06 of Maret, 2007

saya pindah..

 

tadinya saya tidak percaya..
bahwa blog.com makin melambat..

ternyata, saya baru menyadari..
melambatnya blog.com ternyata juga berkontribusi pada 
kemalasan saya untuk menulis...

karenanya, saya pindah saja ke
http://priyandoko.blogspot.com

mudahan saya lebih produktif disana.. 

Posted by Panthom at 10:01:20 | Permanent Link | Comments (0) |

26 of Januari, 2007

The Art of Facilitation vs The Vibrant Facilitation

"Januari hampir berlalu, namun di-blog-mu masih satu.  Nulis lagi dong....."

Itu komentar pendek dari Joko.  Karena tidak mencantumkan alamat emailnya, saya berasumsi si Joko ini adalah Joko Waluyo, teman lama saya,  yang sekarang memilih berkonsentrasi di Pontianak. 

Joko mengingatkan saya kepada sebuah pertemuan di Sulawesi Tenggara dimana saya jadi tandem-nya.  Sepanjang hari fasilitasi,  saya dan Joko seringkali saling adu ungkit tentang kelebihan paket training yang pernah kami ikuti.  Maklumlah, kami sama-sama alumni training Inspirit Innovation Circles yang dimotori Dani & Budshi itu.  Joko alumni training dengan judul Vibrant Facilitation, sedangkan saya alumni training dengan judul The Art of Facilitation.

Adu ungkit kami lakukan dengan ketawa-ketiwi tentunya.  Maklumlah kami kawan lama yang pernah berkomunikasi erat saat aktif dalam beberapa jaringan NGO dulu.  Paket fasilitasi Inspirit-lah yang membuat kami bertemu kembali.

Joko merendahkan saya.  Metode fasilitasi saya tak menggetarkan hati, katanya.  Saya tak beda, Joko saya anggap tak memiliki jiwa fasilitasi, hanya alumni training berjudul The Art of Facilitation –lah yang mampu menangkap jiwa fasilitasi yang sesungguhnya.  Sedikit saja kami membuat kesalahan, kami pasti akan saling olok.  Sekali lagi, dengan ketawa-ketiwi tentunya.

Walaupun sempat jengkel dengan gaya Joko yang enggan menyiapkan panduan fasilitasi untuk esok hari (yang kemudian membuatnya gelagapan dalam saat fasilitasi esok harinya), saya berhasil menangkap makna yang dalam sebagai hasil ber-tandem dengannya.

Saling olok soal paket training Vibrant ataupun The Art of Facilitation dan realita dalam pertemuan di Sultra itu membuka pikiran saya, bahwa perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya tak bermakna apapun jika si pengucap tak benar-benar ditakdirkan untuk menjiwai apa sebenarnya fasilitasi itu. 

Saat ini saya bergabung dalam milis VibrantCommunity, sebuah milis yang member-nya adalah alumni training Inspirit Innovation Circles.  Tak peduli judul training apa yang pernah para member itu ikuti, yang penting punya email, dan mau.  Dani, sang penggagas rupanya diam-diam ingin mengubur perbedaan judul-judul training yang pernah ia ciptakan itu.  Ini by design, bukan kecelakaan.  Bukan begitu, Dan?

Saya percaya dengan bakat, talenta, dan kemauan.   Jadi, seribu kali training fasilitasi bisa kita ikuti, seribu judul training fasilitasi pula kita tamatkan, jika tidak ada bakat dan kemauan itu, lebih baik memilih ketrampilan yang lain saja.

Joko, kamu Vibrant, aku The Art of Facilitation, yang lain Dynamic Vacilitation, dan yang lain lagi The Art of Dynamic Vibrant Facilitation.  Bedanya apa?  Menurutku bedanya ada pada inspirit-nya.  Seberapa dalam kita mengimaninya?

Tengkyu, Jok.  Kapan main ke Samarinda? 

Posted by Panthom at 14:13:24 | Permanent Link | Comments (1) |

04 of Januari, 2007

solidaritas & kesetiakawanan sejati

Tanggal 3 januari 2007 pagi, handphone saya berbunyi saat saya masih di atas sepeda motor, mendekati kantor. Pikiran saya memerintahkan untuk segera memeriksanya. Benar saja, telepon dari Nunuk Kasyanto, teman saya, yang Bapaknya sedang sakit itu. Tumben, pagi ini dia telepon saya. “Berita duka, Bapak sudah gak ada”, begitu ia bilang pelan.

Dalam hitungan detik, Handphone saya kembali berbunyi, untuk kali kedua, saya menghentikan sepeda motor untuk memeriksa. Begitu juga pada menit ke 5 setelah itu. Sehari ini saya menerima setidaknya 6 telepon dengan isi yang sama, berita duka, Bapaknya Nunuk berpulang.

Sambil berniat memberitahukan berita duka ini, saya coba telepon kawan-kawan yang saya kenal cukup dekat dengan Nunuk. Dari 7 panggilan yang saya lakukan, 5 diantaranya sudah mengetahui berita ini. Saya kagum dengan kecepatan berita ini, tentu semangat solidaritas ada di dalamnya.

Seorang teman, memutuskan untuk kembali ke Samarinda, padahal ia sedang menempuh perjalanan lebih dari 120km menjauh dari Samarinda. Ia memutar balik sepeda motornya, untuk menemani Nunuk melewati hari duka ini.

Seorang teman lain, memutuskan menunda perjalanan tugasnya, padahal ia tau pekerjaannya dinanti banyak orang. Ia memilih menemani Nunuk melewati hari dukanya. Ia lakukan ini untuk turut berbelasungkawa atas duka itu.

Seorang teman lain, rela meneruskan semua SMS perkembangan pengurusan jenazah kepada semua kawan-kawan yang tak bisa datang langsung melayat. Ia lakukan itu untuk menambah dukungan meringankan beban duka Nunuk.

Seorang teman lain, dengan sigap membantu mengorganisir rencana perjalanan membawa jenazah ke kota Solo. Menghubungi travel agent, rumah sakit, maskapai penerbangan, sampai terakhir malam ini saya dengar sebuah biro jasa akan digunakan untuk urusan ini. Ia mintakan ijin mobil kantor untuk membantu mengantar Nunuk besok menuju Balikpapan, untuk bertolak bersama jenazah ke Solo. Ia lakukan ini untuk meringankan pikiran Nunuk yang sedang berduka.

Saya terima berita, banyak kawan-kawan yang menyempatkan diri datang melayat ke rumah duka. Malam ini, saya telepon seorang teman, mereka semua sedang berkumpul di rumah Nunuk. Mereka lakukan itu untuk menghibur Nunuk dari dukanya.

Kecepatan beredarnya berita dan ketulusan kawan-kawan Nunuk, didasari oleh rasa solidaritas, apapun latar belakangnya. Tidak ada manfaat apapun dari Nunuk yang akan mereka terima atas jerih payah itu. Nunuk bukan orang yang bisa membalas semua bantuan itu secara langsung.

Satu jam lalu, saya telepon Nunuk. Bukan kehadiran fisik yang dibutuhkan, bukan? saya mengawali percakapan via telepon sekaligus men-justifikasi ketidakhadiran saya saat ia dalam duka. Maaf, kualitas perkawanan saya tidak setebal kawan-kawan itu. Nunuk hanya tertawa. Sudah encer tawanya. Kawan-kawan itu sudah berhasil menjalankan fungsi mereka. Itu gunanya berkawan.

Selamat Jalan, Bapak. Pasti bahagia bisa bertemu Ibu disana.

Selamat datang solidaritas dan kesetiakawanan sejati. 

Posted by Panthom at 01:08:31 | Permanent Link | Comments (3) |

23 of Desember, 2006

menjadi lebih baik

Saya menemukan beberapa perubahan pada beberapa kawan. Dengan positif pikir, saya menganggap ini adalah awal dari perubahan menuju sebuah kebaikan.

Beberapa kawan lain, seperti biasa, menganalisis bahwa perubahan menjadi lebih baik ini, hanya perubahan sesaat, yang akan kembali pada posisi semula, dalam waktu dekat. Saya bukan tidak sependapat. Saya lebih memilih untuk melihatnya sebagai sebuah reaksi positif, tanpa menambahkan ukuran waktu di dalamnya. Bahwa kemudian tidak akan bertahan lama, saya tidak ingin menjadikannya sebagai bahan pembicaraan. Tidak terlalu bermanfaat buat saya.

Saya sendiri sedang terus mencoba untuk berubah menjadi lebih baik. Bukan perkara mudah memang, tapi harus dicoba.

Tantangan terberat saat mencoba berubah untuk menjadi lebih baik, atau mudahnya sebut saja memperbaiki, adalah memulihkan kepercayaan dari mereka yang pernah menerima dampak atas perilaku saya terdahulu. Sekali lancung ke ujian, selamanya tak dipercaya, mungkin pepatah ini yang harus saya hadapi.

Sekali lagi, tidak mudah untuk berubah menjadi lebih baik, tetapi jauh lebih sulit untuk berpura-pura menutupi kekurangan. Setidaknya itu buat saya.

Salut untuk anda yang telah memutuskan untuk berubah, menjadi lebih baik.

Posted by Panthom at 02:07:51 | Permanent Link | Comments (2) |

reward & punishment

Adalah hal yang mudah untuk mengucapkan kata “penghargaan” (reward) dan “sanksi” (punishment). Bagi anda yang saat ini menempati posisi sebagai pengambil keputusan, dua kata ini bagaikan menu siap saji yang setiap saat harus anda pilih untuk bawahan anda. Sedangkan bagi anda yang berposisi sebagai bawahan, dua kata ini bagai siang dan malam yang memang harus anda lalui. Persoalannya, bagi kita semua, bagaimana mengaplikasikan dan memaknai dua kata ini dalam pekerjaan?

Buat saya, dalam konteks tulisan ini, tak soal bagaimana bentuk penghargaan dan sanksi akan diterima. Isu utama saya adalah bagaimana kedua hal ini bisa diterima, apa dampaknya?

Motivasi, itu sesungguhnya yang menjadi kunci dalam reward dan punishment. Bagi mereka yang menerimanya, setidaknya ia diminta untuk memperbaiki, sehingga ia tak lagi menerima punishment atau ia diminta untuk mempertahankannya jika ia menerima reward. Bagi komunitas di sekelilingnya, peristiwa ini akan menjadi motivasi, untuk tidak melakukan hal yang sama jika itu tentang punishment, dan motivasi untuk setidaknya melakukan hal yang sama jika itu soal reward.

Melihat dampak yang ingin dicapai dari sebuah pemberian reward dan punishment, tentu bukanlah sebuah hal yang berlebihan bila kehati-hatian dibutuhkan untuk merencanakannya.

Menjatuhkan punishment dengan dasar dan perhitungan yang tak jeli, hanya akan menebarkan ketakutan dan membunuh kreatifitas. Begitu pula memberikan reward dengan perhitungan yang dangkal, akan merendahkan si penerima dan juga pemberi.

Karena itu, lakukanlah perhitungan yang cermat dalam menjatuhkan punishment dan memberikan reward. Gunakan parameter yang tepat dan sesuai dengan aturan yang selama ini dianut. Kreatif juga dibutuhkan untuk menemukan inovasi yang selama ini belum tercover dalam aturan yang dianut. Tetapi, melampaui strech zone dalam teori kreatifitas, hanya akan membuat --sekali lagi-- si pemberi dan si penerima nampak konyol.

Sejatinya, siapa korban dalam kasus menghukum orang yang tak bersalah atau memberikan reward pada prestasi yang salah? Seharusnyalah, kita bertanggungjawab atas dampak dari apa yang telah kita kerjakan.

Secermat apa kita memberikan reward dan punishment?

Posted by Panthom at 01:59:43 | Permanent Link | Comments (1) |

08 of Desember, 2006

kualitas percakapan

Bagaimana menjadikan diskusi, percakapan dan obrolan menjadi lebih berkualitas?
Bagaimana meningkatkan kemampuan untuk menangkap makna yang tersirat dari kalimat yang tersurat?
Bagaimana mengasah kepekaan diri untuk lebih menghargai teman diskusi?
Bagaimana meningkatkan kualitas artikulasi agar kawan bicara dapat menangkap dengan mudah maksud yang ingin kita sampaikan?

Bukan perkara mudah, memang. Tetapi bukan juga hal yang sulit, jika anda memang berniat melakukannya.

Ini sedikit tips yang saya dapat selama ini. Sebagian diperkuat saat saya bergabung dengan kawan-kawan INSPIRIT Innovation Circles (thanks to Dani,
Budhsi, dan yang lainnya). Belum tentu manjur, tetapi silahkan dicoba:

Pertama, periksa sampai dimana kemampuan dan kualitas bicara anda. Penting untuk mengetahui sejauh mana anda mampu berbicara dengan baik. Caranya, terbukalah pada kawan dekat anda. Minta ia menilai kualitas kemampuan bicara anda. Hindari meminta penilaian pada orang yang takut dan punya hutang budi pada anda. Karena anda hanya akan mendapat pujian palsu belaka.

Kedua, pahami benar apa yang ingin anda sampaikan. Jika anda sendiri belum memahami benar gagasan anda, jangan bermimpi orang lain akan memahami apa yang anda sampaikan.

Ketiga, gunakan bahasa sederhana. Kebanyakan kita sering memilih kata-kata asing hanya dengan tujuan untuk membuat orang lain terpesona. Padahal, yang sesungguhnya terjadi justru kawan bicara kita samasekali tidak memahami maksudnya. Cobalah berani untuk menggunakan bahasa yang sangat sederhana, sering digunakan dan sesuai dengan daya tangkap kawan bicara.

Keempat, bertanyalah. Bagi sebagian besar orang, bertanya identik dengan keterbelakangan. Buang asumsi itu, dan bertanyalah pada saat anda berdiskusi. Dengan bertanya, anda akan mengetahui lebih banyak arena diskusi/obrolan yang anda hadapi. Dengan bertanya, anda dapat mengukur kualitas kawan bicara anda. Jangan pernah takut untuk menanyakan istilah-istilah sederhana yang tidak anda ketahui. Percayalah bahwa dengan menanyakannya, justru anda akan lebih dihargai, ketimbang anda salah mengartikannya.

Kelima, dengarkanlah. Kegagalan utama dalam diskusi atau percakapan adalah keengganan anda untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh kawan bicara anda. Kecenderungannya, anda sibuk dengan pikiran dan gagasan anda sendiri, dan meminta kawan bicara anda untuk mendengarkan. Sadarilah bahwa mendengarkan adalah bagian dari cara anda menghargai kawan bicara anda.

Keenam, simaklah. Mendengar saja tidak cukup. Perhatikan dengan seksama urutan kalimat kawan bicara anda. Pahami benar makna dan maksud yang terkandung dalam setiap baris kalimat yang ia sampaikan. Terkadang kawan bicara kita terlalu berbelit-belit saat menyampaikan gagasan pendek. Jangan tertipu dengan kalimat-kalimat panjangnya, temukan inti dari pembicaraannya. Bertanyalah jika anda merasa ada bagian yang tidak anda pahami, jangan dahulukan asumsi anda.

Ketujuh, gunakan bahasa tubuh yang tepat. Apapun yang anda sampaikan, tidak akan berarti apa-apa jika bahasa tubuh anda bertolak belakang dengan apa yang anda sampaikan. Gunakan bahasa tubuh yang menunjukkan apresiasi anda pada kawan bicara anda. Ada banyak buku yang menjelaskan ketrampilan bahasa tubuh ini. Jangan ragu untuk mencari dan membacanya.

Kedelapan, berpikirlah positif. Yang dimaksud dengan berpikir positif adalah menaruh kawan bicara anda pada posisi setara dan percaya bahwa anda dan dia bisa saling mengisi dan menemukan titik terang dalam setiap isu pembicaraan. Yakinkan diri anda bahwa pembicaraan yang sedang anda lakukan dilandasi oleh kesamaan tujuan pembicaraan (ingat, bukan kesamaan tujuan kegiatan atau prinsip-prinsip), yaitu menemukan titik terang. Berpikir positif tidak sama dengan setuju dengan apa yang disampaikan oleh kawan bicara anda.

Ada beberapa faktor lain yang juga berpengaruh pada kualitas percakapan. Pada dasarnya, semakin anda peduli dengan kualitas proses dan hasil sebuah percakapan anda, maka seharusnya anda semakin peka terhadap faktor-faktor itu. Maka, semakin tinggi keinginan anda untuk memperbaikinya.

Selamat berdiskusi.

Posted by Panthom at 22:40:12 | Permanent Link | Comments (0) |

09 of November, 2006

santun

Ini kejadian baru saja, pembicaraan saya yang berada di Sengata, Kutai Timur, via telepon dengan seorang staf kantor departemen pemerintah di Jakarta. 
 
Saya:     “Selamat Siang, saya ingin kirim fax permintaan menjadi narasumber dalam Lokakarya ………(males nyebutin disini)”.
Staf itu: “Berapa lembar fax-nya?”
Saya:     “Surat beserta TOR, sebanyak……..(belum selesai bicara)”
Staf itu: “Wah, fax kami gak kuat kalau terima fax banyak-banyak, apalagi TOR, pasti banyak, kan?”.
Saya:     “Ini fax untuk Kepala Biro …….(males saya sebutin), pimpinan Anda.  Bagaimana caranya agar saya Kepala Biro bisa menerima segera?”
Staf itu: “Ah, gimana ya, saya gak tau juga caranya, kirim aja lewat pos”
Saya:     “Jumlahnya hanya 4 lembar saja”
Staf itu: ”Kalau cuma 4 lembar bisa”
Saya:     ”Terima kasih, bisa saya tau nomor fax-nya?”
Staf itu: ”...........................(menyebutkan nomornya)”
Saya:     ”Akan saya kirim segera.  Maaf, dengan siapa saya bicara?”
Staf itu: ”................(menyebutkan nama)”
Saya:     ”Terima kasih, selamat sore”
Staf itu: ”.....................(tidak membalas salam, menutup telepon)”
 
Fax-pun dikirim, sekali terputus, kiriman kedua lancar, 5 lembar termasuk cover page terkirim dengan sukses (saya tipu dia 1 halaman).
 
Lagi-lagi saya harus berfikiran positif.  Mungkin mesin fax Departemen ternama di Jakarta itu sedang tidak prima.  Mungkin juga toner-nya habis.  Mungkin juga mood-nya si petugas itu sedang tidak bagus.
 
Tapi, rasanya bukan berlebihan kalau saya bilang bahwa secara etika perilaku staf pegawai pemerintah itu jauh dari santun.
 
Mudahan staf itu hanya sedang diburu tengat waktu laporan saja.

 

Posted by Panthom at 17:08:08 | Permanent Link | Comments (1) |

28 of Oktober, 2006

jadwal kematian


Ade Fadli bicara soal kematian pada satu tulisan blog-nya. Membuat saya teringat satu kejadian di hari ini.  

Hari ini, dalam perjalanan Samarinda-Balikpapan, dari jarak 20 meter, saya menyaksikan ajal seorang pengendara sepeda motor melayang dengan mudahnya. Dua detik sebelumnya, saya masih melihatnya bernyawa, di atas sepeda motornya.

Ia adalah seorang pengendara yang melaju -mungkin- dengan kecepatan lebih dari 80 km per jam, mendahului mobil di depannya, di tikungan, melewati garis pembatas jalan, lalu membentur pick-up yang muncul berlawanan, searah mobil saya, berkecepatan 60 km per jam -itu yang ditunjukkan oleh penunjuk kecepatan mobil saya, sedetik saya lirik sebelum saya kembali berkonsentrasi pada kepadatan lalu lintas jalan raya itu. Dari benturannya, saya menduga, si pengendara sepeda motor tak sempat menginjak pedal rem-nya. Saya merasa perlu menelepon sesaat setelah benturan itu. Untuk menguatkan hati, menguatkan pikiran saya. Saya beruntung mendapat tambahan kekuatan seusai menelepon.

Satu nyawa berpulang tadi siang. Saya hanya berfikir, ia mungkin memilih cara kematiannya, sesuai jadwal yang telah ditentukan. Semudah itu kematian datang, tergantung bagaimana kita memilihnya, sesuai jadwal tentunya.

Saya tak membawa kamera, T610 saya mengabadikan kemalangan itu. Dua detik sebelum benturan, saya masih melihatnya bernyawa.

 

Posted by Panthom at 04:56:59 | Permanent Link | Comments (5) |

23 of Oktober, 2006

sms kolosal lebaran

Sonny Ericsson T610 & Ericsson R520m saya berbunyi puluhan kali hari ini.  Bunyi khas jika ada SMS masuk.  Isinya senada, ucapan selamat lebaran dan mohon maaf.  Beberapa diantaranya menyertakan puisi pendek, atau sekedar pantun bernada humor.  Bahkan satu SMS menyertakan gambar kartun.  Notebook saya yang terhubung dengan dua ponsel saya itupun gagal menterjemahkan kartun itu.

Diantara puluhan SMS itu, ada dua yang secara khusus menyebut nama saya, atau setidaknya menyebut panggilan akrab sehari-hari.  Saya merasa SMS itu hanya untuk saya, bukan SMS kolosal.  Satu diantaranya dari Rudi, berbunyi “selamat lebaran bos, aku mudik ke kalsel”.  Si orang aneh satu ini memang kerap memanggil saya dengan sebutan “bos”.  Sama juga saya kepada dia.  Saya tersanjung, merasa ia hanya mengirim SMS itu kepada saya.  Mudahan.

Sewaktu N9210 saya masih sehat, bukanlah sesuatu yang sukar bagi saya untuk mengirimkan SMS pada puluhan kawan-kawan saya.  Tinggal mengetik SMS, pilih nama-nama kawan, lalu kirim.  SMS akan terkirim dengan sendirinya, saya bisa tinggalkan, bahkan tidur.  Besok pagi tinggal check mana nomor yang ”failed”.  Bahkan, saya dapat mengatur kapan si SMS dikirimkan.  Jam, Tanggal, Bulan, bahkan Tahun.  Fitur N9210 saya kala itu memudahkan semua perilaku praktis saya.

SMS kolosal, begitu saya menyebut puluhan SMS yang seragam dikirim kepada semua orang atau nama atau bahkan nomor yang ada pada handphone.  Beberapa handphone memang memiliki fitur yang memudahkan itu semua.  Atau dengan terhubung pada notebook, perilaku itu memang jauh lebih mudah difasilitasi.  Teknologi memudahkan itu semua.

Tiga tahun lalu, saya mengakhiri perilaku praktis itu, karena merasa tidak menghormati mereka yang saya kirimi SMS.  Saya merasa seperti membagi-bagikan fotocopian selebaran secara random, atau mengirim email yang sama untuk semua alamat email yang ada pada address book saya.  Isinya sama, format sama, bahkan nyaris tanpa “jiwa”.

Barusan masuk lagi SMS yang bernada kolosal.  Saya tidak mau terlarut dalam pikiran negatif.  Saya lihat si pengirim adalah kawan baik saya, teman memancing yang sekarang bekerja untuk sebuah kontraktor pertambangan.  Saya balas sambil becanda ”Lebaran gini masih mikir mancing, gak?”.

Saya harus berfikir bahwa ia mengirim SMS itu khusus untuk saya.  Setidaknya saat ia memilih nama atau nomor saya yang ada di HP-nya.  Ia pasti tulus menyampaikan ucapan selamat lebaran itu.  Ia juga pasti dan sangat tulus menuliskan permintaan maaf itu.  SMS itu pasti ”berjiwa”.  Saya harus berfikiran positif.

Posted by Panthom at 01:42:27 | Permanent Link | Comments (1) |

11 of Oktober, 2006

FPI, amar ma’ruf katanya.

FPI – Front Pembela Islam konvoi lagi, sweeping lagi.

Nakutin saya aja.  Tampangnya sangar, naik motor rombongan, menguasai jalan, gak pake helm, di suratkabar dibilang gak bawa STNK, ada fotonya, dikawal polisi bermotor trail yang tak kalah sangarnya, bawa senjata segala.

Amar ma’ruf nahi mungkar, begitu alasan mereka waktu menolak ditilang.  Nyaris bentrok dengan polisi lalu lintas.  

Saya senyum-senyum mbacanya, sejujurnya nyukurin.  Rasain!

Saya gak mungkin mewakili banyak orang soal ketenangan berkehidupan.  Saya bersikap normal saja, merasa terganggu dengan perilaku yang memang menurut saya mengganggu.

Ya, sama saja terganggunya saya dengan petasan yang dinyalakan saat sahur, atau dengan kebiasaan pengendara meludah dari kendaraan yang sedang berjalan atau dengan perilaku konvoi-brutalnya komunitas black (yang disponsori produk rokok itu).  Pasti saya maki-maki (walaupun dalam hati, gak apalah, paling dosa dikit).

MUI masih ada ya?  Sweeping dan konvoi-nya FPI itu apa gak bisa di-fatwa haram aja?  Kan nakutin orang? Mosok cuma aliran yang gak pake kekerasan aja yang difatwa haram?

Apa gak bisa beragama tanpa nakutin orang lain?

Kalau begini, mana yang amar ma’ruf, mana yang nahi mungkar, sih?

Posted by Panthom at 14:59:09 | Permanent Link | Comments (6) |