sms kolosal lebaran
Sonny Ericsson T610 & Ericsson R520m saya berbunyi puluhan kali hari ini. Bunyi khas jika ada SMS masuk. Isinya senada, ucapan selamat lebaran dan mohon maaf. Beberapa diantaranya menyertakan puisi pendek, atau sekedar pantun bernada humor. Bahkan satu SMS menyertakan gambar kartun. Notebook saya yang terhubung dengan dua ponsel saya itupun gagal menterjemahkan kartun itu.
Diantara puluhan SMS itu, ada dua yang secara khusus menyebut nama saya, atau setidaknya menyebut panggilan akrab sehari-hari. Saya merasa SMS itu hanya untuk saya, bukan SMS kolosal. Satu diantaranya dari Rudi, berbunyi “selamat lebaran bos, aku mudik ke kalsel”. Si orang aneh satu ini memang kerap memanggil saya dengan sebutan “bos”. Sama juga saya kepada dia. Saya tersanjung, merasa ia hanya mengirim SMS itu kepada saya. Mudahan.
Sewaktu N9210 saya masih sehat, bukanlah sesuatu yang sukar bagi saya untuk mengirimkan SMS pada puluhan kawan-kawan saya. Tinggal mengetik SMS, pilih nama-nama kawan, lalu kirim. SMS akan terkirim dengan sendirinya, saya bisa tinggalkan, bahkan tidur. Besok pagi tinggal check mana nomor yang ”failed”. Bahkan, saya dapat mengatur kapan si SMS dikirimkan. Jam, Tanggal, Bulan, bahkan Tahun. Fitur N9210 saya kala itu memudahkan semua perilaku praktis saya.
SMS kolosal, begitu saya menyebut puluhan SMS yang seragam dikirim kepada semua orang atau nama atau bahkan nomor yang ada pada handphone. Beberapa handphone memang memiliki fitur yang memudahkan itu semua. Atau dengan terhubung pada notebook, perilaku itu memang jauh lebih mudah difasilitasi. Teknologi memudahkan itu semua.
Tiga tahun lalu, saya mengakhiri perilaku praktis itu, karena merasa tidak menghormati mereka yang saya kirimi SMS. Saya merasa seperti membagi-bagikan fotocopian selebaran secara random, atau mengirim email yang sama untuk semua alamat email yang ada pada address book saya. Isinya sama, format sama, bahkan nyaris tanpa “jiwa”.
Barusan masuk lagi SMS yang bernada kolosal. Saya tidak mau terlarut dalam pikiran negatif. Saya lihat si pengirim adalah kawan baik saya, teman memancing yang sekarang bekerja untuk sebuah kontraktor pertambangan. Saya balas sambil becanda ”Lebaran gini masih mikir mancing, gak?”.
Saya harus berfikir bahwa ia mengirim SMS itu khusus untuk saya. Setidaknya saat ia memilih nama atau nomor saya yang ada di HP-nya. Ia pasti tulus menyampaikan ucapan selamat lebaran itu. Ia juga pasti dan sangat tulus menuliskan permintaan maaf itu. SMS itu pasti ”berjiwa”. Saya harus berfikiran positif.
