FPI, amar ma’ruf katanya.
FPI – Front Pembela Islam konvoi lagi, sweeping lagi.
Nakutin saya aja. Tampangnya sangar, naik motor rombongan, menguasai jalan, gak pake helm, di suratkabar dibilang gak bawa STNK, ada fotonya, dikawal polisi bermotor trail yang tak kalah sangarnya, bawa senjata segala.
Amar ma’ruf nahi mungkar, begitu alasan mereka waktu menolak ditilang. Nyaris bentrok dengan polisi lalu lintas.
Saya senyum-senyum mbacanya, sejujurnya nyukurin. Rasain!
Saya gak mungkin mewakili banyak orang soal ketenangan berkehidupan. Saya bersikap normal saja, merasa terganggu dengan perilaku yang memang menurut saya mengganggu.
Ya, sama saja terganggunya saya dengan petasan yang dinyalakan saat sahur, atau dengan kebiasaan pengendara meludah dari kendaraan yang sedang berjalan atau dengan perilaku konvoi-brutalnya komunitas black (yang disponsori produk rokok itu). Pasti saya maki-maki (walaupun dalam hati, gak apalah, paling dosa dikit).
MUI masih ada ya? Sweeping dan konvoi-nya FPI itu apa gak bisa di-fatwa haram aja? Kan nakutin orang? Mosok cuma aliran yang gak pake kekerasan aja yang difatwa haram?
Apa gak bisa beragama tanpa nakutin orang lain?
Kalau begini, mana yang amar ma’ruf, mana yang nahi mungkar, sih?

Malam sebelumnya (10/10) saya sempat dapat SMS dari Roy Suryo yang menanyakan nomor ponsel Kapoltabes atau Wakapoltabes Samarinda berkaitan dengan "bertemunya" polisi dan konvoi FPI. SMS dikirim jam 18:52wib. Entah dia dapa info darimana terjadinya "pertemuan" yang jadi berita kemarin itu. Setelah saya berikan nomornya, dia katakan memberikan dukungan kepada tindakan pak Waka. Apakah DetikCom meliput langsung ya waktu itu? Saya belum menemukan sumber info yang dibaca oleh si Roy Suryo ini. (Comment this)
heheh.
(Comment this)