28 of Oktober, 2006

jadwal kematian


Ade Fadli bicara soal kematian pada satu tulisan blog-nya. Membuat saya teringat satu kejadian di hari ini.  

Hari ini, dalam perjalanan Samarinda-Balikpapan, dari jarak 20 meter, saya menyaksikan ajal seorang pengendara sepeda motor melayang dengan mudahnya. Dua detik sebelumnya, saya masih melihatnya bernyawa, di atas sepeda motornya.

Ia adalah seorang pengendara yang melaju -mungkin- dengan kecepatan lebih dari 80 km per jam, mendahului mobil di depannya, di tikungan, melewati garis pembatas jalan, lalu membentur pick-up yang muncul berlawanan, searah mobil saya, berkecepatan 60 km per jam -itu yang ditunjukkan oleh penunjuk kecepatan mobil saya, sedetik saya lirik sebelum saya kembali berkonsentrasi pada kepadatan lalu lintas jalan raya itu. Dari benturannya, saya menduga, si pengendara sepeda motor tak sempat menginjak pedal rem-nya. Saya merasa perlu menelepon sesaat setelah benturan itu. Untuk menguatkan hati, menguatkan pikiran saya. Saya beruntung mendapat tambahan kekuatan seusai menelepon.

Satu nyawa berpulang tadi siang. Saya hanya berfikir, ia mungkin memilih cara kematiannya, sesuai jadwal yang telah ditentukan. Semudah itu kematian datang, tergantung bagaimana kita memilihnya, sesuai jadwal tentunya.

Saya tak membawa kamera, T610 saya mengabadikan kemalangan itu. Dua detik sebelum benturan, saya masih melihatnya bernyawa.

 

Posted by Panthom at 04:56:59 | Permanent Link | Comments (5) |
Komentar
1 - Terlalu banyak kematian di tiap musim liburan. Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru. Mengingatkan saya pada cerita seorang teman ABG yang melihat kurang dari 5 meter di depannya seorang remaja meregang nyawa dengan darah terhambur dari kepalanya setelah tabrakan karena melakukan BaLi (Balapan Liar) di Jl. Pelita.

http://www.e-samarinda.com/forum/main.php?showtopic=2363 (Comment this)

Ditulis oleh: SanKo at 2006/10/28 - 11:17:11
2 - kematian sesuatu yang pasti dan terjadwal....
kalo nggak, pasti pencabut nyawanya bingung, karena semakin banyak yang punya cita-cita mati lebih cepat... dan ada yang ingin memperlambat waktu kematian.... :-D
kilas kematian semakin mengisi tampakan mata dan telinga.... televisi, koran, radio, etc.... sepertinya harus pilih paket kematian nih... :-) (Comment this)

Ditulis oleh: timpakul at 2006/10/28 - 19:21:26
3 - Kita terlupa bahwa dalam satu hari, Izrail sang pencabut nyawa yang paling setia mengabdi pada sang Rububiyah selalu mengawasi setiap insan yang berjiwa dua kali. Setiap itu pula kebanyakan dari kita lalai mengingat mati. Kematian begitu diindahkan oleh para pencari jalan haqiqi. Baik kematian batin maupun kematian zahir.
Karenanya mengingat kematian akan membuat insan selalu waspada dengan proses kematian, agar kematiannya selalu dalam Khusnul Khotimah.
Berbahagialah mereka yang bisa memetik hikmah dari proses kematian jiwa lain yang dilihatnya. Karena itulah pelajaran sang Ilahiah.
Salam,
julak (Comment this)

Ditulis oleh: MasafanQ at 2006/10/30 - 14:18:56
4 - bos, anda mungkin sudah lupa kebaikan-kebaikan yang pernah anda berikan buat saya. entah mau diterima apa tidak, saya bikin puisi untuk anda [salah satunya]. bukan untuk membalas kebaikan-kebaikan itu [karena niscaya tak ada yang bisa melakukannya apalagi cuma dengan barisan kata-kata] melainkan sekadar untuk lebih meyakinkan pandangan anda bahwa saya memang orang aneh. jaga terus keyakinan itu, bos. saya senang dianggap aneh. [:-D]

http://sahrudin.wordpress.com/2006/11/01/realisme-pohon-2/

[eagle flies alone, burung emprit takut kesendirian]


 (Comment this)

Ditulis oleh: sahrudin at 2006/11/03 - 03:28:57
5 - rahasia yang ingin kudekati tapi tidak mampu kujamah. setiap teringat kematian, ada sejuta rasa menggeliat dalam palung hatiku. begitu takutnya aku mengahadapi kematian seakan-akan ia hendak datang menjemputku.. saat ini juga. (Comment this)

Ditulis oleh: iky at 2007/11/15 - 16:10:20
Tulis komentar