31 of Oktober, 2005

Reverse




Reversing how you look at a situation can open up new possibilities and dislodge assumptions.

Example: when everyone else is gazing at a glorious sunset, why not turn around to see the blues and violets behind you? What do you notice when you look at a coffee cup? Its design or color? Reverse your focus and look at the space inside -- that's what gives it its functional value.

Example: spend a minute describing a current problem. If you're a male, describe it from the female viewpoint. If you're a female, do the reverse. How can you reverse your viewpoint? What is the "most important" part of your issue or problem? What if you viewed it as the "least important?" What is the unfriendliest part of your issue]? What if you viewed it as the "friendliest?" What is the "most serious" part of your issue? What if you viewed it as the "most frivolous?" What is the "most time-consuming" part? What if you gave it "no time at all?" What is the "loudest" part?" What if you didn't "hear it all?" What is the "quietest" part? What if "that's all you heard?" What is the "most boring" part? What if you made it the "most exciting?"

source: CreativeThink
Posted by Panthom at 23:34:32 | Permanent Link | Comments (1) |

What is Coaching Psychology?

Many people are familiar with the notion of a "sports coach", someone who works with athletes and teams to improve their skills, develop strategy and to maximise their chances of winning. The contemporary notion of a coach takes this idea and extends it into other, non-sport related areas of life. 

Coaching is about bringing about positive change with a view to achieving desired goals.  Central to coaching is the notion that we can change, that we are not forever stuck with dysfunctional behaviours and that both individuals and organisations can improve. The main role of the coach is to facilitate this positive change process, enabling the individual or the organisation to succeed and ultimately, to become their own coach.

Coaching psychology is a relatively new approach to the enhancement of human performance, although it derives from the well established professions of clinical and organisational psychology.  In addition, coaching psychology incorporates aspects of education, training and consulting. 

Where clinical and counselling psychologists tend to work with clients who are distressed and/or dysfunctional, coaching psychologists work with well-functioning clients, using theoretically grounded and scientifically validated techniques, to help them reach goals in different parts of their lives. 

Because, as noted above, coaching psychology draws on established psychological theory and practice, the principals underlying coaching are not new or untested. What is new, and very exciting, is how coaching (business, executive and life coaching) adapts tried and tested techniques to the enhancement of performance and well-being in a wide range of non-clinical settings.

source: Making Changes at www.makingchanges.com.au

Posted by Panthom at 22:05:57 | Permanent Link | Comments (0) |

Training Seni Fasilitasi VI & VII

kemarin, saya menerima sms.  isinya tentang pemberitahuan rencana training seni fasilitasi angkatan ke VI dan VII.  training ini dilaksanakan oleh Inspirit Innovation Circles, komunitas kecil fasilitator, tempat saya mencari ilmu.  training akan dilaksanakan tanggal 27 nov - 5 des 2005 di bali. 

yang membedakan training angkatan ini adalah rencana kelas pararel, yaitu dua kelas yang berjalan bersamaan.  selain itu, kelas advance juga akan dibuka, khusus untuk mereka yang berminat, dan alumni angkatan I sampai V tentunya.

yang menarik, satu kelas training VI sudah booked.  jadi, hanya ada slot satu kelas saja.  padahal marketing-nya personal saja.

saya jadi coba menghubungkan tingginya antusias calon peserta dengan kenyataan bahwa proses fasilitasi yang belum dihargai sebagai proses.  ada banyak alumni training, tetapi tak ada penghargaan atas proses yang akan difasilitasi.

rupanya, benar juga, harus ada edukasi khusus untuk membuat proses fasilitasi dihargai.  mungkin bukan dalam paket training ini.  mungkin paket lain.  supaya 'martabat fasilitator gak segitu-segitu aja', kata dani.


Posted by Panthom at 09:04:00 | Permanent Link | Comments (2) |

nuto dan kamto

dua hari lalu, saya bersama nuto & kamto, memancing di sungai mahakam.  lokasi yang kami pilih adalah sebuah dermaga kecil di anggana, 30 menit dari samarinda. 

kami bertiga tahu betul bahwa kondisi air tidak cukup bagus untuk memancing.  selain keruh karena sehari sebelumnya turun hujan lebat, juga jadwal pasang surut yang tak cocok.  tapi, seperti biasa, kami tak pernah membatalkan rencana memancing jika sudah disepakati, kecuali ada kondisi luar biasa.  tak banyak hasil yang kami dapat.  hanya 3 ekor udang dan 5 ekor ikan ukuran sedang.  beberapa ikan kecil kami lepas kembali, seperti biasa, tak layaklah.

kamto membawa pulang 3 ekor udang seukuran dua kali jempol orang dewasa, buat sahur katanya.  nuto memutuskan membawa pulang tiga ekor ikan seukuran lengan orang dewasa, juga buat sahur katanya.  sedangkan saya, tak membawa apa-apa.  karena selain saya memang tidak mendapatkan ikan, juga masih ada sayur daun singkong made in saya sendiri yang bisa dipakai sahur.

kemarin, kami kembali berkumpul.  nuto menyesalkan keputusannya membawa pulang ikan hasil memancing dua hari lalu.  semua bertelur, itu alasannya.  sedangkan kamto justru menyayangkan mengapa udang yang ia dapatkan bukan yang sedang bertelur.  telur udang sangat gurih, begitu lanjutnya.

nuto dan kamto, seperti dua kutub yang berbeda buat saya.  nuto pantang untuk melemparkan puntung rokok-nya ke sungai.  nuto selalu mengantungi kembali semua potongan bungkus makanan ringan sekecil apapun potongan itu.  nuto akan bersungut-sungut jika menemukan gumpalan plastik tersangkut mata kail-nya, lalu serentetan gumam akan meluncur deras. "plastik ini baru bisa hancur 100 tahun lagi, goblok!", lamat-lamat kalimat itu selalu saya dengar.  nuto tak akan pernah membawa pulang ikan atau udang yang ia tahu sedang bertelur.  karena itu, tidak heranlah saya jika kemarin wajah muram penyesalannya tak hilang sampai kami kembali ke rumah masing-masing.  adapun bagi kamto,  ia adalah gambaran umum para pemancing samarinda.  ia akan lebih senang menangkap ikan atau udang yang sedang bertelur dan tak pernah merasa keberatan untuk melemparkan potongan besar bungkus makanan ringan ke sungai atau kemanapun.  bagi kamto, memancing adalah hobi, tak ada hubungannya dengan soal bertelur dan kemana bungkus makanan ringan bermuara.

nuto memulai sebuah aturan dalam kelompok kami, sekelompok kecil pemancing.  ia menyatakannya dengan senyum, bahwa saat kami mancing bersama, setiap kali satu diatara kami kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya, maka akan ada 'pengurangan  point'.  tak pernah ada kesepakatan bulat tentang point ini, tetapi sepertinya kami semua sepakat bahwa pengurangan point berati penambahan rasa malu. itu saja.  aturan ini manjur.  kamto yang menjadi salah satu korban atas aturan ini, kini menjadi reminder untuk kelompok kami.  satu kali rasa malu rupanya cukup untuk merubahnya.  saya tersenyum senang melihatnya, tetapi nuto biasa saja.  kamto berubah karena kamto ingin berubah, bukan karena saya, begitu nuto bilang berkali-kali.  saya tersenyum, sebenarnya sambil membuang malu, karena menghitung jasa.

bagi nuto, kamto justru pahlawan sesungguhnya.  berani berubah, bahkan menjadi martir.  nuto sendiri tak pernah menganggap dirinya berarti dalam perubahan kamto.  karena menurutnya, masih banyak perilaku kawan pemancing kami yang jauh lebih dahsyat dari kamto yang dulu.

nuto masih terus berlaku seperti apa yang ia ingin lakukan.  saya tidak pernah merubah apa-apa, katanya.



Posted by Panthom at 01:16:46 | Permanent Link | Comments (1) |

27 of Oktober, 2005

a river runs through it

nuto, kawan saya, merekomendasikan film A River Runs Through It, bintangnya Craig Sheffer, Tom Skerritt dan Brad Pitt.  tadi subuh, selepas sahur, saya menontonnya.

film peraih academi award untuk kategori Best Cinematography ini bercerita tentang tiga lelaki dalam satu keluarga, ayah dan dua anaknya, yang membuat tipis batas antara memancing dan agama.  kerja sang ayah sebagai pendeta, ternyata justru memadukan dua hal tak berdimensi sama itu dalam satu filosofi hidupnya, dan ini menular kepada dua putranya.  memancing sebagai seni, itu salah satu yang mereka coba wujudkan. 

walaupun teknik memancing yang mereka pakai adalah fly fishing, satu teknik memancing sungai yang tak lazim dipakai di indonesia, tetapi harus diakui, film ini memang sarat akan sesuatu yang bisa dipelajari, setidaknya buat saya. 

buat saya, menyenangkan bisa menonton film dengan mengangkat aktivitas yang saya sukai, sebagai sesuatu yang sarat makna.

Posted by Panthom at 13:49:43 | Permanent Link | Comments (1) |

menjadi positif

di salah satu milis kampus yang saya ikuti, sedang dibuka diskusi tentang calon rektor unmul - universitas mulawarman, tempat saya dulu belajar.  tiga nama calon rektor dipampangkan, dan dipancing dengan pertanyaan "tebak siapa yang akan menang".

saya kenal dengan ketiga calon. bukan kenal baik, setidaknya  pernah bertegur sapa, walaupun selintas.  mungkin lebih tepat "kenal presiden" istilahnya.  saya kenal, ingat dan ramah karena mereka cukup terkenal,  sedangkan mereka ramah jika bertemu karena sebagai public figure mereka memang perlu ramah, setidaknya memberikan senyuman jika dibutuhkan.  itulah yang disebut "kenal presiden".

satu diantaranya lebih saya ingat ketidakbaikan-nya.  sepak terjangnya semasa saya belajar di kampusnya dulu, hanya membekaskan hal-hal negatif belaka.  saya juga bingung mengapa begitu.  ada apa dengan saya?
dani, kawan saya, mengajarkan pada saya untuk melakukan reframing jika ingin menemukan hal positif pada kondisi seperti ini.  "jadikan potensi, bukan masalah", begitu yang selalu saya ingat.

saya sedang berusaha reframing.  tetapi jujur saja, untuk kasus ini, sulit melakukannya.

mungkin hari ini saya belum berhasil, mungkin besok akan berhasil.  karena jika tidak berhasil juga, akan bertentangan jalan fikir yang selalu saya coba pakai.


Posted by Panthom at 11:54:10 | Permanent Link | Comments (0) |

21 of Oktober, 2005

Melak - Samarinda

Melak adalah kota pelabuhan sungai dari kabupaten Kutai Barat.

Saya menulis ini diatas kapal penumpang jurusan Melak – Samarinda.  Sepulang melayani sebuah organisasi peduli primata di Kaltim.  Sudah lama saya tidak menggunakan jasa transportasi ini, mungkin sudah empat atau lima tahun lamanya.  Terakhir kali saya ke Melak,  saya pakai fasilitas pesawat terbang kecil, dari Temindung – Samarinda.  Fasilitas kantor tentunya.  Begitu juga kali ini, kendati sudah saya niatkan untuk menggunakan transportasi air, kapal ini, tetapi saat berangat, secara mendadak saya diberitahu bahwa tersedia seat buat saya untuk penerbangan Samarinda – Melak.  Saya tak kuasa menolaknya, toh dipikir-pikir saya butuh cadangan energi untuk fasilitasi workshop.  Sehingga, pilihan naik pesawat terbang akan jauh lebih bermanfaat buat saya, kali ini.

Kapal yang saya tumpangi terasa amat jauh berbeda dengan kapal yang terakhir kali saya tumpangi sekian tahun lalu.  Kapal penumpang ini terasa sangat bersih, terawat, dan mengutamakan penumpang.  Al Mu’minun nama kapalnya. 

Saya beserta rombongan peserta dan sebagian panitia workshop menempati lantai 2 yang dikhususkan untuk penumpang.  Tersedia kasur tipis dan bantal untuk setiap penumpang.  Dari nomor yang ada, bisa ditebak daya tampung lantai 2 bisa mencapai 100 orang.  Tempat tidur bisa dibilang lebih merupakan lantai yang dinaikkan kurang lebih 50cm dari dasar lantai pada sisi kiri dan kanan kapal, sehingga membentuk lorong di tengah-tengah ruangan.  Dan itulah satu-satunya tempat lalulalang para penumpang.  Berbeda dengan lantai 2, di lantai bawah, penumpang tidak mendapat fasilitas kasur.  Jadilah para penumpang tidur beralaskan kain bawaan. Sesekali awak kapal akan mengusik para penumpang kelas bawah ini jika dirasa perlu untuk membuka lantai guna membongkar atau memuat barang.  Tentu harga yang diberikan berbeda.  Saya tidak jelas berapa harga tiket untuk penumpang lantai 1.  Yang jelas, saya mendengar nilai 120.000 rupiah sekali jalan untuk penumpang lantai 2.  Harga ini jauh lebih mahal dari harga tiket sebelum kenaikan BBM baru-baru ini, apalagi dibandingkan dengan tahun-tahun dimana saya sering menggunakan fasilitas yang dibuat dari bahan baku, seluruhnya dari, kayu Ulin ini.

Jangan tanya soal fasilitas keselamatan.  Saya tidak melihat ada baju pelampung ataupun pelampung di lantai 2 kapal ini. Tetapi sore tadi saya sempat melirik puluhan baju pelampung diselipkan pada sela-sela langit-langit lantai 1.  Rupanya itulah fasilitas tambahan mereka, baju pelampung! 

Jendela-jendela di lantai 2 berupa lubang segiempat berukuran 1 meter kali 50 sentimeter yang dilapisi kaca gelap.  Untuk membuka dan menutupnya, kita cukup menggeser ke kiri dan ke kanan.  Sedikit sulit untuk menggesernya, nampaknya ini disengaja, untuk mengurangi getaran saat kapal berjalan.  Jangan berharap tersedia fasilitas palu pemecah kaca, karena pecah kaca adalah kerugian bagi kebanyakan angkutan ini.  

Jadi, pasti saya tidak berharap terjadi sesuatu dalam perjalanan ini, tetapi terasa sekali kapal memperlambat lajunya sesaat setelah terdengar, juga terasa, benturan dibagian depan.  Pengalaman saya memberitahu bahwa kapal telah menabrak potongan-potongan kayu besar (di kehutanan kami biasa menyebutnya log) yang hanyut di sungai.  Pastilah kayu-kayu itu setengah tenggelam, karena tak terlihat juru mudi.

Karena itu, daripada saya menghubung-hubungkan antara bayangan benturan bagian muka kapal versus log dengan fasilitas keselamatan yang ada, mending saya bercerita hal lain.  Lupakan soal keselamatan.

Sama halnya dengan kebersihan, kapal yang saya tumpangi ini jauh lebih cepat dari kapal yang pernah saya tumpangi beberapa tahun lalu.  Saya tidak tau persis berapa kekuatan mesin kapal, tetapi saya hanya mengukur dari berapa lama waktu tempuhnya.  Jika dulu kapal berangkat dari Melak pada pukul 5 sore dan tiba di samarinda pada pukul 10 atau 11 siang, maka menurut beberapa kawan yang baru-baru saja menggunakan jasa transportasi ini, dengan berangkat pada jam yang sama, kapal akan tiba di samarinda antara pukul 4 – 7 pagi.  Berita yang cukup menggembirakan buat saya.  Karena tidak harus memikirkan untuk terlalu siang tiba di Samarinda.  Cukup tetap ada di kapal ini, mungkin sambil tidur.   

Soal makanan dan minuman, jangan khawatir.  Di bagian belakang, tepat sebelum bilik mandi-kakus, terdapat kantin yang menyediakan beragam makanan ringan kemasan dan minuman kaleng, air mineral plus mie instant.  Kantin ini juga menyediakan makanan utama, yaitu nasi campur.  Jangan berharap ada beberapa menu, karena jika si pelayan kantin menyebutkan nasi campur, maka hanya itu satu-satunya menu selama perjalanan.  Hanya, kantin ini buka pada sepanjang pagi dan siang (jika kebetulan bepergian pada pagi dan siang hari) dan malam hanya sebatas kelelahan si pelayan.  Tidak ada patokan pasti jam berapa kantin ini tutup.  Tetapi pengalaman menunjukkan pelayanan untuk makanan utama terhenti sekitar jam 9.00 malam.  Karena itu, silahkan perhitungkan kebutuhan makan anda.  Membawa makanan dari luar semisal nasi bungkus dan air minum, sangat dimungkinkan di kapal ini.  Saran saya, sediakan selalu sebotol besar air mineral di dekat anda.

Soal buang air, lucu juga.  Di bagian belakang kapal ini tersedia dua bilik di sisi kiri dan kanan kapal.  Bilik berukuran kira-kira satu setengah meter kali satu setengah meter ini lumayan bersih.  Air disuplai dari selang berdiameter ½ inci yang hanya mengalir saat kapal berjalan.  Ini yang membuat saya tidak habis fikir, bagaimana mekanismenya? Dimana ujung masuknya air? Jika dari arah depan kapal, sebelum atau sesudah bilik ini?  Pertanyaan bertahun-tahun ini tak pernah terjawab, karena memang saya tidak mau mencari jawabannya.  Tetapi jangan khawatir, ada alternatif lain.  Tersedia timba yang dibuat dari potongan bekas wadah oli yang dibuat sedemikian rupa plus tali sepanjang satu setengah meter, sehingga mudah digunakan, juga bagi mereka yang pertama kali melihatnya.  Darimana anda bisa menimba air?  Jawabannya mudah.  Pada dasar bilik, terdapat lubang berbentuk oval yang cukup besar untuk dimasuki kaki sampai paha orang dewasa, tetapi tidak cukup besar untuk meloloskan seluruh tubuh.  Dari lubang itulah anda bisa menimba air, termasuk juga ke lubang itulah harus anda arahkan perangkat pembuangan isi kandung kemih dan usus besar!  Jadi, silahkan pilih metode terbaik, menimba sebelum membuang, atau membuang sebelum menimba.  Saya hanya mengingatkan, untuk orang sebesar saya, isi timba hanya cukup untuk 3-4 kali siraman kebersihan, dan itu tidak cukup buat saya.  Jadi, saya bagi pengalaman saja, saya harus menimba ulang disela-sela siraman kebersihan.  Hmm... cukup mengancam, bukan?

Lalu, mengapa saya menuliskan ini semua? Sesungguhnya terinspirasi dari seorang kawan dekat yang bicara via telepon seluler sesaat setelah kapal meninggalkan Melak. Padanya saya ceritakan bahwa saya sedang menikmati sunset di lantai dua di bagian depan kapal yang terbuka, dan kapal sedang melaju.  Ini sudah lama tidak saya lakukan.  Ia kangen dengan suasananya.  Maklum ia sekarang tak lagi (setidaknya belum) mempunyai akses ke Melak, untuk menikmati ini semua.

Ternyata, saya juga merasakan hal yang sama.  Jadi, apa salahnya saya tuliskan.  Mumpung belum ngantuk, sambil menunggu sahur.

Saya menikmati perjalanan ini, itu saja kalimat yang tepat untuk ini semua.


Posted by Panthom at 05:35:54 | Permanent Link | Comments (4) |

signal hp

ini sekedar laporan saja,
dua provider seluler,
dalam perjalanan melak - samarinda...

Telkomsel
Saat di pelabuhan, kuat

Mulai jalan, signal hanya sampai 3 km, 1 jam pertama hilang.

Muncul di 2 jam kemudian.

Jam ke 3 naik turun sampai jam ke 4

Jam ke 5 hilang, naik turun.

Jam ke 6 sangat stabil.... sampai jam ke 7

Matrix
Saat di pelabuhan, blank spot
1 jam pertama hilang.
Muncul di 2 jam kemudian.
Jam ke 3 naik turun sampai jam ke 4
Jam ke 5 kuat, stabil sempat main YM dan tarik 2 email, bisa buka detik.com
Jam ke 6 naik turun.... sampai jam ke 7.

jam selanjutnya, saya malas melirik hp...


Posted by Panthom at 05:29:25 | Permanent Link | Comments (1) |

20 of Oktober, 2005

multistakholder

saya masih di kutai barat, kaltim, ketika menulis draft ini.  online dengan fasilitas gprs matrix. cukup lancar, walau kadang tersendat. tidak banyak pengguna, begitu kata petugas satelindo samarinda.

bukan soal koneksi matrix yang mau saya tulis, tetapi situasi sulit yang kerap saya hadapi saat fasilitasi, baru saja saya hadapi.

peserta workshop yang berasal dari berbagai tingkat kemudahan paham dan berbeda kecepatan tangkap, membuat saya harus mengeluarkan energi ekstra.  harus diakui, puasa juga mempengaruhi ketahanan fisik saya, selain sudah hampir dua minggu saya harus bertahan dari ingus yang keluar masuk hidung, karena sedang flu berat.

lima kampung yang berada di kawasan gunung beratus, di sebelah selatan ibukota kabupaten kutai barat, mengirimkan perwakilannya.

Perwakilan kelompok masyarakat yang hadir, seperti yang saya kira, terdiri dari dua level pemahaman juga.  Sebagian dari mereka memiliki tingkat pemahaman yang baik, sedangkan sebagian lagi hadir lebih sebagai tetua masyarakat, yang memiliki tingkat kecepatan pemahaman yang lebih rendah.

Saya lanjutkan tulisan ini di atas kapal angkutan penumpang jurusan melak-samarinda.  Sudah lama saya tidak menggunakan jasa transportasi ini.  Pada tulisan lain, saya ingin berbagi.


Walaupun saya sudah puluhan kali menghadapi situasi seperti ini, tetapi tetap saja saya merasa kelelahan yang amat sangat tiap kali menghadapi. 

Bukannya saya tidak memikirkan metode untuk problem ini, tetapi sungguh saya belum menemukan metode yang ampuh.  Sekedar berbagi, untuk workshop ini, saya menawarkan metode kepada penyelenggara, simpel saja, dimulai dari pemisahan kelompok.  Kelompok pertama adalah kelompok masyarakat dan kelompok kedua adalah kelompok non masyarakat.  Dengan tugas dan pertanyaan yang sama, tentunya.  Perbedaannya, tentunya ada pada bagaimana teknik fasilitasinya.  Probing, questioning, reframe-nya menggunakan bahasa sangat sederhana dan seringkali menggunakan istilah-istilah salah kaprah yang berlaku pada keseharian kelompok masyarakat ini.  Ini yang saya pesan dan harapkan kepada kawan yang menyatakan kesediaannya untuk menjadi fasilitator diskusi kelompok ini.   Hasilnya, tidak terlalu fokus memang, tetapi saya percaya telah memuaskan kelompok ini.  Saya hanya sedikit melirik prosesnya, karena harus memfasilitasi kelompok yang lain.

Kalau pada tahapan ini saya sudah mempersiapkan metodenya, pada tahapan lain, saya seringkali mengandalkan insting atau membaca cepat reaksi beberapa peserta.  Contoh dari hal ini adalah pada saat berulangkali terjadi kesalahan tanggap atas proses yang saya tawarkan.  Bukan saja kelompok masyarakat, tetapi bahkan seorang perwakilan kelompok pemerintah justru memicu kesalahan tanggap ini, dan sayangnya ditambah dengan kesan serba tau.  Kejadian ini kemudian memicu beberapa orang dari perwakilan masyarakat memunculkan pembahasan substansi yang sebenarnya sudah disepakati sebelumnya.  Saya mencoba merespon kesalahpandangan ini dengan mengeksplorasi dan mengulangi penjelasan tahapan yang telah dilalui.  Penjelasan saya membuat mereka menganggukkan kepala, ini membuat saya lega.  Tetapi, baru beberapa menit berlalu, kejadian yang sama terulang lagi.  Sadarlah saya bahwa teknik yang saya gunakan bukanlah teknik yang tepat untuk problem ini.  Kegagalan ini membuat saya berfikir keras dan hampir kehilangan kontrol atas proses.  Lalu, saya mencoba menawarkan satu tahapan baru, yang muncul begitu saja setelah saya melakukan flashback proses, ini saya lakukan dikepala saya, tentunya. 

” Untuk mempermudah menggambarkan tawaran tahapan itu, kejadian gamblangnya adalah munculnya keinginan dari kelompok masyarakat untuk menambahkan anggota kelompok adhoc yang berasal dari semua kampung yang hadir.  Dengan begitu, setidaknya akan ada 10 orang anggota adhoc yang berasal dari kelompok masyarakat, selain 10 orang dari kelompok masyarakat.  Saya menemukan keinginan ini ada karena ketidak jelasan saya dalam memunculkan usulan pembentukan adhoc yang rancu dengan pembentukan badan pengelola kawasan.  Padahal, adhoc hanyalah sekumpulan orang yang terlibat sejak awal dalam proses ini, dan tugasnya adalah melakukan sintesa dan membuat langkah persiapan saja.  Saya salah memilih teknik eksplorasi dua output (adhoc dan badan pengelola) ini”.

Lalu, tahapan baru yang saya tawarkan adalah mempersilahkan semua perwakilan yang diusulkan dicantumkan kedalam daftar, tetapi dengan catatan setelah berakhirnya sessi itu, kelompok masyarakat berkumpul untuk membicarakan kembali usulan mereka tersebut.  Tentunya dengan didampingi oleh pendamping yang selama ini berinteraksi dengan mereka.  Fokus berkumpulnya mereka ini, adalah memperjelas tahapan proses yang sudah mereka lewati dan perbedaan antara adhoc dan badan pengelola.  Ide saya, terus terang, memanfaatkan energi para pendamping yang kelihatan masih cukup tinggi itu.  Saya sendiri, seperti yang saya tuliskan sebelumnya, hampir kehabisan energi.

Walaupun saya tidak terlibat dalam prosesnya, tetapi hasil dari tahapan ini, ternyata cukup manjur juga.  Kelompok masyarakat kemudian mengurangi jumlah perwakilan mereka menjadi 4 orang saja. Dan terlihat sangat percaya pada perwakilan yang mereka tunjuk.  Saya sedikit sedih, bukankah ini juga berarti saya gagal dalam memfasilitasi mereka?  

Saya tidak suka Aa Gym.  Mungkin karena gaya tutur dan cara yang ia pakai monoton dan cenderung mudah ditebak.  Humornya pun kering.  Menurut saya hanya cocok untuk mereka yang malas fight untuk memperjuangkan nasib.  Tapi, kali ini saya setuju dengannya, terutama kalimat ”...rugi besar kalau dalam kejadian ini, Aa tidak mendapat ilmu dan pelajaran penting...”.  Ini wawancara eksklusifnya dengan MetroTV dalam kasus iklan-nya yang dibaca sebagai mendukung kenaikan BBM.  Walaupun saya tidak suka juga cara ia menyebut dirinya sebagai ”Aa”, tetapi, sekali lagi, saya setuju dan cenderung terinspirasi dengan kalimatnya itu.

Saya memang mendapatkan ilmu baru pada satu kegagalan proses dan tahapan dalam workshop itu.  Entah bagaimana menyebutnya secara tepat, tetapi mungkin bisa disebutkan sebagai mengkombinasikan sedikit kepanikan dengan sesuatu yang tiba-tiba muncul dari kepala, ternyata bisa juga membantu memperlancar proses.  

Hanya saja, saya tidak tau, bila tahapan baru itu juga tidak memperlancar proses, saya akan merasakan apa.  Tentunya selain mendapat ilmu dan pelajaran penting juga, seperti Aa Gym yang tidak saya sukai gaya tuturnya itu.

Posted by Panthom at 13:20:08 | Permanent Link | Comments (0) |

18 of Oktober, 2005

borongan

begitu mendengar istilah borongan, pikiran saya pasti tertuju pada pekerjaan yang dulu saya tekuni sewaktu masih kuliah.  jika musim proyek tiba (begitu kami sering bilang, jika ada beberapa tawaran kerja sambilan), maka diskusi soal menanam, inventarisasi, mencari bibit, survey, ground survey, tata batas, menjadi topik hangat di setiap pojok kampus.  bagi kami yang lebih mengutamakan nilai uang yang didapat pada akhir masa kerja, maka mendapat sebanyak-banyaknya pekerjaan-pekerjaan itu adalah media yang tepat.  maka, yang biasa kami lakukan adalah menawarkan kerja all-in, dari merintis, membuat jalur, mencari ajir (ajir = tongkat kecil untuk tanda posisi menanam bibit), mencari bibit, menanam, bahkan menyulam (dalam kehutanan, menyulam adalah mengganti bibit yang mati dengan bibit baru).  inilah yang kami sebut borongan. 
biasanya, kualitas borongan lebih rendah dari kualitas kerja fokus, semisal menanam saja.  betapa tidak, karena kerja borongan harus memikirkan keseluruhan langkah, bahkan termasuk hal-hal yang kadang tak berhubungan.

siang ini, saya harus berangkat ke Melak, ibukota kabupaten Kutai Barat, untuk membantu proses workshop sebuah organisasi primata yang tertarik untuk mendorong banyak pihak ikut memikirkan sebuah kawasan yang menurut mereka cocok menjadi kawasan konservasi. 
kemarin, saya terlibat pembicaraan dengan seorang kawan, bekas teman sekantor yang ikut juga membantu arrange kegiatan ini.  ia bukan orang baru untuk mengorganisir acara semacam ini, bahkan boleh dibilang piawai.  kawan saya inilah yang menjadi penghubung saya dengan organisasi ini, baik soal teknis maupun substansi.  uniknya, saat berbincang via ponsel, ia menawarkan situasi yang kemudian bisa saya sebut sebagai borongan itu.  kawan saya ini (yang saya yakin dengan keterpaksaannya) menawarkan agar saya bukan hanya berperan sebagai fasilitator proses, seperti yang kami sepakati sebelumnya, tetapi juga menjadi moderator pada sesi seminar.  sehingga, ada dua pekerjaan yang harus saya lakukan, yaitu moderator dan fasilitator.

tawaran ini mengingatkan saya pada bincang-bincang saya dengan beberapa kawan lain yang juga kadang menyebut diri mereka fasilitator.  perbincangan yang cukup panjang itu membahas peran fasilitator dalam satu proses workshop semacam yang akan saya lakukan di Kutai Barat besok.  lebih tepatnya, untuk ketercapaian hasil maksimal, kami membincangkan cara untuk meng-educate banyak orang bahwa dalam sebuah proses workshop, peran fasilitator haruslah terpisah dengan peran lainnya, termasuk moderator.
walaupun tidak langsung menyatakan persetujuan terhadap pemisahan peran ini, beberapa kawan fasilitator kemudian bereaksi positif. entah karena kemudian menemukan kenyamanan fokus pada proses, atau karena perbandingan finansial-nya lebih besar (bukankah lebih menyenangkan dibayar untuk satu pekerjaan, dibandingkan untuk dua pekerjaan, dengan harga yang sama tentunya).

seringkali, para penyelenggara workshop men-salah artikan permintaan para fasilitator untuk kerja terpisah ini.  anggapan bahwa fokus pemisahan ini melulu soal nilai pembayaran, membuat kami para fasilitator harus kerja ekstra menjelaskan bahwa fungsi fasilitator bukanlah satu pecahan kecil dari proses workshop itu, tetapi ia lebih sebagai pengatur keseluruhan proses.  bahkan dalam aliran fasilitasi yang saya percayai, fasilitator harus terlibat sejak tahap dua dari ide awal penyelenggaraan.  sehingga, pemisahan kerja ini akan pararel dengan peningkatan kualitas proses workshop.  itu yang kami, para fasilitator, jamin.

kawan saya, eks teman sekantor yang menjadi penghubung saya itu, saya yakin sangat faham soal ini. yang seringkali menjadi masalah, dan diluar jangkauan orang-orang sepertinya adalah alokasi yang diperbolehkan oleh si penyelenggara.  sehingga, sama seperti kacaunya banyak produk peraturan, yang harus di-educate lebih keras adalah si penentu kebijakannya.  harus dijelaskan secara gamblang bahwa yang mereka pertaruhkan dengan kerja borongan atau tidak adalah kualitas proses workshop.

kecuali, saat fasilitator, moderator, notulen, resumer, sudah dipisahkan, ternyata kualitas proses workshop juga tak membaik.  maka, wajar kalau kemudian kualitas fasilitator dipertanyakan.

(catatan: proses sangat berbeda dengan hasil.  proses sangat tergantung kepada kualitas fasilitator, sedangkan hasil sangat tergantung dengan standart penyelenggara).


Posted by Panthom at 03:55:51 | Permanent Link | Comments (2) |
1 2