?). padahal, kalo saja orang-orang itu tau betapa dia mampu mengatasi berbagai persoalan, walaupun "slow".. begitu kata yono.or.id..
Kenapa aku blog namanya disini? Gak apa, aku kangen aja. Gak boleh??
Selamat datang dan terima kasih, atas kesediaan menilik.
Ini bukan blog spesial, cuma blog biasa, tempat saya menuangkan beberapa pikiran, yang mungkin tidak terlalu penting buat yang lain...
Well, terima kasih anyway...