Melak adalah kota pelabuhan sungai dari kabupaten Kutai Barat.
Saya menulis ini diatas kapal penumpang jurusan Melak Samarinda. Sepulang melayani sebuah organisasi peduli primata di Kaltim. Sudah lama saya tidak menggunakan jasa transportasi ini, mungkin sudah empat atau lima tahun lamanya. Terakhir kali saya ke Melak, saya pakai fasilitas pesawat terbang kecil, dari Temindung Samarinda. Fasilitas kantor tentunya. Begitu juga kali ini, kendati sudah saya niatkan untuk menggunakan transportasi air, kapal ini, tetapi saat berangat, secara mendadak saya diberitahu bahwa tersedia seat buat saya untuk penerbangan Samarinda Melak. Saya tak kuasa menolaknya, toh dipikir-pikir saya butuh cadangan energi untuk fasilitasi workshop. Sehingga, pilihan naik pesawat terbang akan jauh lebih bermanfaat buat saya, kali ini.
Kapal yang saya tumpangi terasa amat jauh berbeda dengan kapal yang terakhir kali saya tumpangi sekian tahun lalu. Kapal penumpang ini terasa sangat bersih, terawat, dan mengutamakan penumpang. Al Muminun nama kapalnya.
Saya beserta rombongan peserta dan sebagian panitia workshop menempati lantai 2 yang dikhususkan untuk penumpang. Tersedia kasur tipis dan bantal untuk setiap penumpang. Dari nomor yang ada, bisa ditebak daya tampung lantai 2 bisa mencapai 100 orang. Tempat tidur bisa dibilang lebih merupakan lantai yang dinaikkan kurang lebih 50cm dari dasar lantai pada sisi kiri dan kanan kapal, sehingga membentuk lorong di tengah-tengah ruangan. Dan itulah satu-satunya tempat lalulalang para penumpang. Berbeda dengan lantai 2, di lantai bawah, penumpang tidak mendapat fasilitas kasur. Jadilah para penumpang tidur beralaskan kain bawaan. Sesekali awak kapal akan mengusik para penumpang kelas bawah ini jika dirasa perlu untuk membuka lantai guna membongkar atau memuat barang. Tentu harga yang diberikan berbeda. Saya tidak jelas berapa harga tiket untuk penumpang lantai 1. Yang jelas, saya mendengar nilai 120.000 rupiah sekali jalan untuk penumpang lantai 2. Harga ini jauh lebih mahal dari harga tiket sebelum kenaikan BBM baru-baru ini, apalagi dibandingkan dengan tahun-tahun dimana saya sering menggunakan fasilitas yang dibuat dari bahan baku, seluruhnya dari, kayu Ulin ini.
Jangan tanya soal fasilitas keselamatan. Saya tidak melihat ada baju pelampung ataupun pelampung di lantai 2 kapal ini. Tetapi sore tadi saya sempat melirik puluhan baju pelampung diselipkan pada sela-sela langit-langit lantai 1. Rupanya itulah fasilitas tambahan mereka, baju pelampung!
Jendela-jendela di lantai 2 berupa lubang segiempat berukuran 1 meter kali 50 sentimeter yang dilapisi kaca gelap. Untuk membuka dan menutupnya, kita cukup menggeser ke kiri dan ke kanan. Sedikit sulit untuk menggesernya, nampaknya ini disengaja, untuk mengurangi getaran saat kapal berjalan. Jangan berharap tersedia fasilitas palu pemecah kaca, karena pecah kaca adalah kerugian bagi kebanyakan angkutan ini.
Jadi, pasti saya tidak berharap terjadi sesuatu dalam perjalanan ini, tetapi terasa sekali kapal memperlambat lajunya sesaat setelah terdengar, juga terasa, benturan dibagian depan. Pengalaman saya memberitahu bahwa kapal telah menabrak potongan-potongan kayu besar (di kehutanan kami biasa menyebutnya log) yang hanyut di sungai. Pastilah kayu-kayu itu setengah tenggelam, karena tak terlihat juru mudi.
Karena itu, daripada saya menghubung-hubungkan antara bayangan benturan bagian muka kapal versus log dengan fasilitas keselamatan yang ada, mending saya bercerita hal lain. Lupakan soal keselamatan.
Sama halnya dengan kebersihan, kapal yang saya tumpangi ini jauh lebih cepat dari kapal yang pernah saya tumpangi beberapa tahun lalu. Saya tidak tau persis berapa kekuatan mesin kapal, tetapi saya hanya mengukur dari berapa lama waktu tempuhnya. Jika dulu kapal berangkat dari Melak pada pukul 5 sore dan tiba di samarinda pada pukul 10 atau 11 siang, maka menurut beberapa kawan yang baru-baru saja menggunakan jasa transportasi ini, dengan berangkat pada jam yang sama, kapal akan tiba di samarinda antara pukul 4 7 pagi. Berita yang cukup menggembirakan buat saya. Karena tidak harus memikirkan untuk terlalu siang tiba di Samarinda. Cukup tetap ada di kapal ini, mungkin sambil tidur.
Soal makanan dan minuman, jangan khawatir. Di bagian belakang, tepat sebelum bilik mandi-kakus, terdapat kantin yang menyediakan beragam makanan ringan kemasan dan minuman kaleng, air mineral plus mie instant. Kantin ini juga menyediakan makanan utama, yaitu nasi campur. Jangan berharap ada beberapa menu, karena jika si pelayan kantin menyebutkan nasi campur, maka hanya itu satu-satunya menu selama perjalanan. Hanya, kantin ini buka pada sepanjang pagi dan siang (jika kebetulan bepergian pada pagi dan siang hari) dan malam hanya sebatas kelelahan si pelayan. Tidak ada patokan pasti jam berapa kantin ini tutup. Tetapi pengalaman menunjukkan pelayanan untuk makanan utama terhenti sekitar jam 9.00 malam. Karena itu, silahkan perhitungkan kebutuhan makan anda. Membawa makanan dari luar semisal nasi bungkus dan air minum, sangat dimungkinkan di kapal ini. Saran saya, sediakan selalu sebotol besar air mineral di dekat anda.
Soal buang air, lucu juga. Di bagian belakang kapal ini tersedia dua bilik di sisi kiri dan kanan kapal. Bilik berukuran kira-kira satu setengah meter kali satu setengah meter ini lumayan bersih. Air disuplai dari selang berdiameter ½ inci yang hanya mengalir saat kapal berjalan. Ini yang membuat saya tidak habis fikir, bagaimana mekanismenya? Dimana ujung masuknya air? Jika dari arah depan kapal, sebelum atau sesudah bilik ini? Pertanyaan bertahun-tahun ini tak pernah terjawab, karena memang saya tidak mau mencari jawabannya. Tetapi jangan khawatir, ada alternatif lain. Tersedia timba yang dibuat dari potongan bekas wadah oli yang dibuat sedemikian rupa plus tali sepanjang satu setengah meter, sehingga mudah digunakan, juga bagi mereka yang pertama kali melihatnya. Darimana anda bisa menimba air? Jawabannya mudah. Pada dasar bilik, terdapat lubang berbentuk oval yang cukup besar untuk dimasuki kaki sampai paha orang dewasa, tetapi tidak cukup besar untuk meloloskan seluruh tubuh. Dari lubang itulah anda bisa menimba air, termasuk juga ke lubang itulah harus anda arahkan perangkat pembuangan isi kandung kemih dan usus besar! Jadi, silahkan pilih metode terbaik, menimba sebelum membuang, atau membuang sebelum menimba. Saya hanya mengingatkan, untuk orang sebesar saya, isi timba hanya cukup untuk 3-4 kali siraman kebersihan, dan itu tidak cukup buat saya. Jadi, saya bagi pengalaman saja, saya harus menimba ulang disela-sela siraman kebersihan. Hmm... cukup mengancam, bukan?
Lalu, mengapa saya menuliskan ini semua? Sesungguhnya terinspirasi dari seorang kawan dekat yang bicara via telepon seluler sesaat setelah kapal meninggalkan Melak. Padanya saya ceritakan bahwa saya sedang menikmati sunset di lantai dua di bagian depan kapal yang terbuka, dan kapal sedang melaju. Ini sudah lama tidak saya lakukan. Ia kangen dengan suasananya. Maklum ia sekarang tak lagi (setidaknya belum) mempunyai akses ke Melak, untuk menikmati ini semua.
Ternyata, saya juga merasakan hal yang sama. Jadi, apa salahnya saya tuliskan. Mumpung belum ngantuk, sambil menunggu sahur.
Saya menikmati perjalanan ini, itu saja kalimat yang tepat untuk ini semua.