24 of May, 2005

helm standart dan hukum pasar


rekans,
 
mending fokus di penegakan aturan yang menyedihkan, bukan pada satu hal, harga helm.
 
aneh juga, soalnya bukannya aturan berkendara yang mewajibkan penggunaan helm standart sudah ada sejak diberlakukannya PP 44/93 (setelah ada penundaan UU 14/92)? jadi, harusnya sudah ada penegakan sejak itu.  nyatanya kompromi-nya beda-beda tiap wilayah.
 
flashback saja;  seingat saya (mohon betulkan saya kalo salah): ada penolakan (besar-besaran) saat mulai diberlakukannya wajib helm di samarinda, lalu perlahan mulai bisa diterima karena penegakan cukup konsisten.  lalu muncul berbagai bentuk helm, termasuk "helm proyek", yaitu helm yang harusnya hanya dipergunakan pada kerja konstruksi atau untuk keperluan safety pekerja. dibiarkan cukup lama, lalu kemudian ditertibkan, dan yang berlaku adalah yang kebanyakan digunakan sampai saat ini, yaitu "helm kura-kura" (entah apa nama resminya).  pada tengah perjalanan, saya ingat juga ada sosialisasi penggunaan "helm standart" pada pengemudi sepeda motor yang berada di depan, sedangkan yang dibelakang cukup helm kura-kura.  ini kemudian direspon beragam, ada yang setuju, lebih banyak yang menggerutu.  kenyataannya, ini tidak ditegakkan secara bener, sehingga para pengendara sepedamotor lebih banyak menggunakan helm kura-kura itu tadi.
 
lalu, sekarang mulai ditegakkan kembali, "helm standart".... dan karena itu, berdasar pengalaman samarinda, wajar kalau ada penolakan (dan juga gugatan) atas penegakan (saya bilang begitu, bukan pemberlakuan) ini.  karena memang pada sejarahnya penegakan aturan di negara samarinda ini parah amit!
nah, jadi, bukan perkara bagaimana "standart" itu, dan bukan pula perkara berapa harga helm.  tapi memang kepuasan atas konsistensi penegakan-nya yang lebih berpengaruh.  sekali lagi, ini berdasarkan analisis awam saya soal perilaku pengendara sepedamotor di samarinda, bukan kajian mendalam.
 
kalo boleh sedikit usul, mending yang disorot soal lemahnya penegakan itu sendiri.  dimana sebenarnya titik buntu-nya?  contoh kecil (tapi sumpah mampus bikin saya dongkol minta ampun) adalah perilaku para polisi-polisi ber-motor trail yang suka kebut-kebutan (yang menurut saya gak ada alasan jelas-nya) di jalan raya.  lha? apakah karena punya kewenangan untuk memberantas kejahatan (kayak spiderman, ya?) lalu boleh mengabaikan keselamatan pengendara lainnya?  kalau karena kebut-kebutan itu, lalu terjadi tabrakan antara sang polisi nan gagah berani itu dengan masyarakat sipil, berani taruhan, si masyarakat sipil pasti ditaruh pada posisi salah bin dosa. :-(
 
contoh pengalaman yang tadi siang saya alami, di sebuah jalan kecil (ah, lupa namanya, jalan satu arah dari Hidayatullah menuju Mulawarman), yang terkenal super macet itu, saya melintas.  tiba-tiba, seperti penguasa jalanan, sebuah mobil patroli polisi (bukan patroli lalu lintas, mungkin karena itulah!) memotong didepan saya.  jika saja saya tidak mendadak berhenti, mungkin sudah saya "cium" itu mobil patroli!!  nah, kalau para penegak hukum saja memperlakukan hukum seperti itu, lalu siapa yang harus ditiru? saya kira kedongkolan-kedongkolan "kecil" seperti ini, kalau dijumpai setiap hari, jadi akumulasi juga.  kompensasinya apalagi kalau bukan hit the rule, tabrak aja aturan, toh yang menegakkan juga melanggar.
 
soal yang disebut penggalangan dana, saya kira wajar saja.  seperti yang disampaikan Mas Heri, ini hukum pasar, supply-demand. 
bahwa ada konstelasi dari pembagian keuntungan atas penjualan helm, mungkin saja ada benarnya.  tapi, harus diuji dan dibuktikan.  siapa yang diuntungkan? kapolres? walikota? atau pengusaha?
kalau yang diuntungkan kapolres atau walikota, bagaimana alurnya? sekian persen dari rupiah penjualan helm? siapa yang jualan helm? apakah pemasok helm di samarinda dimonopoli seorang pengusaha saja? apakah pengusaha itu ada perjanjian khusus dengan pengambil keputusan penegakan ini? bagaimana membuktikan ini? DPRD punya kekuasaan untuk membuktikan ini? apakah mereka mau pakai kekuasaan itu? kalau mau ya syukur, kapan? kalo gak mau, kenapa? ..... (awas hati-hati, anggota dewan itu kita juga yang milih, kan?  ujungnya, salahnya ke kita juga...he..he..
 
kalo saya sih, simpel aja.  karena saya ngak nemukan aturan yang secara gamblang bilang "kriteria helm standart adalah...." (sialnya referensi saya cuma UU 14/92 & PP 44/93), dan saya hanya menemukan kriteria itu dalam himbauan-himbauan (dan seingat saya pada spanduk dan semacam baliho), maka saya ambil keputusan pake helm yang aman menurut saya.  yang kalo saya "tejerungkup" tidak akan membuat otak saya jadi saus tomat-nya aspal. :))  gak perlu yang "mahal" (relatif, nih), yang penting aman.  kalo ternyata kemudian keserempet truk karena mereka seperti penguasa jalanan (kata Mas AdeTimpakul), ya itu gak ada hubungannya dengan standarisasi helm versi saya, kan? nasib deh..
motor ya saya lengkapi aja.  spion & surat-surat.  syukur-syukur semua fungsi fisik motor bisa bekerja baik; rem, lampu penanda arah, lampu rem, dll. 
toh kalau semua lengkap dan kita merasa aman, gak ada masalah untuk berkendara.  saya sih gak ada urusan dengan polisi-polisi itu, sepanjang mereka gak ganggu, kan?
 
eh, saya jadi inget soal SponsBob & Dora, kartun di tivi yang lagi ngetrend jadi boneka-boneka goyang.  samarinda lagi boom soal ini, di tepian mahakam tiap sore bisa dilihat puluhan pedagang memajang boneka mereka.  harganya kira-kira yang kecil 13.500 rupiah, yang besar 18.500 rupiah.  siapa yang diuntungkan dalam hal ini? apakah ini sebuah konstelasi? ataukah ini permainan fundraising pilkada? ah, apakah saya mikir terlau jauh?  kata teman yang jualan pancing, ini soal rupiah, bung! ada permintaan, ada barang.  bedanya dengan penegakan helm standart cuma bahwa  gak ada undang-undang dan peraturan pemerintah yang mengatur SponsBob dan Dora wajib dimiliki oleh semua anak-anak di samarinda. :))   
 
salam,
panthom
  
Posted by Panthom at 02:06:51 | Permanent Link | Comments (5) |

20 of May, 2005

korupsi

korupsi, satu kata yang selalu mengganggu..
12 mei 2005, seorang teman posting berita, bahwa ada iklan unik di Bisnis Indonesia.
http://priyadi.net/wp-content/ampun.jpg
penasaran, aku akses, dan sungguh aku menemukan sebuah iklan sarkasme yang harusnya di-malu-kan oleh mereka, si empunya perusahaan, dan orang-orang yang menyebutnya penegak hukum itu.
korupsi, yang beberapa waktu lalu juga berlompatan didepan mataku, didepan hidungku.  mungkin mereka tak menganggap bahwa mengalokasikan sejumlah dana yang seharusnya diperuntukkan bagi konservasi menjadi  bingkisan parsel adalah sebuah tindakan korupsi.  soalnya sungguh sangat ngotot dan menyatakan diri sebagai kebenaran, saat mempertahankan itu.  "disini sudah biasa", "ini demi kelangsungan program juga, karena pasti mereka tidak terlalu suka dana besar lewat instansi mereka, tapi mereka tidak megecap sedikitpun", begitu beberapa alasan yang mereka pakai.
yang aku herankan, ada pula NGO yang direkturnya justru memperlancar urusan  (yang menurutku) tilep-menilep itu.  entahlah, sebagai individukah dia, atau sebagai direktur-kah dia.  seingatku, sebagai NGO, fungsi kontrol haruslah utama.  bukan kemudian menjadi pelicin, bahkan katalis.
korupsi, sebuah kata yang anehnya dimaknai sebagai sebuah kesalahan, tetapi dimanipulasi untuk kemudian dilaksanakan berwujud kebenaran.
kalau anda percaya laknat, semoga ada porsi untuk kelakuan semacam ini.

Posted by Panthom at 19:34:24 | Permanent Link | Comments (0) |

12 of May, 2005

untuk apa?

Menjadi biasa-biasa saja, begitu yang aku inginkan.  Susahnya, lingkungan gak mudah menerima itu.  Aku harus deal dengan lingkungan. 

Punya rumah biasa saja, type 36 plek (maksudnya ya type 36 saja, gak usah ditambah-tambah) harusnya udah seneng, harusnya udah tenang (soalnya masih banyak teman lain yang ngontrak).  

Punya motor bebek, merek biasa-biasa saja, harusnya ya senang minta ampun (soalnya masih banyak teman yang pake motor jauh lebih butut, atau bahkan naik angkot kesana-kemari).

Punya hape yang bisa blutut dan koneksi internet, harusnya sungguh sangat senang dan antusias (soalnya banyak teman yang bahkan gak ngerti gimana caranya mengoptimalkan hape-nya).

Punya notebook kapasitas 60GB dengan screen true color, harusnya sudah gak mikir lagi harus bingung kerja pake apa (soalnya banyak banget teman-teman yang samasekali gak punya notebook, mungkin juga ini soal pilihan, bukan soal perlu atau gak perlu)

 

Sulitnya, semua menjadi serba kurang, dan menjadi serba tidak sempurna, manakala lingkungan mulai bergerak ke kiri dan kanan, manakala komitmen-komitmen mulai dikumandangkan, manakala kesepakatan mulai diikrarkan, manakala hati ini dipenuhi dengan iri dan dengki, dan bukan sekedar pemenuhan kebutuhan hidup.

 

Lalu, untuk apa semua ini?

Posted by Panthom at 01:13:25 | Permanent Link | Comments (1) |

11 of May, 2005

belajar..

Gak ada batasan umur untuk belajar..  itu yang aku pahami. 
Tapi, semalam, waktu aku pengen belajar bikin web, kok susah banget masuk otak.. apa emang sulit atau aku yang rada bloon, atau si"guru" yang gondrong, jadi bikin takut si ilmu mentransferkan dirinya..

Tapi ya begitulah, memang harus belajar terus, supaya lebih faham, lebih fasih, dan yang lebih penting adalah lebih update.  Soalnya geli lucu juga kalo inget dosenku dulu. Bukunya lusuh dan berwarna debu. Mungkin kalo bia diintip, keluaran tahun 1956..ha..ha..(enggaklah segitu tua).  Tapi ya gitu, kita ikutin semua yang dia ajarkan hanya semata karena kewajiban sebagai mahasiswa, bukan karena butuh ilmunya.

Jadi, mungkin juga gak masalah dianggap gak pinter dan dianggap ketinggalan jaman, toh ilmu memang harus dipelajari, diupdate, karena gak statis.

Belajar..belajar.. dan belajar... kayaknya bisa dibikin jadi zikir... he..he..he...

Posted by Panthom at 14:42:06 | Permanent Link | Comments (0) |

10 of May, 2005

Jujur.. gitu lohh!

Jujur gak selalu baik, tak selalu buruk..

Jujur gak selalu nyaman untuk orang lain, tapi belum tentu pula mengganggu orang lain.

 

Jadi, seperti pilihan juga...

Harus pinter-pinter cari waktu,

Kapan harus jujur, kapan harus tak jujur...

 

Memualkan!!

Posted by Panthom at 18:25:38 | Permanent Link | Comments (3) |

pilihan

Pilihan, bukan sesuatu yang mudah...

Pilihan bisa jadi sesuatu yang baru dan inovatif...

Tapi pilihan bisa juga old fashion dan buruk rupa..

Pilihan bukan selalu nyaman, tapi tak juga selalu menyusahkan...

Pilihan adalah pilihan, bukan takdir...

Jadi, ya... enjoy aja...

Posted by Panthom at 18:20:02 | Permanent Link | Comments (0) |

sutewe

Sutewe abdul manaf, begitu aku memberinya nama.  Temanku, yang harusnya menjadi kakakku ini memang sedikit unik.  Bukan Cuma gaya-nya, langkah kerjanya juga unik, tapi cenderung patut ditiru.

Soal nama, bukan sembarangan, aku sebut Sutewe Abdul Manaf, karena memang kupikir (namanya juga kupikir) mirip memang nama aslinya, lalu aku tambah dengan nama yang mirip dengan pejabat teknis kehutanan di propinsi, lucu saja, gak ada tendensi, sih.

Gayanya itu yang mengesankanku... kalem, menanggapi dengan hati-hati, tidak tendensius, datar, bahkan sering menyentuh sisi kemanusiaan,  ini yang sering bikin aku garuk-garuk kepala..

Tapi, gaya itu juga yang sering bikin orang lain menilai rendah (ini bahasa inggrisnya "under estimate", kan?).  padahal, kalo saja orang-orang itu tau betapa dia mampu mengatasi berbagai persoalan, walaupun "slow".. begitu kata yono.or.id..

Kenapa aku blog namanya disini? Gak apa, aku kangen aja. Gak boleh??

 

 

Posted by Panthom at 17:33:36 | Permanent Link | Comments (2) |

08 of May, 2005

thanks..

 

Selamat datang dan terima kasih, atas kesediaan menilik.

Ini bukan blog spesial, cuma blog biasa, tempat saya menuangkan beberapa pikiran, yang mungkin tidak terlalu penting buat yang lain...

Well, terima kasih anyway...

 

Posted by Panthom at 18:34:45 | Permanent Link | Comments (3) |