santun
Ini kejadian baru saja, pembicaraan saya yang berada di Sengata, Kutai Timur, via telepon dengan seorang staf kantor departemen pemerintah di Jakarta.
Saya: “Selamat Siang, saya ingin kirim fax permintaan menjadi narasumber dalam Lokakarya ………(males nyebutin disini)”.
Staf itu: “Berapa lembar fax-nya?”
Saya: “Surat beserta TOR, sebanyak……..(belum selesai bicara)”
Staf itu: “Wah, fax kami gak kuat kalau terima fax banyak-banyak, apalagi TOR, pasti banyak, kan?”.
Saya: “Ini fax untuk Kepala Biro …….(males saya sebutin), pimpinan Anda. Bagaimana caranya agar saya Kepala Biro bisa menerima segera?”
Staf itu: “Ah, gimana ya, saya gak tau juga caranya, kirim aja lewat pos”
Saya: “Jumlahnya hanya 4 lembar saja”
Staf itu: ”Kalau cuma 4 lembar bisa”
Saya: ”Terima kasih, bisa saya tau nomor fax-nya?”
Staf itu: ”...........................(menyebutkan nomornya)”
Saya: ”Akan saya kirim segera. Maaf, dengan siapa saya bicara?”
Staf itu: ”................(menyebutkan nama)”
Saya: ”Terima kasih, selamat sore”
Staf itu: ”.....................(tidak membalas salam, menutup telepon)”
Fax-pun dikirim, sekali terputus, kiriman kedua lancar, 5 lembar termasuk cover page terkirim dengan sukses (saya tipu dia 1 halaman).
Lagi-lagi saya harus berfikiran positif. Mungkin mesin fax Departemen ternama di Jakarta itu sedang tidak prima. Mungkin juga toner-nya habis. Mungkin juga mood-nya si petugas itu sedang tidak bagus.
Tapi, rasanya bukan berlebihan kalau saya bilang bahwa secara etika perilaku staf pegawai pemerintah itu jauh dari santun.
Mudahan staf itu hanya sedang diburu tengat waktu laporan saja.
Saya: “Selamat Siang, saya ingin kirim fax permintaan menjadi narasumber dalam Lokakarya ………(males nyebutin disini)”.
Staf itu: “Berapa lembar fax-nya?”
Saya: “Surat beserta TOR, sebanyak……..(belum selesai bicara)”
Staf itu: “Wah, fax kami gak kuat kalau terima fax banyak-banyak, apalagi TOR, pasti banyak, kan?”.
Saya: “Ini fax untuk Kepala Biro …….(males saya sebutin), pimpinan Anda. Bagaimana caranya agar saya Kepala Biro bisa menerima segera?”
Staf itu: “Ah, gimana ya, saya gak tau juga caranya, kirim aja lewat pos”
Saya: “Jumlahnya hanya 4 lembar saja”
Staf itu: ”Kalau cuma 4 lembar bisa”
Saya: ”Terima kasih, bisa saya tau nomor fax-nya?”
Staf itu: ”...........................(menyebutkan nomornya)”
Saya: ”Akan saya kirim segera. Maaf, dengan siapa saya bicara?”
Staf itu: ”................(menyebutkan nama)”
Saya: ”Terima kasih, selamat sore”
Staf itu: ”.....................(tidak membalas salam, menutup telepon)”
Fax-pun dikirim, sekali terputus, kiriman kedua lancar, 5 lembar termasuk cover page terkirim dengan sukses (saya tipu dia 1 halaman).
Lagi-lagi saya harus berfikiran positif. Mungkin mesin fax Departemen ternama di Jakarta itu sedang tidak prima. Mungkin juga toner-nya habis. Mungkin juga mood-nya si petugas itu sedang tidak bagus.
Tapi, rasanya bukan berlebihan kalau saya bilang bahwa secara etika perilaku staf pegawai pemerintah itu jauh dari santun.
Mudahan staf itu hanya sedang diburu tengat waktu laporan saja.

2. kenapa nggak lewat e-mail aja kirimnya?
3. etika dan sopan santun itu kan tergantung dengan siapa kita berurusan atau berhadapan. ya, kan, bos? (Comment this)